Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Pacar pura-pura


__ADS_3

Violet membeli pakaian di sebuah butik. Dia percaya kalau Justin bukan irang sembarangan. Dia pun tidak mau diremehkan oleh keluarga Justin nanti. Violet mantap menerima tawaran Justin untuk menikah dengannya. Hal itu tentu saja dengan banyak pertimbangan. Toh hidupnya selama ini sebatang kara apa salahnya kalau dia memiliki keluarga. Meski keluarga yang sebenarnya belum dia temukan.


Violet mencoba gaun yang panjangnya selutut dengan ukuran badan yang pas dengan badannya. "Wah ini cocok untuk, Kakak," puji pelayan butik tersebut.


Violet melihat harga yang tertera di baju tersebut. 'Hah? Yang bener aja?' Dia terkejut ketika melihat harganya lebih dari satu juta.


"Mbak, ada yang lebih hemat nggak harganya dari pada ini?" tanya Violet tidak enak. Dengan uang yang diberikan Justin itu dia tidak mungkin hanya membeli baju. Sepatu, tas juga perlu untuk menunjang penampilannya.


"Owh, kalau begitu saya ambilkan model lainnya, Kak." Pelayan tersebut mengembalikan gaun putih itu dan menggantinya dengan gaun yang berwarna hitam.


"Mbak, apa tidak ada model lain?" tanya Violet ketika melihat modelnya terlalu seksi. Gaun dengan potongan di atas lutut dan belahan dada yang agak ke bawah membuatnya merasa tidak cocok memakainya.


"Dicoba saja dulu, Kak. Ini harga yang paling murah," jawab pelayan tersebut. Mau tidak mau Violet pun mencobanya.


Setelah dia memakainya dia keluar. "Wah, gaun ini sangat cocok untuk Kakak. Nanti tinggal gerai saja rambutnya ke depan agar menutupi bagian dada yang terlihat."


"Sepatu sam tas ada nggak di sini?" tanya Violet.


"Ada, Kak. Kita lagi ada diskon. Silakan melihat-lihat!"


Setelah mendapatkan tas dan sepatu yang sesuai, Violet pulang menggunakan ojek. Ternyata orang kaya sangat boros, belanja sepatu, tas dan baju saja hingga melebihi satu juta, pikir Violet.


Keesokan harinya Violet hanya berjualan sampai di siang hari. Isai berjualan, dia datang ke kantor tersebut dengan pakaian yang dia beli kemaren. "Aku pakai pakaian seperti apa tidak mengundang perhatian ya?" pikir Violet.


Ketika dia sampai di perusahaan itu, Violet ternganga karena melihat gedung yang sangat besar dan menjulang tinggi. "Apa benar ini perusahaan keluarga Justin?" gumam Violet tidak percaya. Dia bagai Cinderella yang bertemu pangeran yang kaya raya.


"Sebaiknya aku tanya saja dulu. Mudah-mudahan aku tidak dibohongi."


"Selamat siang, Mbak. Saya mencari Pak Justin," ucap Violet di depan resepsionis tersebut. Violet agak ragu tapi kalau dia tidak mencoba maka dia tidak akan tahu.


Resepsionis itu menelisik penampilan Violet. "Apa Anda sudah punya janji dengan Pak Justin?" tanya wanita itu.

__ADS_1


'Wah ternyata benar. Di sini ada yang namanya Justin.' Violet mengangguk ketika menanggapi pertanyaan wanita itu.


"Baiklah, siapa nama Anda?" tanya resepsionis itu lagi.


"Putri," jawab Violet.


"Saya hubungi asistennya dulu ya." Violet mengangguk. Dia melihat-lihat sekeliling. Saat mengedarkan pandangannya dia melihat seorang laki-laki paruh baya yang wajahnya tidak asing.


"Bapak itu siapa ya? Kok aku jadi ngerasa kenal sama dia," gumam Violet ketika melihat Adli. Ya, saat itu Adli sedang mengurus bisnis ekspor import dengan perusahan Justin. Bisnis property yang dia kelola berkembang sangat pesat hingga mendapatkan orderan dari luar negeri.


"Mbak, silakan tunggu di sana!" Resepsionis itu menunjuk kursi sofa yang ada di lobi tersebut.


Ketika dia berjalan, semua laki-laki menatap ke arahnya. Violet sudah menyadari kalau penampilannya mengundang perhatian orang-orang di sekitar.


Tak lama kemudian Justin keluar dari lift. Violet dapat melihat laki-laki itu berjalan ke arahnya. Justin mengerutkan kening ketika melihat penampilan Violet. Dia melepas jas yang dia pakai segera. Saat dia berada di dekat Violet dia memakaikan jas miliknya pada gadis itu.


Semua orang tercengang dengan perlakuan Justin pada Violet. "Siapa yang menyuruh kamu berpakaian seperti ini?" tanya Justin.


Justin merangkul bahu Violet. Gadis itu pun merasa terkejut atas perlakuan laki-laki yang mengaku sebagai calon suaminya itu. "Jangan melihatku seperti itu!" ucap Justin. Violet memalingkan wajahnya karena merasa malu. Justin mengulas senyum tipis.


Justin membawa Violet masuk ke dalam lift. Karena sangat dekat dia dapat mencium bau parfum Justin yang menyeruak. "Usahakan kamu tidak gugup ketika menghadapi nenek nanti." Ucapan Justin membuyarkan lamunan Violet. Violet mengangguk cepat.


Setelah lift terbuka, Justin membawa Violet masuk sambil menggenggam jemari lentik milik gadis itu. Violet terkejut ketika tangannya digenggam erat oleh Justin.


"Nenek," panggil Justin.


Wanita yang memakai sanggul dan tongkat itu berbalik. Dia melirik ke arah dua tangan yang saling berpegangan. "Siapa dia?" tanya wanita itu dengan tegas.


"Namanya Putri, dia calon istriku," jawab Justin dengan lancar. Violet berusaha mengimbangi acting Justin.


Wanita itu mendekat ke arah Violet lalu memukulnya dengan tongkat. "Katakan! Dibayar berapa kamu sama Justin?" bentak Nenek Justin.

__ADS_1


Justin membawa Violet ke belakang punggungnya. "Nenek, hentikan! Nenek sudah menyakiti calon istriku."


"Dasar tukang bohong! Jangan coba-coba mempermainkan aku! Nenek tahu kalau kamu menggunakan uangmu untuk membayar wanita ini agar berpura-pura menjadi calon istrimu, bukan?" Nenek tua itu tiba-tiba memegang dadanya yang sakit.


Violet reflek menolongnya. "Mas, ambilkan air minum!" perintah Violet pada Justin.


Violet membawa nenek itu duduk di kursi sofa yang tersedia di ruang kerja Justin. "Ini minumnya!" Justin memberikan segelas air putih pada neneknya. Wanita tua itu menerima lalu meminumnya.


Setelah lebih tenang dia menoleh ke arah Violet. "Siapa namamu?" tanya Nenek Justin pada Violet.


"Putri, Nek," jawab Justin mewakili Violet.


"Aku tidak bertanya padamu." Nenek itu hendak memukul, untung saja Justin bisa menghindar.


"Putri, Nek," jawab Vio.


"Nama panjangmu?" tanya nenek itu lagi.


"Putri Prameswari."


"Apa betul kamu berpacaran dengan Justin?" tanya sang nenek penasaran. Setahunya Justin paling anti berdekatan dengan perempuan. Violet hanya mengangguk menjawab pertanyaan wanita tua itu.


"Berapa lama kalian...?" belum selesai neneknya memberi pertanyaan lagi, Justin menyela.


"Nek, ini sudah waktunya nenek minum obat," sela Justin.


Nenek Justin pun melihat ke arah jamnya yang melingkar di tangan. "Kali ini kamu beruntung." Sesaat kemudian dia melirik ke arah Violet. "Putri, lain kali nenek ingin bicara lebih lama denganmu." Violet mengangguk.


Justin merasa lega ketika neneknya keluar dari ruangan. "Akhirnya, nenek tua itu pergi," gumam Justin.


"Berarti tugasku sudah selesai bukan?" tanya Violet. Dia berjalan ke arah pintu. Justin melangkah secepat kilat untuk menghadang Violet.

__ADS_1


"Siapa bilang tugasmu sudah selesai?" ucap Justin dengan senyum menyeringai.


__ADS_2