Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Bertemu Violet


__ADS_3

Mendengar ucapan Jingga yang memperbolehkan Fabian menemui anaknya, membuat Fabian antusias. Sepulang dari rumah Jingga bahkan dia menyempatkan diri untuk mampir ke toko mainan anak-anak. Fabian memborong banyak mainan untuk anaknya. Dia akan memberikan mainan itu besok jika dia datang berkunjung.


Usai membayar barang belanjaannya, Fabian memasukkan mainan-mainan itu ke dalam bagasi mobilnya. Kemudian dia pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Lidia menyambut kedatangan suaminya. "Mas, kok tumben pulang jam segini?" tanya Lidia.


Fabian hanya diam dia berlalu begitu saja. Lidia mengikuti suaminya. Ketika Fabian membuang jas yang telah dia pakai ke sembarang arah, Lidia menemukan struk belanja. Dia membaca struk yang bertuliskan daftar mainan anak-anak. Lidia meremat kertas yang sedang dia pegang.


Lidia menduga kalau mainan yang dibeli oleh suaminya itu untuk anak Jingga. Usai mengambil jas milik suaminya, Lidia mengambil kunci mobil Fabian yang tergeletak di meja. Wanita itu mengecek sendiri isi bagasi mobil suaminya.


Lidia pun pergi ke kamarnya untuk meminta penjelasan suaminya. Di saat yang bersamaan, Fabian baru saja keluar dari kamar mandi. "Mas, aku mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Lidia.


"Aku ingin istirahat," tolak Fabian. Dia mengambil baju dari dalam lemari kemudian memakainya.


"Untuk apa kamu membeli mainan sebanyak ini?" Lidia menunjukkan struk belanja milik Fabian yang terjatuh tadi.


"Dari mana kamu bisa dapat itu?' selidik Fabian.


"Dari saku jas yang kamu buang tadi," jawab Lidia.


"Kamu tidak perlu tahu," jawab Fabian dengan ketus.


"Apa ini semua kamu belikan untuk anak kamu? Apa kamu habis menemui JINgga, Mas?" tanya Lidia.


"Kalau iya, memangnya kenapa? Kamu keberatan?" sindir Fabian.


Lidia duduk di samping suaminya. "Tidak, aku tidak keberatan, Mas. Bagaimana kalau lain kali kamu ajak aku juga? Anak itu juga anak aku karena aku istrimu."


"Aku tanya Jingga dulu. Aku sedang membangun kepercayaan darinya. Aku tidak mau dia malah menjauhiku jika dia tidak menerima kamu. Aku ingin tetap bisa bertemu dengan anakku. Aku tidak ingin kamu mengacaukan semua usahaku."

__ADS_1


Lidia mengepalkan tangan. Fabian terang-terangan menolak dirinya walau terkesan ditolak dengan cara halus.


Lidia memaksakan senyum. "Baiklah, jika kamu bertemu dengan Jingga, bilang kalau aku ingin menjenguk anaknya."


Di tempat lain, Adli sedang menghubungi Jingga melalui sambungan video. "Violet udah tidur?' tanya Adli berbasa-basi.


"Sudah," jawab JIngga dengan singkat.


"Jingga, kenapa omonganmu irit sekali. Tidak bisakah kamu seperti gadis-gadis lain yang suka banyak bicara?" Jingga malah terkekeh mendengar ucapan calon suaminya.


"Sejak dulu aku memang seperti ini," jawab Jingga.


"Dan sejak dulu aku sudah menyukaimu. Andai saja kita bertemu lebih awal," ucap Adli.


Jingga mengulas senyum manisnya. "Meskipun kita baru bertemu sekarang, tapi akhirnya kita akan menikah juga. Mas Adli menyesal jika aku menjadi bekas orang lain?"


"Kenapa berbicara seperti itu? Aku tidak memandang statusmu. Aku menerima kamu apa adanya dan aku harap kamu juga melakukan hal yang sama," ucap Adli.


Ada rasa sesak di dada Adli ketika calon istrinya itu mengatakan yang sebenarnya. Adli seharusnya sudah tahu dari awal tapi hatinya menyangkal. Dia percaya Jingga bisa menerima dirinya.


"Baiklah, sekarang istirahat dulu! Malam semakin larut. I love you Jingga." Jingga hanya menanggapi ucapan Adli dengan tersenyum. Setelah itu dia menutup teleponnya.


Ketika Adli ingin mengambil air dingin di dapur, dia berpapasan dengan Karin, mantan ibu tirinya. "Kamu yakin akan menikahi janda beranak satu itu?" tanya Karin.


Adli tersenyum miring. "Bukan urusan kamu!" jawab Adli dengan ketus.


"Aku ini peduli sama kamu. Kenapa kamu selalu bersikap dingin padaku?' tanya Karin.


"Lucu, sangat lucu. Seorang mantan ibu tiri tiba-tiba peduli pada mantan anak tirinya. Aku curiga kamu ingin kembali pada papa?' tuduh Adli.

__ADS_1


"Jangan bicara berputar-putar seperti itu. Aku dan papamu memang sedang menjalin hubungan. Kamu tidak tahu bukan kalau alasan aku tinggal di sini bukan karena rumahku sedang diperbaiki tapi karena papamu ingin selalu dekat denganku," ucap Karin dengan penuh percaya diri.


'Sial, kenapa papa tega-teganya berbohong pada kami. Aku tahu wanita ini hanya menginginkan harta ayahku, jadi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi,' gumam Adli di dalam hatinya.


Adli yang malas meladeni Karin memilih kembali ke kamarnya. Dia memukul ranjang karena kesal. "Dasar wanita sialan. Dia ingin memperalat ayahku. Awas saja nanti aku akan buat kamu tidak kerasan tinggal di sini."


Keesokan harinya, Fabian sengaja meminta Imam mengatur ulang jadwalnya. Pagi ini Fabian ingin menemui Violet. Dia sudah siap dengan alat tempurnya yaitu mainan yang sangat banyak yang dia beli kemaren.


Fabian menekan bel pintu rumah Jingga. Saat itu, Jingga sendiri yang membukakan pintu. Di belakang Jingga, berdiri Pak Harsha. Dia penasaran siapa yang datang berkunjung pagi ini. Ternyata dugaannya benar.


Fabian menoleh laki-laki yang berdiri di belakang Jingga. "Dia ayahku." Jingga memberi tahu Fabian karena keduanya baru pertama kali bertemu. Ada perasaan lega di hati Fabian karena dia sempat mengira mantan istrinya itu telah menikah dengan laki-laki yang usianya lebih tua darinya.


Fabian menerobos masuk kemudian mengulurkan tangan untuk memperkenalkan dirinya pada laki-laki yang merupakan orang tua dari mantan istrinya itu. "Saya Fabian."


"Aku telah mendengar banyak cerita tentang kamu dari JIngga," ucap Pak Harsha membalas perkenalan mantan suami Jingga.


Fabian menarik kembali tangannya. Dai jadi merasa kikuk berhadapan dengan ayah Jingga. "Masuk, Mas!" ajak Jingga.


"Tunggu di sini, aku akan bawa Violet padamu." Fabian mengangguk paham.


Pak Harsha menemani Fabian di ruang tamu. "Kamu pasti belum pernah melihatku? Aku dan Jingga baru saja dipertemukan. Semua ini berkat Adli, dia mencariku lalu mempertemukan aku dengan putriku yang telah lama aku tinggalkan."


Fabian merasa dirinya tidak lebih berharga dari Adli. 'Lihat saja nanti aku akan melakukan banyak hal untuk keluarga Jingga,' batin Fabian tak mau kalah.


Tak lama kemudian Jingga menggendong Violet yang sudah didandani cantik. Senyum mengembang di wajah tampan Fabian ketika melihat anaknya itu.


Fabian berdiri menyambut anaknya. Ketika dia akan menggendong Violet, di saat yang bersamaan Adli datang ke rumah Jingga.


Adli menatap tak suka pada Fabian. Begitupun dengan Fabian. Di antara mereka seolah ada kilatan petir yang keluar dari mata masing-masing pria itu.

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya?


__ADS_2