
Di suatu kesempatan ketika Fabian melakukan kebiasaan lamanya, yakni mabuk-mabukan di sebuah bar, dia bertemu dengan Axel. "Long time no see, Bro," sapa Axel sambil menepuk bahu Fabian. Fabian tak menanggapi.
"Gue denger elo cerai sama Lidia?" Fabian hanya berdehem. Dia malas membuka mulut.
"Boleh dong gue deketin dia lagi," ucap Axel meminta izin pada mantan suami Lidia itu. Sejak lama Axel memang naksir Lidia, tapi dia memendam rasa sukanya sejak Fabian jadian dengan wanita itu.
Fabian tersenyum sinis. "Ambil! Dia sudah kubuang, pantang bagiku untuk ku pungut lagi," sarkas Fabian. Axel mengepalkan tangan mendengar kata-kata kasar laki-laki itu. Tapi Axel memaklumi karena Fabian di bawah pengaruh alkohol.
"Oke, gue pegang kata-kata lo. Jangan menyesal kalau Lidia jatuh ke tangan gue!" Axel pergi ketika meninggalkan Fabian.
Ketika Fabian mengedarkan pandangannya dia melihat Karin. Ya, Karin sedang menemani Edward minum-minum di bar itu. Axel juga berada di meja yang sama dengan pasangan selingkuh itu.
Kemudian Fabian memotret mereka. Gambar yang dia tangkap dikirim ke nomor ponsel Adli. Fabian tak sepenuhnya mabuk, jadi dia masih bisa melihat dengan jelas nomor ponsel itu tanpa melakukan kesalahan.
Adli baru saja membantu Jingga menidurkan anaknya. Matanya membola ketika melihat foto Karin bersama dua laki-laki yang wajahnya tidak asing.
"Sayang, aku ada pekerjaan mendadak. Aku tinggal sebentar tidak apa-apa?" tanya Adli. Dia terpaksa berbohong pada istrinya agar Jingga tidak khawatir.
"Jangan pulang terlalu larut ya, Mas,"pesan Jingga pada suaminya. Adli mengangguk paham. Ketika dia keluar dari rumah, Adli menelepon Fabian.
"Ada di mana kamu sekarang?" tanya Adli. Fabian memberi tahu di mana lokasi dia saat ini.
Tak butuh waktu lama, Adli dan Fabian bertemu di parkiran mobil. "Apa dia masih di dalam?" tanya Adli pada Fabian yabg berdiri di depan mobilnya. Fabian membuang puntung rokok yang telah habis dia hisap ke tanah.
"Belum. Itu mobil Edward," jawab Fabian seraya menunjuk mobil yang jaraknya tak jauh dari mobilnya.
"Baiklah, kita tunggu saja." Fabian mengangguk setuju. Mereka memang mengincar Karin. Setelah sekian lama pencarian mereka akhirnya membuahkan hasil.
Setelah setengah jam menunggu, Karin dan Edward keluar dalam keadaan mabuk. Adli dan Fabian saling bertukar pandang. Sesaat kemudian mereka maju mendekati Karin dan kekasihnya.
Saat itu Edward sedang membuka pintu mobil. Dia agak kesulitan karena dia sedang mabuk berat. Di saat itulah, Fabian membekap Karin yang sedang menunggu Edward di belakangnya. Sementara Adli memukul Edward dari belakang menggunakan tangannya yang dikepal. Edward seketika terkapar ke tanah.
__ADS_1
Karin memberontak ketika Fabian menutup mulut dan menyeretnya ke dalam mobil. Namun, sesaat kemudian dia lemas dan pingsan. Adli dan Fabian membawa Karin ke kantor polisi atas dugaan penganiayaan Jingga hingga masuk rumah sakit. Tak lupa keduanya menyertakan bukti-bukti rekaman CCTV dan saksi yang merupakan asisten rumah tangga di rumah Adli.
Karin sadar setelah beberapa jam pingsan. Dia terkejut ketika bangun-bangun dia sudah berada di dalam lapas. "Di mana aku?"
"Jangan belagak be*go lu. Penjahat kaya kita mau di mana lagi kalau nggak dikerangkeng besi?" ucap salah satu penghuni lapas tersebut.
Karin tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba masuk penjara. ",Pak, lepaskan saya!" teriaknya pada penjaga lapas tersebut.
"Diam! Kamu bersalah jadi kamu harus mendekam di sini untuk sementara waktu."
"Ini nggak benar. Salah saya apa, Pak?" tanya Karin. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini.
"Kamu dituduh menganiayanya seorang wanita hingga dia hampir saja keguguran," jawab petugas lapas tersebut. Karin memegang erat jeruji besi dengan erat.
"Breng*sek! Ini pasti kerjaan Adli," gumam Karin setelah itu dia menjerit histeris.
Adli mengabarkan pada istrinya kalau Karin telah ditangkap. Adli sengaja mengajak Jingga ke lapas. "Katakan! Apa kamu juga yang merencanakan kecelakaan Mama dan Violet?" tanya Adli ketika mengunjungi Karin. Di sana juga ada Fabian karena Adli sengaja mengundang ayah kandung Violet itu untuk mendengarkan pengakuan Karin.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita itu. "Wanita sial!" umpat Karin. Dia ingin membalas Jingga tapi Adli mencekal tangannya.
"Apa salah anakku? Atau aku yang salah padamu tapi tidak kusadari?" tanya Jingga.
"Bukan karena kalian, tapi karena suamimu," jawab Karin sambil menatap tajam ke arah Adli.
"Memangnya apa yang pernah aku perbuat padamu?" tanya Adli yang tidak merasa dirinya bersalah pada Karin.
"Gara-gara kamu aku bercerai dengan ayahmu. Aku jadi tidak bisa menguasai hartanya," ucap Karin geram.
"Kamu memang pantas dicerai. Wanita seperti kamu yang sudah selingkuh berani-beraninya menipu papa. Kamu pantas mendekam di penjara." Setelah mengucapkan itu, Adli menoleh pada Fabian. Fabian menelepon pengacara untuk menghukum Karin seberat-beratnya.
__ADS_1
"Jam besuk sudah selesai," ucap petugas lapas. Adli, Jingga, dan Fabian pergi meninggalkan Karin.
"Sialan kalian. Aku akan kutuk hidup kalian. Kalian tidak akan bahagia untuk selamanya. Ingat itu!" teriak Karin yang meronta ketika dia diseret kembali ke penjara.
"Pelakunya sudah tertangkap tapi anak kita belum ketemu," ucap Jingga. Ada rasa perih di dalam hati Fabian ketika Jingga mengakui Violet sebagai anaknya dan Adli.
"Tenanglah, Sayang. Jika dia memang masih hidup, pasti suatu hari kita akan menemukannya," kata Adli.
Jingga melihat Fabian yang pergi tanpa pamit. "Mas Fabian," panggil Jingga. Fabian menoleh. "Terima kasih untuk semuanya," ucap Jingga sebelum berpisah dengan Fabian. Fabian hanya mengangguk.
Setelah itu, Fabian kembali ke rumah. Rasanya tidak ada tenaga untuk bekerja hari ini. Dia menyerahkan semua urusan kantor pada Imam. "Pak, mau saya buatkan teh?" tanya Melati.
"Tidak usah," jawab Fabian. Walau Fabian menolak, Melati tetap membuat minuman untuk majikannya itu.
"Aju kan sudah bilang aku tidak mau teh," bentak Fabian.
"Ini air lemon hangat, Pak. Bagus untuk meredakan lelah," jawab Melati. Setelah itu dia membawa nampannya ke dapur.
Fabian mencicipi air lemon hangat buatan Melati. Benar yang dia katakan, setelah meminumnya badan Fabian merasa segar. Sesaat kemudian Melati lewat di depan Fabian. Dia akan ke kamar Wanda, Fabian memanggilnya. "Melati." Garis itu menoleh.
"Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Melati. Baru mendengar suaranya saja jantung Fabian berdebar kencang.
"Besok tidak usah kerjakan perkejaan rumah. Saya akan cari pembantu lain," ucap Fabian dengan ketus. Padahal niat awalnya ingin berterima kasih, entah kenapa lidahnya susah mengucap kata-kata itu di depan Melati.
"Baik, Pak."
...***...
Yang berharap Violet ketemu sabar ya!
Kasih dukungan aja biar semangat nulis sampai bab Violet ketemu.
__ADS_1