Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Lamaran terencana


__ADS_3

Semakin hari Fabian semakin tertarik pada Melati. Tinggal satu rumah dan bertemu setiap saat membuat Fabian tidak merasa canggung ketika berinteraksi dengan pengurus ibunya itu.


Semenjak Melati mengurus Wanda, banyak perubahan yang dialami oleh Wanda. Fabian merasa senang karena itu berarti Wanda akan bisa sembuh dalam waktu dekat.


Sudah setahun Melati bekerja bersama Fabian, tapi wanita itu tidak melihat majikannya menggandeng wanita lain setelah perceraiannya dengan mantan istrinya. Sebenarnya Melati menaruh harapan jika suatu hari nanti bisa menjadi pasangan Fabian, tapi dia tidak mau berkhayal tinggi-tinggi. Dia takut jatuh dan terluka.


Siang itu, Melati mendapatkan telepon dari pamannya yang ada di kampung. Dia diminta pulang karena alasan yang mendesak. "Sebenarnya ada apa, Paman?" tanya Melati.


"Bibimu sakit keras. Pulanglah untuk menjenguknya. Aku takut kamu menyesal jika kamu tidak segera pulang menemui dia," jawab Paman Melati melalui sambungan telepon.


"Baik, Paman. Aku akan meminta izin pada majikanku."


"Tidak perlu bekerja lagi di sana. Paman sudah mencarikan kamu pekerjaan di sini. Bibimu ingin kamu tinggal dan menemani masa tuanya." Ucapan paman Melati membuat dirinya galau. Padahal dia menyukai pekerjaannya di rumah Fabian. Namun, mengingat jasa paman dan bibinya yang telah membesarkan dia, Melati tidak bisa menolak.


Ketika Fabian tiba di rumah, Melati memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya. "Pak, saya ingin mengundurkan diri," ucap Melati dengan menundukkan kepala.


Fabian yang tengah meminum teh buatan gadis itu menyemburkan air yang telah masuk ke dalam mulutnya. "Kamu serius?" Melati mengangguk ketika menjawab pertanyaan Fabian.


"Tapi kenapa? Gaji kamu kurang?" tanya lelaki itu karena penasaran.


"Bibi saya di kampung sakit keras. Paman meminta saya pulang agar bisa merawatnya," jawab Melati dengan jujur.


"Apa dia tidak memiliki anak?" tanya Fabian. Kenapa harus Melati jika dia masih memiliki anak, pikir Fabian. Namun, pertanyaan yang ada dipikiran Fabian terjawab ketika Melati mengangguk.


"Mereka memang tidak memiliki anak. Saya dibesarkan oleh paman dan bibi setelah kedua orang tua saya meninggal dunia."


Fabian tidak menyangka kalau kisah hidup Melati amat menyedihkan. Kalau diingat-ingat, Fabian lebih beruntung dari pada Melati. Orang tuanya masih utuh hanya saja hidup secara terpisah. Namun, selama ini Fabian menganggap dirinya paling menderita karena harus menjadi korban perceraian orang tuanya. Rupanya hidup Melati lebih menyedihkan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kuberi cuti selama seminggu setelah itu kembalilah ke sini!" perintah Fabian yang memberikan solusi permasalahan Melati.


"Paman saya bilang telah mencarikan pekerjaan di sana. Saya tidak bisa menolak."


Fabian menghela nafas. "Aku harus cari pengurus baru untuk mama. Padahal bersama kamu dia mendapatkan perubahan yang cukup drastis. Entah nanti pengurus lain bisa sebaik kamu atau tidak."


"Saya juga merasa nyaman bekerja di sini, Pak. Apalagi bapak memperlakukan saya dengan baik. Namun, paman dan bibi saya lebih membutuhkan saya, Pak." Ada nada kecewa yang terdengar dari mulut Melati.


Fabian mengangguk. "Pergilah! Aku tidak bisa menahanmu." Melati menangis terharu.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Fabian.


"Rasanya saya masih tidak rela keluar dari pekerjaan ini. Saya masih ingin tinggal tapi saya tidak bisa," jawab Melati di sela-sela tangisannya.


'Aku pun ingin kamu tinggal sebagai nyonya rumah di sini, Melati. Haruskah aku melakukan hal yang sama padamu seperti apa yang aku lakukan pada Jingga di masa lalu? Agar kamu tidak ada alasan untuk menjauh? Ah, jangan bodoh, Fab. Kamu tidak boleh merusak masa depan gadis baik-baik seperti Melati. Cukup satu saja yang sudah menjadi korbanmu.'


"Pak, kenapa Anda melamun?" tanya Melati.


"Besok pagi-pagi sekali saya akan berangkat ke halte. Saya sudah pesan tiket," jawab Melati. Fabian manggut-manggut.


Setelah itu dia masuk ke dalam kamar. Sementara Melati melihat keadaan Wanda. Sepanjang malam Fabian terus memikirkan cara agar bisa menahan Melati. "Huh, kenapa tidak ada satu cara pun yang melintas di pikiranku? Ayolah, Fab. Pikirkan bagaimana cara kamu agar bisa membuat Melati tinggal lagi di sini?"


Hingga larut malam dia terus mencari solusi hingga dia tertidur. Fabian lelah memikirkan cara agar bisa membuat Melati tinggal di rumahnya.


Keesokan harinya, Melati bersiap-siap berangkat ke bus. Namun, sebelum dia pergi, Melati ingin berpamitan dengan semua orang yang tinggal di rumah itu. Melati mencari keberadaan Fabian tapi dia tidak menemukannya. "Apa mungkin masih tidur? Sebaiknya aku tidak mengganggu beliau," gumam Melati ketika berdiri di depan pintu kamar Fabian.


Melati keluar dengan membawa tas besar yang berisi pakaian. Dia terkejut ketika melihat Fabian tengah berdiri di depan mobilnya. "Pak, saya mau pamit," ucap Melati.

__ADS_1


"Ayo aku antar sampai ke rumah pamanmu!" Melati mengerjapkan matanya beberapa kali ketika mendengar ucapan majikannya.


"Tapi pak saya sudah...."


"Naik bus tidak aman. Sekarang ini banyak pencopet yang berkeliaran. Jadi ayo masuk! Tunjukkan jalan ke rumah pamanmu!" Fabian meraih tas yang dibawa oleh Melati. Dia memasukkan tas itu ke bagasi mobil.


Selama di perjalanan, Fabian dan Melati tidak mengobrol sama sekali. Mereka merasa canggung. Sesekali Fabian hanya bertanya arah jalan yang benar pada gadis itu.


Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya, mereka tiba di depan rumah paman Melati. Melati menatap heran pada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah pamannya.


"Ayo, Pak! Masuk dulu! Saya akan kenalkan pada paman saya," ucap Melati sebelum turun. Dia mengajak Fabian mampir ke rumah pamannya.


"Assalamualaikum, Paman." Melati mencium tangan pamannya.


"Waalaikumsalam, di mana bibi? Oh iya kenalkan ini majikan Melati."


Fabian mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Paman Melati menyambutnya. Sesaat kemudian bibi Melati keluar dari rumah. "Melati, kapan datang? Kenapa kamu tidak kabari bibi dulu?"


Melati dan Fabian terkejut. Pamannya bilang sang bibi sakit keras, lalu kenapa dia bisa berjalan dan kelihatan segar bugar? "Paman sebenarnya apa yang membuat paman meminta aku pulang ke rumah? Kenapa paman berbohong padaku?" tanya Melati.


"Pak, ada apa ini?" tanya bibi Melati pada suaminya.


"Aku akan menikahkan Melati dengan laki-laki pilihanku," jawab Paman Melati dengan jujur.


Fabian terkejut bukan main. Niat awalnya mengantar Melati adalah meminta izin agar dia bisa menikahi Melati malah rencana yang dia pikirkan semalaman harus gagal.


"Aku tidak mau dijodohkan, Paman. Aku ingin menikah dengan laki-laki pilihanku," jawab Melati. Kini air matanya menetes.

__ADS_1


"Jangan membantah, Melati! Paman telah mencarikan kamu laki-laki yang terbaik."


Fabian akhirnya maju dan merangkul bahu Melati. "Saya yang akan menikahi Melati," ucap Fabian di depan paman dan bibi gadis itu.


__ADS_2