Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Mengikhlaskan


__ADS_3

...Kehilangan bukan berarti harus melupakan. Terkadang kita harus berdamai dengan keadaan saat orang lain tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan. Walau kamu hilang dari pandanganku, tapi kamu tetap berada di hatiku. (Jingga)...


...***...


Sudah lebih dari tiga bulan, Jingga dan Adli kehilangan Violet. Mereka masih berduka. Namun, mereka yakin Violet bekum meninggal. Sebagai seorang ibu, Jingga merasa dadanya sakit sampai ke tulang rusuk jika mengingat anaknya.


Akan tetapi, dia tidak boleh terpuruk karena masih ada Albiru dan Cyan yang membutuhkan kasih sayangnya. Sementara Adli hanya bisa mendampingi dan menguatkan istrinya agar dia bisa melanjutkan hidup walau kehilangan Violet, sang buah hati tercintanya.


"Sayang, bagaimana kalau kita ajak Albiru dan Cyan jalan-jalan di taman?" usul Adli. Jingga mengangguk setuju. Jingga merasa dia butuh penyegaran.


Mereka turun di sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya. Jingga memakai dua stroller untuk meletakkan bayi Biru dan Cyan. "Bagaimana perasaan kamu, Sayang?" tanya Adli.


"Lebih baik, Mas. Udaranya di sini sangat sejuk. Mataharinya juga cukup tidak terlalu panas," jawab Jingga.


"Oh iya, kita sudah lama tidak menjenguk mama Wanda. Bagaimana kalau kita sempatkan mampir setelah dari sini," usul Jingga. Adli mengangguk setuju.


Ketika Jingga mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman, dia melihat anak perempuan yang seumuran dengan Violet. Mata Jingga berkaca-kaca. Dia membayangkan saat Violet sedang berlari ke arahnya. Adli menyelusuri pandangan mata Jingga. Kini dia tahu kenapa Jingga menetes air mata.


"Sayang, ikhlaskan Violet. Jika kamu seperti ini terus tidak baik untuk kesehatan kamu. Lagi pula masih ada Biru dan Cyan yang bisa menggantikannya," tutur Adli.


"Sampai kapanpun aku tidak bisa melupakan anak perempuanku, Mas. Dia anak pertamaku. Dialah yang membuat aku ceria setelah aku mengalami keterpurukan," jawab Jingga.


Adli menghela nafas. "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud apa-apa. Kamu boleh memikirkan Violet tapi jangan sampai menganggu kesehatan kamu. Ingat kedua bayi ini masih membutuhkan air su*sumu. Jika kamu stress seperti ini, bagaimana bisa memberikan asupan gizi untuk mereka?"


Jingga terdiam ketika mendengar ucapan Adli. Dia merasa bersalah pada Biru dan Cyan. Dua bayi laki-laki itu tampak anteng di dalam strollernya masing-masing.


"Apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Adli pada sang istri.

__ADS_1


"Kita mampir ke rumah Mas Fabian ya, Mas. Aku ingin menjenguk Mama Wanda. Aku tidak enak karena hingga kini aku belum menengoknya," ucap Jingga setengah memohon. Adli mengizinkan istrinya menemui mantan ibu mertuanya itu.


Ketika mereka sampai di depan rumah Fabian, Lidia sedang keluar sambil menyeret kopernya. Adli dan Jingga tidak mau ikut campur. Urusan mereka hanya ingin menjenguk Mama Wanda tidak lebih.


"Adli, Jingga silakan masuk!" Fabian mengajak sepasang suami istri itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Semenjak kehilangan Violet, Fabian dan Adli menjadi akur. Sejak mengetahui Violet hilang, kedua laki-laki tersebut bekerja sama untuk mencari keberadaan Violet meskipun hasilnya nihil.


"Bagaimana kabar mama?" tanya Jingga.


Fabian menghela nafas. "Belum ada perubahan. Dia masih saja lingkung semenjak kecelakaan yang dia alami," jawab Fabian.


"Apa sudah meminta bantuan papa?" tanya Jingga.


"Sudah. Namun, papa bilang benturan di kepala mama menyebabkan memori otaknya hilang sebagian. Dia jadi tidak bisa mengingat. Parahnya lagi karena usianya di atas empat puluh, penyakitnya itu diperparah dengan penyakit lain sehingga membuat mama jadi lingkung," ungkap Fabian. Adli dan Jingga merasa kasian kepada wanita itu.


Erik yang berniat menikahi mantan istrinya lagi jadi batal karena kondisi Wanda yang tidak memungkinkan. Selain itu, Fabian dan Lidia jadi sering bertengkar semenjak Wanda tingga di rumah putranya. Lidia capek mengurusi ibu mertuanya itu. Dia sering marah-marah karena tidak sabar menghadapi sikap Wanda yang seperti anak kecil.


"Aku akan minta asisten rumah tangga untuk membuatkan minum untuk kalian," ucap Fabian yang merasa tidak enak karena lupa menawarkan sesuatu pada tamunya.


"Ah, tidak usah. Kami hanya sebentar saja. Lagi pula kami mengajak anak-anak jadi sebaiknya kami pulang saja," sahut Adli menanggapi ucapan Fabian. Fabian memakluminya.


"Baiklah, terima kasih karena kalian telah menyempatkan diri untuk mengunjungi mama. Jingga soal Violet sebaiknya kamu ikhlaskan dia. Kita sudah berupaya semaksimal mungkin, tali hasilnya nihil. Aku bukan menyuruh kamu melupakan dia. Namun, lanjutkan hidupmu dengan bahagia. Violet pasti mengerti. Jika dia masih hidup di luar sana, aku berharap suatu hari kita akan bertemu dengan dia dalam keadaan sehat."


Fabian sudah melalui banyak hal yang membuat hidupnya berubah menjadi lebih baik. Walau Jingga hanya mantan istrinya, tapi jauh di lubuk hati Fabian dia masih menyayangi wanita itu. Terlebih Jingga adalah ibu kandung Violet.


"Terima kasih, Mas. Aku akan ingat pesanmu," balas Jingga. Kini Adli membawa Jingga dan kedua bayinya masuk ke dalam mobil.


"Kami pulang," pamit Adli. Fabian mengangguk.

__ADS_1


Sementara itu Lidia menumpang di rumah adiknya, Diva. Dia tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya karena dia tidak mau membuat ibunya cemas. Riwayat penyakit ibunya yang berhubungan dengan penyakit jantung menjadi bahan pertimbangan Lidia agar dia tidak menceritakan apa yang dia alami.


"Makasih, Diva. Sementara ini aku akan tinggal di rumahmu sampai aku mendapatkan apartemen baru," ucap Lidia.


"Tapi aku tidak menjamin rahasiamu, Kak. Jangan salahkan aku jika ibu tahu yang sebenarnya," ucap Diva.


"Jangan khawatir dia tidak akan tahu jika kamu tidak bercerita," balas Lidia.


"Baiklah, terserah kamu," ucap Diva yang tidak mau terbawa dalam urusan rumah tangga Lidia.


Lidia pun berganti pakaian. Dia merebahkan diri ketika badannya mulai lelah. "Semenjak aku mengurusi orang tua itu, aku jadi jarang istirahat," keluh Lidia.


Tiba-tiba lampu yang dimatikan oleh Lidia hidup kembali. Lidia jadi terkejut. "Lho, Kak Lidia ada di sini?" tanya suami Diva.


"Iya, aku menginap di sini sementara waktu," jawab Lidia.


Suami Diva tiba-tiba duduk di tepi ranjang yang ditempati oleh Lidia. "Kenapa? Berantem sama suaminya?" tanya suami Diva dengan lembut. Lidia mengerutkan kening. Dia tidak terbiasa mendapatkan perlakuan manis dari laki-laki lain.


Lidia yang merasa tidak enak pada sang adik berusaha menghindari adik iparnya itu. "Aku ingin keluar! Di sini sangat gerah," ucap Lidia terbata-bata.


Ketika Lidia baru saja bangun, tangannya tiba-tiba ditarik oleh laki-laki itu. Lidia jadi terduduk di pangkuannya. "Sebaiknya aku saja yang keluar," bisik laki-laki itu di telinga Lidia.


Lidia yang sudah lama tidak mendapatkan kehangatan dari suaminya meremang ketika suami Diva berbisik di telinganya. Buku kuduknya merinding. Namun, dia mencoba menahan diri.


Setelah itu suami Diva berdiri. Dia mengulas senyum sebelum benar-benar keluar dari kamar yang ditempati oleh Lidia.


...***...

__ADS_1


Hari ini aku up banyak doain kuat ya, jangan lupa tinggalkan jejak ♥️


__ADS_2