Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Bersatu


__ADS_3

Adli dan Jingga menuju ke rumah sakit di mana anak mereka dirawat. Justin telah memberi tahu mereka kalau Violet telah ditemukan.


"Vio, aku ingin mempertemukan kamu dengan orang yang mungkin kamu kenal," ucap Justin. Violet merasa Justin telah menemukan orang tuanya.


Tak lama kemudian sepasang suami istri masuk ke ruangan Violet. Vio sudah meneteskan air mata. Jingga pun merasa setengah hatinya yang hilang telah ditemukan.


"Mama," panggil Vio. Violet sangat ingat wajah ibunya. Jingga tidak ragu lagi, di memeluk Violet anaknya yang sudah hilang selama belasan tahun.


"Vio, mama tahu kamu masih hidup." Jingga menangis menumpahkan segala kerinduan yang telah ditahan begitu lama.


"Vio." Adli memanggil nama anak sambungnya itu. Vio bingung karena dia memiliki dua ayah.


Jingga melepas pelukannya. "Dia Papa Adli," ucap Jingga memberi tahu. Adli paham kalau Violet lupa dengan wajahnya apalagi sudah belasan tahun berlalu.


"Jadi benar Vio ini adalah putri kalian yang hilang?" sela Justin. Jingga menyingkap bahu kiri Violet yang tertutup rambutnya yang panjang. Dia yakin setelah melihat tanda lahir di bahu kirinya.


"Benar, dia anak kami yang hilang," jawab Jingga. Justin merasa lega mendengar jawaban orang tua Violet.


Tak lama kemudian Sabrina masuk ke ruangan Violet. "Mama," seru Sabrina sambil memeluk wanita itu.


Jingga dan Adli menjadi bingung ketika anak kecil itu memanggil putri mereka dengan sebutan mama. Adli dan Jingga meminta penjelasan Justin.


"Sebenarnya istri saya sudah meninggal setelah melahirkan Sabrina. Hanya saja ketika saya memperkenalkan Violet, Sabrina begitu menyukainya sehingga dia terbiasa menganggap Violet sebagai mamanya sendiri," terang Justin.


Jingga dan Adli merasa lega. Hampir saja mereka melewatkan pernikahan Jingga. "Tapi, kalau boleh setelah Violet sembuh saya ingin menikahi dia," imbuh Justin. Jantungnya berdebar ketika meminta izin pada orang tua Violet untuk menikahi putri mereka.


Jingga dan Adli saling bertukar pandang. Adli sudah cukup lama bekerja sama dengan Justin. Sedikit banyak dia mengetahui karakter laki-laki yang akan menjadi calon suami anak sambungnya itu. Adli memberikan kode pada Jingga bahwa dia setuju.


"Kami serahkan keputusan pada Violet. Dia yang lebih tahu mana yang baik untuk dirinya sendiri," jawab Adli.


Semua orang menoleh ke arah Violet. Wajah Violet menjadi kemerahan karena malu. "Iya, aku bersedia," jawab Violet dengan menunduk. Justin mengu*lum bibirnya. Dia merasa bahagia karena lamarannya diterima oleh Violet.


Sabrina yang tidak mengerti arah pembicaraan orang dewasa itu hanya bisa ikut tersenyum saat semua orang terlihat bahagia.

__ADS_1


Tiga hari setelah dirawat di rumah sakit, Violet dibawa pulang ke kediaman Adli. "Datanglah secara resmi untuk melamar Violet!" pinta Adli secara baik-baik. Justin mengangguk paham


"Baik, Pak," jawab Justin.


"Jangan panggil pak! Panggil papa!" perintah Adli pada calon suami Violet tersebut. Justin tersenyum malu menanggapi ucapan Adli.


Ketika tiba di rumah, Violet dikenalkan pada adik kembarnya. "Vio, mereka ini adalah adik-adik kamu, Albiru dan Cyan," ucap Adli memperkenalkan anak kandungnya.


"Sepertinya aku pernah melihat kakak, tapi di mana ya?" ucap Cyan sambil mengingat-ingat kapan dia pernah melihat wajah Violet.


"Wajahku ini memang pasaran," sahut Violet. Semua orang terkekeh mendengarnya.


Setelah itu, Jingga mengantar Vio ke dalam kamarnya. "Mulai saat ini kamu akan menempati kamar ini." Vio mengangguk.


"Terima kasih, Ma. Aku bersyukur bisa kembali ke keluarga ini."


Jingga memegang tangan Violet dengan lembut. "Kami bahagia kamu kembali kepada kami. Sekarang istirahatlah, kamu baru sembuh." Violet tersenyum menanggapi ucapan ibunya.


"Apa papa sudah memastikan kalau dia memang anak mama yang hilang?" tanya Albiru sedikit meragukan kehadiran Violet.


"Biru seharusnya kamu ikut senang karena kakak kamu kembali," tegur Adli.


"Zaman sekarang semua orang bisa saja menipu demi mendapatkan apa yang mereka mau."


"Jaga bicara kamu! Kamu bisa menyinggung perasaan mama dan kakakmu." Sesaat kemudian Jingga ikut bergabung.


"Biru, dia memang kakakmu. Ada tanda lahir yang tidak semua orang memilikinya. Kakakmu memiliki tanda lahir di bahu kirinya. Mama sudah memastikan itu."


"Tapi, Ma..."


"Biru," sela Adli. Dia ingin Albiru menghargai kehadiran Violet. Albiru memilih untuk naik ke lantai atas untuk menghindari perdebatan. Adli dan Jingga hanya menggelengkan kepalanya.


Di tempat lain, Sabrina terus menanyakan pada sang ayah kenapa Violet tidak kembali ke rumahnya. "Sayang, mama hanya ingin menginap sebentar di rumah kakek dan nenek." Justin mencoba memberi pengertian pada putrinya.

__ADS_1


"Benarkah hanya sebentar?" tanya Sabrina setengah ragu. Justin mengangguk. Kemudian dia menggendong Violet.


"Papa akan membawa mama kamu pulang ke rumah ini." Sabrina mengangguk paham meski bibirnya mengerucut.


Keesokan harinya, Violet bergabung di meja makan. Semua orang senang karena bisa berkumpul kecuali Albiru. "Vio, apa rencana kamu ke depannya?" tanya Adli. Violet menggeleng.


"Aku belum tahu, Pa," jawab Vio dengan ragu.


"Tidak usah memikirkan masa depan. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Justin. Masa depan kamu adalah bahagia bersama dia dan anaknya. Kami juga berharap kamu dan Justin segera memberikan kami cucu setelah kalian menikah nanti," ucap Jingga panjang lebar.


"Kakak akan menikah dengan siapa, Ma?" tanya Cyan.


"Dengan rekan bisnis papa," jawab Jingga.


"Wah, bagaimana mungkin?" tanya Cyan tidak percaya. Dia semakin yakin takdir itu ada.


"Justin adalah orang yang menemukan Violet," jawab Adli.


"Apa papa yakin kalau ini bukan trik untuk menghancurkan bisnis papa? Bukankah zaman sekarang persaingan bisnis itu sangat ketat?" tuduh Albiru.


Adli menghela nafas. Bagaimana bisa anak itu memiliki prasangka terhadap kakaknya sendiri. "Aku sudah mendengar banyak cerita tentang Violet setelah dia hilang waktu itu. Kalau seandainya kamu yang mengalami papa yakin kamu tidak akan bisa bertahan. Biru berhenti menaruh prasangka pada Vio. Dia memang benar-benar kakakmu. Mama sudah membuktikannya dengan tes DNA."


Albiru pun menjadi diam membisu. Kali ini dia tidak bisa menyangkal lagi. "Luar biasa," ucapnya lalu meninggalkan meja makan.


♥️♥️♥️


Maaf telat up


makasih buat yang udah mengikuti cerita ini.


Vote yuk


Btw akhir bulan awal bulan mau lanjut atau tamat nih? Komen di kolom komentar ya

__ADS_1


__ADS_2