Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Violet


__ADS_3

Hari ini Wanda mengantar Jingga untuk mengambil anaknya di rumah sakit. Ketika dia akan membayar biaya perawatan, petugas tersebut menyampaikan bahwa biaya rumah sakit telah dibayar lunas. Jingga pun penasaran.


"Siapa yang telah membayar biaya rumah sakit anak saya?" tanya Jingga.


"Atas nama Dokter Erik," jawab perawat tersebut.


Jingga merasa lega tapi dia juga kecewa karena bukan Fabian yang membayar biaya rumah sakitnya. "Kakeknya baik juga," ledek Wanda. Dia selaku nenek merasa tersaingi.


Jingga tersenyum menanggapi ucapan Wanda. Dia bersyukur orang lain lebih perhatian dengan keadaannya. Meski dia berharap suaminya bisa memberi perhatian layaknya pasangan lain.


"Jingga," panggil Erik.


"Papa."


"Kamu akan pulang?" tanya Erik. Jingga pun mengangguk.


"Pulanglah ke rumah papa sementara rumah kamu diperbaiki," ucap Erik.


"Enak saja, Jingga tinggal bersamaku. Aku lebih tahu caranya merawat bayi," kata Wanda tak mau kalah.


"Ck, aku tidak percaya padamu," cibir Erik. Yang ada di ingatannya Wanda hanya ibu yang doyan berfoya-foya dan tidak peduli pada anak.


"Baik, kita buktikan! Jingga akan tinggal bersamaku. Jika aku tidak bisa membatunya maka kamu harus bersedia menampungnya."


Ucapan Wanda lebih ke kata sepakat dari pada persaingan. "Tidak perlu, Ma. Aku masih punya tabungan untukku mengontrak rumah," tolak Jingga.


"Jangan sayang! Uang kamu bisa kamu gunakan untuk membeli keperluan anak kamu, Jingga. Tinggallah bersamaku maka kamu tidak akan kekurangan," bujuk Wanda.


"Jingga pilihlah di antara kami," pinta Erik.


"Sementara aku tinggal di rumah mama saja. Setelah aku pulih aku akan mengontrak, Pa."


"Kenapa kamu kekeh sekali mengontrak rumah sendiri padahal kamu tanggung jawab Fabian." Erik merasa bersalah karena tidak bisa mendidik putranya dengan baik.

__ADS_1


"Pa, aku ingin mengambil putriku." Jingga mengalihkan pembicaraan. Dia hanya akan semakin sedih jika mengingat suaminya.


Perawat memberikan bayi yang mungil itu pada ibunya. "Lucu sekali cucu kekek," seru Erik merasa terharu.


Wanda pun tak mau kalah. "Dia juga cucuku. Lihat hidungnya mirip denganku," ucap Wanda penuh percaya diri.


"Jingga akan kamu namai siapa anakmu ini?" tanya Erik.


"Violet," jawab Jingga singkat.


"Nama yang bagus," puji Wanda yang setuju dengan nama pemberian Jingga.


"Ayo papa antar kalian." Erik menawarkan tumpangan. Jingga tak bergerak dari tempatnya.


"Apa Mas Fabian benar-benar melupakan kami? Apa segitu bencinya dia padaku? Setidaknya memberi nama atau sekedar mengantarku pulang. Tidak bisakah dia berbasa-basi sedikit? Bahkan membayar biaya perawatan anakku dan persalinanku saja enggan. Dulu ketika aku hamil dia hanya sekali memberiku uang tapi untuk berobat ke dokter saja kurang," Jingga sudah berderai air mata. Dia meluapkan kekesalannya di depan Wanda dan Erik.


Wanda dan Erik saling pandang. Sebagai orang tua mereka merasa malu pada menantunya. "Jingga, mama minta maaf karena tidak bisa mendidik Fabian dengan baik. Mama sangat menyesal." Wanda ikut sedih menatap menantunya yang menangis sambil menggendong putrinya itu.


"Jingga pulanglah bersama Mama Wanda. Papa akan bawa Fabian ke hadapan kamu," ucap Erik.


Erik memberi kode pada Wanda agar segera membawa Jingga pulang. Erik pun menelepon April. "Tanyakan di mana keberadaan kakakmu. Jika papa yang bertanya maka dia tidak akan menjawab," perintah Erik pada April.


"Baik, Pa."


Walau April merasa curiga tapi dia menuruti perintah ayahnya. April pun mengirim pesan pada Fabian. Fabian yang tidak menaruh curiga pada April mengatakan keberadaan dirinya.


Setelah mendapatkan jawaban dari April. Erik menuju ke villa tempat Fabian dan Lidia berlibur. Lokasinya lumayan jauh. Butuh dua jam untuk sampai ke sana.


Brak


Fabian terkejut ketika pintu villa tempat dia menginap didobrak paksa oleh seseorang. "Ba*jingan kamu, Fabian!" umpat Erik kesal.


"Ada apa ini, Pa?" tanya Fabian bingung.

__ADS_1


"Ada apa kamu bilang?" Erik benar-benar murka. "Kamu menelantarkan Jingga dan anak kamu sementara kamu malah enak-enakan liburan di sini." Erik melirik ke arah Lidia. Dia sudah tidak lagi menghargai Lidia seperti dulu.


Pasangan suami istri itu sungguh keterlaluan. "Pa, aku sudah mengingatkan Mas Fabian. Hari ini kami akan pulang kok," sangkal Lidia.


Erik tersenyum sinis. "Kamu berubah Lidia. Kamu serakah. Suami kamu ini bukan hanya milik kamu. Bukankah kamu sendiri yang minta Fabian untuk berpoligami?" Erik bicara dengan suara yang meninggi.


Fabian membawa Lidia ke belakang punggungnya. "Cukup, Pa. Jangan salahkan Lidia!"


Plak


"Ini memang salah kamu. Salah kamu! Ceraikan Jingga. Biarkan dia mendapatkan jodoh yang lebih baik dari pada kamu!" Erik pergi karena dia tidak ingin emosinya semakin meledak.


Fabian mengusap wajahnya kasar. Setelah itu dia memegang kedua bahu Lidia. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Fabian dengan lembut dan penuh perhatian.


Lidia tersenyum dan merasa tidak masalah walau mertuanya membentak dirinya. Asalkan Fabian masih berpihak pada dirinya itu lebih dari cukup.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Mas. Aku tidak mau kamu dan ayah kamu bertengkar. Temui Jingga dan anaknya." Lidia memberikan saran.


Fabian menghela nafas. Apa gang dikatakan oleh Lidia ada benarnya. Laki-laki itu pun menurut apa yang dikatakan oleh Lidia.


Di tempat lain, Jingga yang baru belajar mengurus bayinya merasa kerepotan karena Violet terus saja menangis. "Ma, kira-kira dia kenapa ya?" tanya Jingga.


"Coba kamu beri dia ASI." Wanda memberi saran. Jingga pun menuruti saran ibu mertuanya. Tapi walau diberi ASI dia tetap menangis.


"Ma, kok masih nangis ya?" tanya Jingga. Dia merasa risau ketika mendengar tangisan bayi yang baru lahir beberapa hari itu.


"Bu, coba periksa popoknya barangkali dia BAB," saran Bi Narti pada Jingga.


Jingga pun menuruti saran tersebut. Ternyata benar, anaknya buang air tapi hanya sedikit. "Mungkin dia kurang nyaman saat pantatnya kotor," seru Bi Narti.


"Makasih banyak ya, Bi. Maklum saya baru pertama kalinya mengurus bayi," kata Jingga.


"Iya, Bu. Sesekali cek saja popoknya, bisa dua jam sekali. Biasanya anak bayi seperti ini sering BAB." Jingga mengangguk paham.

__ADS_1


Wanda merasa malu karena asisten rumah tangganya malah lebih berpengalaman dari pada dirinya. Maklumlah dulu apa-apa diurus oleh baby sitternya. Wanda hanya terima beres. ASI pun tak dia berikan pada Fabian karena dia memberikan susu formula. Alasannya dia tidak mau bentuk tubuhnya tidak proporsional lagi.


Tapi kini dia sadar menyusu dari sumbernya membuat ikatan antara ibu dan bayi semakin erat.


__ADS_2