Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Melepas Rindu


__ADS_3

Hari ini Jingga pergi mengajar seperti biasa. Usai mengajar tiba-tiba Fabian datang untuk menemui Jingga. "Jingga," panggil Fabian pada sang istri.


Jingga yang saat itu sedang mengobrol dengan teman sekerjanya menoleh ketika mendengar suara laki-laki yang dia kenal. Mata Jingga langsung berkaca-kaca ketika dia melihat Fabian. Ingin sekali dia memeluknya tapi dia mencoba menahan diri.


Justru Fabianlah yang tidak sabar memeluk Jingga. "Aku merindukanmu," ucapnya sambil memeluk istri kecilnya itu.


Jingga membalas pelukan Fabian. "Aku juga," jawab Jingga lirih.


Fabian mengurai pelukannya. "Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Fabian pada istrinya. Hari ini Fabian sempat mendatangi rumah Wanda tapi wanita itu bilang Jingga pindah ke rumah kontrakan. Tapi Wanda tidak tahu alamat rumah baru Jingga. Akhirnya Fabian menghubungi April. Dia memastikan apakah Jingga masih bekerja menjadi pengajar di sekolah yang dia kelola.


"Di rumah kontrakan, Mas," jawab Jingga.


"Bu Jingga, suaminya ganteng banget," sela salah seorang teman seprofesinya.


Jingga tersenyum malu. "Ganteng dong, Bu," sahut April.


Fabian merangkul April. "Long time no see," ucap Fabian pada adiknya.


"Lho Bu April kenal?" April tersenyum.

__ADS_1


"Iya, dia kakak saya," jawab April.


"Owh, jadi Bu Jingga ini iparnya Bu April?"


"Mari Bu kami tinggal," pamit Fabian mengajak April dan Jingga pergi.


"Aku akan pergi bersama Jingga. Terima kasih sudah memberi tahuku," ucap Fabian pada April.


"Iya, sama-sama," jawab April.


Jingga berjalan beriringan dengan suaminya. "Kita mau ke mana, Mas?" tanya Jingga.


"Ikut saja dulu," jawab Fabian.


"Mas, ini rumah siapa?" tanya Jingga yang merasa asing dengan rumah yang baru pertama kali fia kunjungi.


"Ini rumah kamu, rumah kita," jawab Fabian. Jingga tersenyum senang. Benarkah suaminya telah membeli rumah untuk tempat tinggal? Lalu Fabian bilang 'kita'? Apakah dia berencana tinggal bersama? Semua pertanyaan itu sedang berputar di kepala Jingga.


"Jingga, kenapa bengong? Ayo masuk!" ajak Fabian seraya menarik tangan gadis itu.

__ADS_1


Dari kejauhan Diva, adik Lidia tak sengaja melihat Fabian ketika baru turun dari mobil bersama Jingga. "Apa dia sengaja membeli rumah baru untuk Jingga?" gumam Diva ketika berada di dalam mobil. Dia pun berencana melapor pada sang kakak.


Usai pulang bekerja, Diva sengaja menghampiri Lidia. "Tumben sekali mencariku?" tanya Lidia.


"Katamu Jingga kabur dari rumah? Tadi aku melihatnya bersama Kak Fabian memasuki sebuah rumah," lapor Diva.


"Apa? Kapan?" tanya Lidia yang terkejut.


"Tadi siang sepulang meeting aku melihat mereka," jawab Diva. Lidia mengepalkan tangan.


"Aku tidak bisa membiarkan mereka."


"Tapi bukankah kamu yang punya ide agar suamimu menikahi Jingga? Lalu kenapa kakak menyesal sekarang?" tanya Diva. Dari awal dia sudah tidak setuju jika Fabian menikahi Jingga, tapi Lidia memaksa.


"Aku salah. Aku tidak berpikir jauh waktu itu. Aku pikir Jingga dapat memberi anak pada kami tapi rupanya Mas Fabian juga mulai mencintai Jingga. Aku menyesal Diva." Lidia meneteskan air mata di depan adik kandungnya.


"Tapi kamu juga tidak bisa memaksa mereka berpisah. Jingga sedang mengandung anak suamimu."


"Aku akan meminta Mas Fabian menceraikan Jingga setelah melahirkan. Kami hanya ingin anaknya. Jingga bisa menikah lagi dengan laki-laki lain," jawab Lidia.

__ADS_1


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lidia. Siapakah yang menampar Lidia?


__ADS_2