Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Usaha yang tak sia-sia


__ADS_3

Jingga mengajak Violet ke rumah Mama Wanda. Dia berencana menghabiskan waktu setelah Violet pulang sekolah. "Kamu tahu saja kalau mama sedang kangen dengan cucu mama ini." Wanda menciumi pipi Violet yang gembul hingga anak kecil itu kegelian.


"Ma, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan mama," ucap Jingga.


"Ada apa?" tanya Wanda.


"Sebaiknya kita bawa Violet ke belakang dulu, biar dia main sama Mbak," usul Jingga. Wanda mengangguk setuju.


Setelah menyerahkan Violet pada asisten rumah tangganya, Wanda menemui Jingga. "Katakan, Jingga! Apakah ada hal serius yang ingin kamu bicarakan?" tanya Wanda.


"Ma, pernahkah mama berpikir untuk menikah lagi? Apa mama tidak kesepian?" tanya Jingga.


Wanda menghela napas. Sudah jelas jika wanita itu kesepian. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Wanda pada Jingga. Dia merasa ada yang aneh dengan Jingga hari ini.


"Apa kamu berniat menjodohkan mama dengan seseorang?" tebak Wanda. Jingga mengangguk. Wanda terkejut. Padahal niatnya hanya bercanda, tapi ternyata ditanggapi serius oleh Jingga.


"Bagaimana kalau mama menikah lagi dengan papa?" Wanda sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar usulan Jingga.


"Kamu gila? Aku tidak mau. Untuk apa menikah dengan laki-laki tua itu. Bukankah dulu dia yang menceraikan aku?" cibir Wanda.


Jingga menghela napas. "Bukankah papa menceraikan mama karena suatu alasan?" tanya Jingga balik.


Wanda pun tak bisa membela diri. Dia mengakui saat itu dia dicerai oleh Erik karena kepergok selingkuh. "Katakan! Apa ini keinginan dia?"


Jingga mengangguk menanggapi pertanyaan mantan ibu mertuanya itu. Wanda terduduk lemas. "Aku tidak menyangka setelah sekian tahun dia baru menerima aku kembali." Tiba-tiba Wanda meneteskan air mata.


"Papa melihat mama sudah banyak berubah. Papa ingin memperbaiki pernikahan kalian di masa lalu. Lagi pula tidak ada wanita yang bisa menggantikan mama di hati papa." Jingga sedikit melebih-lebihkan. Itu dilakukannya agar Wanda percaya akan ketulusan Erik.

__ADS_1


"Aku belum bisa menjawab. Lantas kenapa dia menyuruh kamu? Melamar seharusnya orang yang berkaitan. Bukannya orang lain yang harus datang meminta," sindir Wanda.


Jingga terkekeh. "Sebenarnya dia ingin mengungkap keinginannya ketika janjian dengan mama di restoran," ungkap Jingga. Wanda jadi merasa bersalah. Kemaren dia malah meninggalkannya sendiri di restoran.


"Saat itu aku bertemu Edward. Entah sejak kapan dia menikah, tapi dia ke sana dengan seorang wanita yang hamil besar seperti dirimu" jawab Wanda.


"Ma, jangan berhubungan lagi dengan laki-laki itu. Dia hanya memanfaatkan mama. Percayalah padaku. Dia sebelas dua belas dengan Axel. Axel itu tidak baik begitu pula saudara sepupunya." Jingga benar-benar tidak menyukai saat Wanda dekat dengan Edward.


"Tapi aku terlanjur jatuh hati padanya. Kami berhubungan sudah sangat lama."


"Tapi hubungan kalian tidak sehat, Ma. Kalau dia laki-laki baik, dia akan membawa hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius. Tapi ini tidak kan?"


Wanda berpikir sejenak. Dia masih mencerna ucapan Jingga. Setelah menyadari, ternyata dia sadar kalau Edward tidak tulus padanya. "Aku harus bagaimana?" tanya Wanda meminta pertimbangan Jingga.


Jingga menggenggam kedua tangan Wanda. "Beri papa kesempatan untuk menjadi pasangan mama sekali lagi. Kalian tidak perlu buru-buru menikah, mulailah dengan pacaran dulu," usul Jingga.


"Baik, Ma," jawab Jingga.


Ketika Jingga pulang dijemput oleh suaminya, dia menceritakan pada Adli kalau Mama Wanda bersedia kembali ke pelukan mantan suaminya. "Aku bersyukur kamu bisa membujuk Mama Wanda. Meski dia bukan ibuku, aku ikut bahagia," ucap Adli menanggapi cerita sang istri.


"Besok aku akan sampaikan pada papa," kata Jingga. Tapi Adli keberatan. Dia takut kandungan Jingga berpengaruh karena kecapekan.


"Sebaiknya hubungi lewat telepon saja, Yang. Aku tidak mau kamu kecapekan." Jingga tersenyum mendapat perhatian dari suaminya.


Jingga pun menuruti ucapan sang suami." Baik, Mas nanti aku akan telepon papa," jawab Jingga.


Sesampainya di rumah, Adli menggendong Violet yang sejak tadi tertidur dalam perjalanan pulang. "Dia semakin berat," keluh Adli.

__ADS_1


Jingga terkekeh. "Kamu harus banyak-banyak olahraga, Mas. Baru menggendong satu saja mengeluh. Bagaimana kalau yang dua udah lahir?" Jingga mengusap perutnya yang mulai membesar.


Setelah meletakkan Violet, Adli tiba-tiba memeluk istrinya dari belakang. "Kurang berapa bulan lagi mereka lahir?" tanya Adli.


"Sekitar empat bulan lagi, Mas," jawab Jingga.


"Kenapa lama sekali, aku sudah tidak sabar bermain dengan tiga anakku," ucap Adli.


"Mas ini ada-ada saja. Lebih baik sekarang Mas Adli mandi lalu beristirahat. Sudah malam sebaiknya cepat tidur. Aku pun mulai mengantuk." Jingga menguap tapi dia menutup mulutnya dengan tangan.


"Kamu pasti kecapekan." Adli mengusap rambut Jingga dengan sayang.


"Oh ya, mau aku buatkan teh hangat?" tawar Jingga.


"Boleh, letakkan saja di atas meja. Setelah itu kamu boleh tidur." Jingga mengangguk paham.


Setelah membuatkan teh hangat untuk suaminya, Jingga merebahkan diri di atas kasur. Namun, dia tidak bisa tidur karena dia kesulitan mencari posisi yang nyaman. Maklum saja mengandung dua bayi pastilah ukuran perut Jingga lebih besar dari ukuran wanita hamil yang usia kandungannya sama.


Usai mandi Adli menyeruput teh hangat yang diletakkan Jingga di atas meja kamarnya. Adli memperhatikan Jingga yang sejak tadi hanya membolak balik tubuhnya. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Adli.


"Pinggangku sakit, aku merasa tidak nyaman ketika tidur," jawab jingga dengan jujur. Adli tersenyum.


"Sini biar aku pijat. Mungkin akan mengurangi rasa pegal di pinggangmu." Jingga pun tidak menolak. Sentuhan yang diberikan Adli sungguh nyaman. Dia memijat dengan lembut. Adli hanya berhati-hati agar tidak menyakiti janin yang dikandung Jingga.


Tanpa terasa Jingga tertidur. Adli mengecup kening Jingga setelah itu membuka atasan Jingga dan mencium perutnya. "Kalian jangan nakal ya. Jangan menyusahkan mama. Papa sayang pada kalian," ucap Adli lirih agar tidak membangunkan Jingga.


...***...

__ADS_1


Udah senin aja nih jangan lupa ya bagi VOTEnya. Author belum pemes biarlah kalau dikata mengemis VOTE dan bintang dari para pembaca 🙏


__ADS_2