Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Helmi jatuh sakit


__ADS_3

Helmi menemukan tagihan yang membludak di rekeningnya. Dia pun mencari tahu untuk apa saja uang yang dikeluarkan oleh Karin.


Hanya dengan menjentikkan jari, Helmi mendapatkan informasi dari detektif yang dia sewa. Dia merasa curiga ketika Karin mentransfer uang itu ke sejumlah rekening bank atas nama satu orang yang sama. "Edward?"


Helmi merasa geram. Dirinya menyesal karena Adli telah memperingatkan tapi dia mengabaikannya. Helmi pun berniat menghukum Karin atas perbuatannya itu.


Namun, dia ingin mengumpulkan bukti agar dapat menceraikan istrinya itu dengan alasan yang tepat.


"Mas, baru pulang?" tanya Karin pada suaminya.


"Kamu dari mana?" tanya Helmi pada istrinya. Hari ini Helmi sengaja pulang lebih awal. Ternyata benar dugaannya kalau Karin sedang tidak ada di rumah.


"Aku membeli kebutuhan bulanan, Mas," jawab Karin.


"Bukankah itu tugas asisten rumah tangga?" tanya Helmi.


"Aku bosan di rumah jadi aku yang pergi membeli," jawab wanita yang sedang hamil besar itu.


"Bersama siapa?" tanya Helmi. Sungguh kemarahannya sudah di ubun-ubun tapi dia sedang menahannya agar tidak meledak.


"Sendiri," jawab Karin. Dia mendekati suaminya. "Mas kenapa?" tanya wanita itu sambil mengusap dada sang suami. Dia tahu Helmi mudah sekali dibujuk. Tapi tidak untuk saat ini. Helmi menepis tangan Karin. Karin jadi terkejut.


"Mas, kamu kok kasar sih sama aku?" tanya Karin yang kesal. Helmi tidak mau menyakiti Karin karena dia sedang hamil. Helmi memilih keluar. Dia menuju ke dapur lalu mengambil air dingin.

__ADS_1


Kemudian Rizky menghampiri ayahnya. "Pa, aku mau ngomong serius." Helmi menoleh pada anak keduanya itu.


"Ngomong saja!"


"Aku akan menikah," ucap Rizky. Helmi terkejut bukan main. Dia menyemburkan air yang hampir dia telan. Anak laki-lakinya itu tidak pernah terlihat menggandeng tangan seorang wanita.


Rizky sudah berpikir berkali-kali mengenai tawaran menikah dengan Talita. Saat ini dia tidak punya tujuan hidup. Kemudian dia mencoba berpikir jika saja dia memiliki seorang pasangan mungkin tujuan hidupnya akan jelas.


"Menikah dengan siapa?" tanya Helmi.


"Seorang gadis," jawab Rizky.


"Ajak dia ke sini...." Belum selesai Helmi berbicara tiba-tiba dia merasakan sakit di bagian dadanya.


Mario dan Karin yang mendengar suara teriakan tersebut keluar dari kamar mereka masing-masing. "Kenapa dia?" tanya Karin.


"Jangan banyak bicara! Mario panggil satpam suruh dia bantu aku untuk membantu mengangkat tubuh papa!" perintah Rizky. Mario menuruti perintah kakaknya.


Setelah itu, Helmi dibawa ke rumah sakit. Rizky mengabari Adli. Adli pun segera menyusul ke sana tapi tanpa mengajak Jingga. Dia hanya tidak mau Jingga kecapekan.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Adli ketika baru tiba di rumah sakit. Helmi telah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Sudah membaik," jawab Rizky.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Adli.


"Ini salahku," ucap Rizky. Adli mengerutkan keningnya.


Adli membawa Rizky menjauh dari Mario dan Karin. "Jelaskan padaku!"


"Aku bilang pada papa kalau aku akan menikah." Ucapan Rizky tak hanya membuat Helmi terkejut, Adli pun menunjukkan respon yang sama.


"Dengan siapa? Apa kamu melakukan asusila?" tuduh Adli sambil mencengkeram kerah baju adiknya.


"Nak Rizky," panggil seseorang. Rizky dan Adli pun menoleh. Rupanya Azam, ayah Talita berada di sana juga. Adli pun melepas tangannya.


Rizky berjalan menghampiri Pak Azam. "Apa benar yang kamu katakan? Apa kamu bersedia menikahi Talita?" tanya Pak Azam. Rizky mengangguk. Pak Azam pun sangat senang mengetahui jawaban calon mantunya itu.


"Kapan kamu akan datang melamar?" tanya Pak Azam. Rizky menggeleng.


"Papa saya sedang dirawat jadi saya tidak bisa melamar Talita sekarang," ungkap Rizky.


"Baiklah, tunggu sampai ayah kamu sembuh. Om mau menebus obat Talita dulu," pamit Pak Azam.


"Jadi apa alasan kamu menerima tawaran menikahi gadis yang baru kamu kenal?" tanya Adli pada adiknya.


Apa jawaban Rizky?

__ADS_1


__ADS_2