
Hari ini Wanda menemui Erik. Dia ingin menyampaikan kabar kalau Jingga akan menikah dalam waktu sebulan. "Apa? Jingga tidak bilang apa-apa ketika kami bertemu di restoran tadi siang?" kata Erik.
Wanda menggedikkan bahu. "Mungkin dia juga tidak akan memberitahuku kalau saja kami tidak berpapasan di kantor EO yang biasa aku kunjungi. Kebetulan hari ini aku menandatangani kontrak kerjasama dengan EO tersebut. Aku tidak sengaja berpapasan dengan Jingga dan juga kekasihnya. Mereka mengatakan bahwa mereka ke sana untuk memesan dekorasi pernikahan mereka. Ketika aku tanya, kekasihnya jawab sebulan lagi mereka akan menikah," terang Wanda panjang lebar. Dia pun sebenarnya terkejut waktu itu.
Erik menghembuskan nafas berat. "Memang sudah seharusnya dia mendapatkan kebahagiaan yang dia impikan. Selama menikah dengan Fabian, Jingga sama sekali tidak merasa bahagia. Aku bisa lihat dari ekspresi wajahnya setiap kali bertemu. Wajahnya tidak pernah mengisyaratkan keceriaan, hanya kesedihan yang selalu dia tunjukkan."
"Kamu benar, aku sebagai ibunya Fabian merasa malu akan sikap anak kita pada Jingga. Hatinya benar-benar dibutakan oleh istri pertamanya."
"Jangan menyalahkan dia. Semua ini tidak ada kaitannya dengan Lidia. Ini murni kesalahan Fabian."
"Apa kamu akan datang ke acara pernikahan Jingga sebulan lagi?" tanya Wanda.
"Tentu saja bagaimanapun aku telah anggap dia seperti anakku sendiri. Aku akan tetap datang jika dia mengundangku ke acara pernikahannya," jawab Erik.
Di tempat lain, Axel mendatangi Erika. "Bagaimana, apa kamu berhasil menaklukan Fabian?" tanya Axel.
"Aku gagal. Dia mengetahui aku berbohong," jawab Erika.
Plak
__ADS_1
"Dasar wanita tidak berguna. Begitu saja kamu tidak becus!" umpat Axel. Niatnya mengerjai Fabian ternyata tidak berhasil.
"Pergi kamu dari sini!" usir Axel dengan dada naik turun karena menahan marah.
Tak lama kemudian Edward, sepupunya datang. "Berhenti untuk menganggu Fabian. Karena ulahmu aku tidak bisa menemui Wanda lagi." Edward menyalahkan Axel.
"Memangnya apa yang kamu harapkan dari wanita tua itu, Bang?" tanya Axel tak mengerti.
"Kamu tidak tahu, Wanda adalah wanita yang royal. Dia akan memberikan apa saja jika kamu menurut padanya. Selama ini aku bisa mendapatkan apa yang aku mau dari dia," ungkap Edward. Axel tertawa renyah.
"Rupanya kau gi*golo mata duitan," ledek Axel.
"Itulah bedanya kita, Bang. Kelas kita berbeda. Kau tahu merasakan keperawanan mereka lebih ada sensasinya dibanding merasakan bekas seperti Tante Wanda," ledek Axel habis-habisan.
Ada rasa tidak suka ketika Edward berbicara kasar tentang Wanda. Bagaimana pun Wanda juga baik padanya. "Jangan libatkan aku pada rencana gilamu lagi. Aku tidak ingin mendapatkan masalah karena ulahmu," ucap Edward sebelum pergi. Dia benar-benar kecewa dengan perubahan sikap Axel.
Kemudian Axel berniat kembali ke apartemen miliknya. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Imam ketika sedang mengisi bahan bakar. "Gue kira lo udah mati," cibir Imam.
"Apa maksud perkataan lo itu?" tanya Axel tak terima didoakan meninggal oleh Imam.
__ADS_1
"Gue kira elo akan sembunyi selamanya setelah apa yang elo lakukan pada Fabian."
Axel tersenyum miring. "Gue hanya membalas perbuatannya. Dia udah mukulin gue," terang Axel.
"Elo sadar apa nggak kalau elo pantas dipukuli? Elo yang ganggu Jingga waktu itu, mana ada suami yang terima istrinya diganggu." Imam pun tak mau kalah dalam berdebat.
"Hah? Gara-gara Jingga, Lidia harus tersakiti. Elo tahu gue merelakan Lidia menikah dengan Fabian tapi dia malah mengkhianatinya."
"Asal lo tahu Lidia yang merencanakan pernikahan Jingga dan Fabian dari awal," ungkap Imam. Axel menjadi terkejut. Dia menyangkal perkataan Imam tapi Imam kembali memberikan alasan.
"Gue curiga dia juga yang membuat rencana agar Fabian memper"kosa Jingga hingga dia hamil. Yang elo pikir baik belum tentu sesuai pemikiran elo." Imam memilih masuk ke dalam mobil kemudian dia pergi.
Axel memukul bagian mobilnya karena kesal. Axel jadi menyesal telah menuduh Fabian.
Di tempat lain, Fabian tak sengaja menemukan sebuah flashdisk yang terjatuh di bawah meja yang ada di kamarnya. Dia membuka flashdisk itu untuk mengetahui isinya. Awalnya di mengira itu bahan meeting miliknya yang sedang dicari-cari. Namun, dia terkejut ketika itu adalah rekaman CCTV ketika dia melakukan pelecehan pada Jingga.
Fabian mengecek file yang lain ternyata flashdisk itu milik Lidia. Laki-laki itu merasa kecewa pada Lidia. Tapi dia tidak ingin menuduh istrinya sembarangan. Dia ingin mendengar penjelasan dari mulut Lidia langsung.
Ketika Fabian ingin menghampiri Lidia dia tak sengaja mendengar percakapan Lidia dengan seseorang. "Aku telah kehilangan anakku. Mungkin ini karena ulahku juga yang telah merencanakan pernikahan suamiku. Kalau bukan karena aku Mas Fabian tidak akan menghamili Jingga."
__ADS_1
Apa reaksi Fabian mendengar pengakuan Lidia tanpa sengaja?