Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Kode


__ADS_3

Adli berdiskusi dengan Rizky, sang adik tentang rencana pernikahan ayahnya. "Apa kamu setuju jika wanita sialan itu menikah dengan papa? Kalau aku tidak sudi memanggil dia dengan sebutan mama."


"Aku tahu kamu benci pada Karin. Tapi ingat Karin adalah ibunya Mario. Pastinya Mario akan senang jika dia bisa tinggal satu atap dengannya." Dibanding Adli, Rizky ternyata lebih bijak memikirkan hal itu.


"Tapi apa kamu lupa kalau dia bukan wanita baik-baik?" tanya Adli.


"Lalu apa kamu akan menentang keputusan papa?" tanya balik Rizky.


"Pasti ada cara untuk menggagalkan pernikahan mereka," ucap Adli. Kemudian Adli pun memerintahkan seseorang untuk mengikuti Karin. Dia ingin mencari tahu apa saja yang dilakukan wanita itu saat di luar.


Benar saja, Karin sedang makan berdua di sebuah restoran bersama dengan seorang laki-laki yang tidak dikenal. Kemudian orang suruhan Adli mengirim foto tersebut.


Tak hanya itu, usai dari restoran ternyata Karin dan laki-laki itu check out di sebuah hotel. Lagi-lagi orang suruhan Adli memotret moment tersebut. Adli tersenyum senang karena menemukan alasan agar ayahnya tidak tertipu lagi dengan mantan istrinya itu.


Adli menyerahkan bukti itu pada ayahnya. "Apa ini?" tanya Helmi.


"Papa lihat secermat mungkin." Helmi melihat foto-foto yang memuat Karin dengan laki-laki lain.


"Aku tidak percaya pada semua foto yang kamu perlihatkan padaku. Papa tahu kami hanya ingin menggagalkan rencana pernikahan papa bukan?" tuduh sang ayah.


Adli tersenyum miring. "Baiklah, aku rasa otak papa sudah dicuci oleh wanita itu. Yang penting aku sudah mengingatkan papa. Kalau sampai papa menikahi dia jangan harap aku akan datang ke pernikahan papa," ancam Adli.

__ADS_1


"Tidak masalah. Kamu bukan wali papa tanpa kehadiran kamu papa akan tetap menikahi Karin," jawab Helmi.


"Sebenarnya apa yang menarik dari wanita itu, Pa?" tanya Adli penasaran.


"Kamu tidak akan mengerti," jawab Helmi.


"Apa yang tidak aku mengerti, Pa? Apa papa lupa aku juga seorang suami yang memiliki satu putri."


"Sudahlah jangan berdebat lagi. Sebaiknya kamu menyerah saja. Ini juga demi Mario," kata Helmi sambil menepuk bahu Adli pelan.


"Baik, aku tidak akan turut campur lagi. Tapi katakan pada calon istri papa itu jangan sekali-kali mengusik rumah tanggaku bersama Jingga. Karena aku tidak akan segan-segan untuk membalas lebih dari apa yang dia lakukan pada kami," ancam Adli. Setelah itu dia keluar dari kantor ayahnya.


Adli merasa kesal sehingga dia memilih pulang ke rumah. "Mas Adli tumben pulang lebih awal?" tanya Jingga saat menyambut kedatangan suaminya.


"Ya sudah biarin aja, Mas. Yang penting Mas Adli sudah menyampaikan kebenaran. Mengenai keputusan papa kita tidak bisa mencegahnya. Kita hormati saja karena beliau adalah orang tua kita. Toh papa yang akan menjalani semuanya jadi kita tidak perlu ikut campur."


Adli berpikir apa yang dikatakan istrinya itu ada benarnya. "Kamu benar sayang. Mulai sekarang aku akan lebih fokus pada kebahagiaan kita." Adli merangkul pinggang Jingga kemudian mencium keningnya.


"Kenapa tiba-tiba mencium kening?" tanya Jingga.


"Kode," jawab Adli singkat.

__ADS_1


"Kode apa?" tanya Jingga pura-pura tidak tahu.


"Kode kalau aku ingin sebuah kehangatan," jawab Adli sambil berbisik.


"Masih siang, udara di luar masih sangat terik. Memangnya Mas Adli meriang atau bagaimana kok butuh kehangatan?" gurau Jingga.


"Iya meriang. Merindukan kasih sayang," jawab Adli sedikit kesal karena istrinya itu tak mengerti juga.


"Nanti malam saja. Aku harus mengurus Violet. Tahu sendiri kan dia sedang belajar jalan jadi kalau tidak diawasi bisa bahaya," tolak Jingga secara halus.


"Aku akan menunggu sambil tiduran," jawab Adli.


"Mas makan siang dulu. Aku sudah masakin makanan kesukaan kamu."


"Baiklah sedikit saja," jawab Adli. Dia tidak sampai hati menolak ajakan istrinya. Apalagi Jingga khusus masakan kesukaan dirinya. Bukankah Jingga akan kecewa jika ditolak, pikir Adli.


Di tempat lain, Helmi mengecek sendiri kebenaran yang disampaikan oleh putra sulungnya. Helmi sengaja mengajak Karin ketemuan dan ingin meminta penjelasan dari wanita itu secara langsung.


"Ini bukan aku, Mas," elak Karin.


"Lalu siapa?" tanya Helmi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu bisa saja ini editan," tuduh Karin.


"Aku percaya sama kamu tapi sekali saja kamu merusaknya maka aku tidak akan segan-segan membuang kamu," ancam Helmi.


__ADS_2