
Setelah hampir satu tahun lamanya, tidak ada kejelasan hubungan antara Rizky dan Talita. Bukannya tidak ada kecocokan di antara mereka, hanya banyak kejadian yang dialami di keluarganya sehingga tidak memungkinkan Rizky untuk melamar Talita pada saat itu.
Mulai dari perpisahan ayahnya dengan sang istri, musibah yang menimpa Jingga, hingga hilangnya Violet membuat Rizky tidak bisa berkata apa-apa. Seolah dia belum diizinkan menikah dalam waktu dekat. Padahal keinginan itu sudah ada sejak Talita mengajaknya menikah lebih dulu.
"Apa mungkin dia belum jodohku?" gumam Rizky ketika menunggu minuman yang dia pesan di kantin sekolah tempat dia mengajar.
"Pak Rizky mengapa melamun. Itu minuman yang dipesan sampai mencair," tegur April, pemilik sekolah itu.
"Eh, maaf saya lupa. Bu April mau ke mana? Ada rapat di luar sekolah?" tanya Rizky ketika melihat April memakai tas seolah akan pergi. Padahal ini masih jam kerja di sekolah.
"Saya mau mengantar mama saya buat terapi," jawab April. Sebulan sekali Wanda harus ikut terapi untuk mengembalikan ingatannya.
Rizky baru ingat saat itu Violet mengalami kecelakaan bersama neneknya yang tak lain adalah orang tua Fabian. Berhubung April adalah anak dari Erik maka dia pun sudah menganggap Wanda seperti ibunya sendiri.
Yang bingung sama ceritanya bisa baca di novel MENCARI PASANGAN SURGA ya!
Rizky mengangguk hormat ketika April pergi. Usai mengajar Rizky mampir ke tempat abangnya. Tak lupa dia juga mengajar Mario, adik bungsunya ke sana.
"Eh Om Rizky sama Om Mario. Ayo masuk!" Jingga mengajak masuk kedua adik iparnya itu usai membukakan pintu.
"Wah ponakan Om lagi apa?" tanya Rizky pada salah satu di antara anak kembar Jingga.
"Dia baru selesai makan," jawab Jingga.
"Yang ini siapa Kak?" tanya Mario menunjuk bayi laki-laki gembul yang sedang memegang mainan di tangannya.
"Itu Cyan," jawab Jingga.
"Bagaimana cara membedakan mereka?" tanya Rizky yang penasaran. Kalau dilihat sekilas mereka tidak ada yang berbeda karena Albiru dan Cyan kembar identik.
"Kamu bisa lihat dari dagunya. Cyan memiliki lipatan di bagian dagu sedangkan Biru tidak," jawab Jingga.
__ADS_1
Tak selang beberapa saat Helmi datang bersama Adli. Dia memang ingin melihat cucu-cucunya. "Lho kapan kalian ke sini?" tanya Helmi.
"Sejak pulang sekolah tadi, Pa," jawab Mario.
"Seragam kamu mana?" tanya Helmi.
"Ada di tas," jawab anak bungsunya itu.
"Wah ramai sekali ya di rumahku. Ada lima cowok," ucap Jingga.
"Iya, kamu yang paling cantik di sini," goda Adli. Rizky dan yang lainnya memutar bola matanya jengah.
"Udah jangan mesra-mesraan di depan jomblo," tegur sang ayah.
"Eits, aku nggak jomblo ya," elak Rizky. Helmi baru sadar jika anaknya itu punya kekasih.
"Kapan kamu akan mengenalkan dia pada kami secara resmi?" tanya Helmi. Rizky jadi terkejut.
"Jangan ungkit itu lagi. Aku dan Jingga sudah mengikhlaskan dia. Kalau dia masih hidup, kami berharap Violet bisa hidup lebih baik," ujar Adli.
"Kabari kekasihmu! Papa siap untuk melamarnya," ucap Helmi dengan mantap.
Rizky tersenyum bahagia. "Makasih, Pa, Bang," ucapnya sambil memandang ayah lalu bergantian ke arah Adli.
Setelah itu, Rizky menghubungi kekasihnya, Talita. Namun, dia terlambat. Azam, ayah Talita membawa gadis itu untuk berobat ke luar negeri. Rizky seketika lemas. Talita tidak memberi dia kabar sebelum berangkat ke luar negeri. Rizky mencoba menghubungi nomor telepon Talita, tapi hasilnya nihil.
Tidak ada harapan. Bayangan bersanding di pelaminan bersama Talita hanya bayangan semu. Rizky memejamkan mata sejenak berharap kalau ini semua hanya mimpi. "Apa aku tidak diizinkan untuk menikah dengan siapa pun? Kenapa setiap aku dekat dengan seorang wanita selalu saja berakhir menyedihkan," gumam Rizky.
Pada saat yang bersamaan Edward datang ke rumah Talita. "Mau apa lo di sini?" tanya Edward sambil memandang tidak suka ke arah Rizky.
"Bukan urusan lo," jawab Rizky tidak kalah cuek.
__ADS_1
"Sebaiknya lo lupakan Talita. Dia harus fokus pada pengobatannya."
"Jangan asal memberi perintah! Lo bulan siapa-siapa gue," sarkas Rizky. Edward jadi tidak terima. Dia memukul Rizky di bagian wajahnya. Rizky sampai mundur akibat pukulan mendadak Edward.
"Breng*sek!" Rizky membalas pukulan Edward dan mereka pun berkelahi hingga keduanya babak belur. Edward yang sudah lelah memilih mundur dan meninggalkan Rizky. Rizky pun masuk ke dalam mobilnya. Dia menyalakan mobil kemudian pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Helmi terkejut ketika melihat wajah Rizky babak belur. "Siapa yang melakukan ini?" tanya Helmi geram.
"Edward, sepupunya Talita," jawab Rizky.
"Edward?" Helmi berusaha mengingat nama yang disebut oleh putranya. "Kenapa dia memukul kamu?" tanya Helmi.
"Dia menyuruh aku menjauhi Talita. Talita sudah pergi ke luar negeri, Pa. Aku terlambat, aku terlambat." Rizky menangis di lantai. Dia sedih karena kehilangan wanita yang akan dinikahi. Terlebih Talita tidak pamit saa pergi. Dia seperti dicampakkan. Rizky menganggap kisah cintanya begitu menyedihkan.
"Kamu jangan seperti ini, Riz! Carilah wanita lain yang bisa mengobati luka hatimu! Perempuan di dunia ini tidak hanya dia. Kamu harus optimis! Lanjutkan hidupmu! Jangan karena satu perempuan kamu jadi cengeng seperti ini!" Ayahnya memberikan pesan pada putranya. Berharap dia bisa lebih kuat. Helmi sudah pernah mengalami asam garam dalam menjalin hubungan. Jadi masalah Rizky bukanlah masalah besar. Helmi yakin semua masalah pasti akan ada solusinya.
Rizky bangkit. "Maafkan aku, Pa."
"Obati lukamu! Kamu tidak bisa mengajar dengan kondisi seperti ini," ucap Helmi yang peduli pada anaknya. Rizky mengangguk. Dia berjalan sempoyongan menaiki tangga. Helmi hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat tingkah putra keduanya itu.
Di tempat lain, Edward pulang ke apartemennya. Dia mengambil kotak obat untuk mengobati luka bekas pukulan Rizky. Edward terluka di bagian wajah cukup parah. "Sial, wajahku yang tampan ini jadi berantakan karena ulah bocah itu. Keluarga Helmi memang breng*sek!" umpat Edward sambil membuang barang-barang yang ada di atas meja.
Tak lama kemudian bel rumahnya berbunyi. Edward pun mengganti baju dan membersihkan muka secepat mungkin barulah dia membukakan pintu. "Siapa sih? Nggak sabaran banget. Axel pasti ini," tebak Edward yang menggerutu ketika dia sedang bersiap-siap.
Edward berjalan ke arah pintu. Dia mulai membuka engsel. Betapa terkejutnya dia ketika melihat wanita yang pernah dia campakkan. "Karin?"
"Hai, Ed. Apa kabar? Ah aku rasa kamu tidak baik-baik saja hari ini. Wajahmu babak belur. Siapa yang melakukan ini?" tanya Karin seraya mengusap dada Edward. Edward yang notabene hypersek*sual menyukai apa yang dilakukan oleh Karin. Dia pun menarik tangan Karin lalu membawa wanita itu masuk ke dalam unit apartemennya.
...****...
Author udah maraton nulis jadi kalian jangan sampai jadi pembaca tak kasat mata ya. Tinggalkan jejak 🙏
__ADS_1