
Fabian dan melati mengajak Wanda ke sebuah mall. Mereka memang sesekali mengajak ibunya itu sekedar jalan-jalan keluar agar ibunya tidak stress di rumah. Kesehatan Wanda sudah lama membaik berkat jasa Melati yang menjadi pengurusnya dulu sebelum menikah dengan Fabian.
"Vio," panggil Wanda.
Sedangkan dari arah lain, Fabian mengejar Wanda. Dia takut ibunya tersesat. "Mama," panggil Fabian.
Fabian berjalan mendekat. Rupanya Violet ada di sana. "Kenapa kamu tidak menyapaku?" tanya Fabian ketika sudah berada di hadapan Violet.
Walau hanya bertemu sekali, tapi Fabian sangat ingat wajah Violet yang mirip dengan Jingga. Mata Vio berkaca-kaca. "Aku kira papa lupa padaku," jawab Vio.
"Benarkah kamu Violet?" tanya Wanda yang tidak percaya kalau cucunya masih hidup. Dulu ketika Adli mengajaknya ke rumah Fabian, dia tidak sempat bertemu dengan Wanda. Violet mengangguk.
Wanda menangis sambil memeluk Vio. "Syukurlah kamu masih hidup," ucapnya di sela-sela tangisannya.
"Mas," panggil Melati.
"Vio, kami pulang dulu," pamit Fabian mengajak ibunya.
"Mama ingin pulang bersama cucu mama," tolak Wanda.
Fabian menghela nafas berat. Dia menoleh pada Melati untuk meminta pendapat dalam diam. Melati mengangguk. "Vio bisakah kamu mengantarnya pulang nanti?" tanya Fabian.
"Baik, Pa. Akan aku antarkan pulang," jawab Violet.
Setelah itu, Fabian dan Melati meninggalkan Wanda pada Violet. "Nek, kita cari tempat duduk ya." Vio mengajak Wanda ke sebuah kafe yang tak jauh dari sana.
"Vio, bagaimana kamu selamat?" tanya Wanda to the point.
"Aku diselamatkan oleh seseorang ketika aku hanyut di sungai," jawab Violet.
"Lalu kenapa kamu tidak bisa langsung pulang?" tanya Wanda.
"Waktu itu usiaku masih kecil, Nek. Aku tidak tahu di mana alamat rumahku. Ternyata orang yang menyelematkan aku juga bukan orang baik. Dia menyiksaku setiap hari," jawab Vio dengan nada sendu.
"Malang sekali nasibmu, Nak. Andai saja saat itu kamu tidak jatuh ke sungai mungkin kita tidak harus terpisah selama belasan tahun," ucap Wanda.
Vio dan Wanda mengobrol cukup lama. Tanpa mereka sadari seseorang menguping sedari tadi. Setelah dirasa puas mendengar obrolan mereka, wanita itu pun bangun dari tempat duduknya.
__ADS_1
Violet mengantar Wnada mengunakan taksi. Dia langsung pamit setelah memastikan Wanda turun dengan selamat. "Jangan lupa sering-sering kunjungi nenek ya Vio!"
"Baik, Nek." Vio melambaikan tangan pada neneknya.
Setibanya di rumah Helmi, Mario menyambut kedatangan keponakannya itu. "Kamu dari mana Vio? Kenapa tidak mengabari kalau kamu mau pergi?"
"Maaf, Om. Aku lupa. Tadi aku menggantikan bibi berbelanja lalu tak sengaja aku bertemu dengan nenek dan papa. Aku mengobrol dengan nenek cukup lama hingga lupa waktu. Maafkan aku, Om."
Mario menghela nafas. "Lain kali kabari jika kamu ingin pergi," ucap Mario dengan lembut. Violet mengangguk paham.
Tiba-tiba ponsel Violet berbunyi. Panggilan video dari Danzel masuk. "Om, aku angkat telepon dulu ya," pamit Violet.
"Ada apa menghubungiku?" tanya Violet dengan ekspresi wajah cuek.
"Ada apa? Tentu saja karena aku rindu padamu," jawab Danzel sekenanya.
"Jangan keras-keras. Orang lain akan salah paham," ucap Violet setengah berbisik. Danzel malah tertawa.
"Kapan-kapan kita jalan yuk! Sekalian omongin desain restoran kamu," bujuk Danzel.
"Tumben nggak nolak," ledek Danzel. Violet malah terkekeh.
"Memangnya aku pernah menolak kamu?" goda Vio.
"Sering," jawab Danzel. Lagi-lagi Violet tertawa. Dari sekian banyak laki-laki yang dekat dengannya hanya Danzel yang sering membuatnya tertawa selebar itu.
"Kamu kalau tertawa begitu aku jadi gemes deh, pengen nyubit," ucap Danzel di saat Vio belum berhenti tertawa.
"Sini cubit aja kalau bisa." Lagi-lagi Vio tertawa sampai perutnya sakit.
"Awas ya kalau ketemu besok. Aku cubit pipi kamu sampai merah, tapi bukan pakai tangan," kata Danzel.
"Pakai apa?"
"Pakai ini." Danzel menunjuk bibirnya seketika wajah Vio memerah. Vio pun mematikan panggilan. Danzel terkejut sesaat kemudian dia tertawa.
"Menyenangkan sekali menggoda dia," gumam Danzel sambil memandang ponselnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian Danzel mendapatkan panggilan dari neneknya. Danzel malas sekali mengangkat tapi dia terpaksa. "Ada apa, Nek?" ucap Danzel ketika dia mengangkat telepon.
"Dasar anak tidak tahu diri. Ke mana saja kamu ini? Pulang dari luar negeri tidak pernah mengunjungi nenekmu. Kamu mau dapat warisan apa tidak?" ancam sang nenek.
"Aku masih sibuk, Nek. Banyak proyek yang harus aku kerjakan," jawab Danzel beralasan.
"Danzel, kapan kamu menikah? Nenek ingin melihat kamu menikah sebelum nenek mati."
"Jangan bicara seperti itu, Nek. Nenek masih muda mana mungkin mati dalam waktu dekat." Danzel mencoba menghibur neneknya.
"Justin juga sama denganmu. Kapan dia akan meresmikan hubungan dengan kekasihnya itu. Aku menyukai gadis itu, tapi Justin tidak pernah mengajaknya kemari."
"Nek, ada panggilan masuk. Aku jawab dulu. Sampai ketemu nanti, Nek." Danzel memutuskan panggilannya secara sepihak.
Dia bernafas lega karena tidak harus menanggapi obrolan neneknya tentang hubungan Justin dan Violet. Rupanya sang nenek belum tahu kalau mereka sudah putus.
Di tempat lain, Sabrina merengek pada ayahnya agar dipertemukan dengan Violet. "Pokoknya aku ingin bertemu mama sekarang." Sabrina merajuk.
"Mama Vio sedang sibuk sayang, dia tidak bisa diganggu. Kamu main ke kantor papa saja ya," bujuk Justin. Sebisa mungkin dia tidak emosi ketika anaknya merengek padanya.
"Pa, aku kangen sama mamaku."
Justin hampir hilang kesabaran. "Baik, papa akan bawa kamu menemui mamamu."
Saat itu Danzel datang dengan membawa kue kesukaan Sabrina. Namun, dia melihat Justin menarik Sabrina dengan paksa ke mobilnya sambil menangis. Danzel pun mengikuti mobil Justin. Dia penasaran ke mana kakaknya itu akan membawa keponakannya.
Ternyata Justin berhenti di sebuah pemakaman. Danzel mengira Justin membawa Sabrina ke makam ibunya. "Memang sudah sepatutnya anak itu tahu kalau ibunya sudah berada di surga," gumam Danzel di dalam mobil.
"Papa ngapain kita ke sini?" tanya Sabrina.
"Ini makam mama kamu," jawab Justin sambil berjongkok. "Aku datang bersama anak kita," ucap Justin di depan pusara almarhumah istirnya. Sabrina seketika menangis.
"Mama."
"Iya, mama kamu sudah meninggal setelah melahirkan kamu." Justin mengucapkan kalimat itu dengan berat hati. Namun, dia melakukan itu agar Sabrina tidak merengek meminta bertemu lagi dengan Violet. Justin sadar kalau mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Dia sungkan untuk meminta Violet datang ke rumah sekedar menemani putrinya.
"Mulai sekarang Sabrina harus sering doain mama. Papa dan Tante Violet sudah berpisah karena sama-sama sibuk. Jadi Sabrina tidak boleh lagi merengek meminta bertemu dengannya, mengerti?" Justin memberikan pengertian pada anaknya itu. Sabrina mengangguk paham.
__ADS_1