
Vio tidak mengerti kenapa Justin menghadangnya ketika dia ingin pergi. "Maksud kamu apa?" tanya Vio.
Justin ingin menepis jarak di antara mereka. Vio tahu kalau laki-laki itu ingin menciumnya, jadi Vio menendang bagian inti Justin. Untung saja laki-laki itu tanggap. Dia berhasil menepis lutut Violet dan berganti menggendongnya.
"Lepaskan! Lepaskan!" Violet memberontak sambil memukul dada bidang Justin. Lalu Justin meletakkan Vio di sofa secara perlahan.
"Duduklah dulu ada orang lain yang harus kamu temui." Violet mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba keduanya menoleh ketika mendengar suara pintu dibuka secara kasar. "Mama, di mana mama?" tanya Sabrina.
Ketika anak kecil itu melihat Violet, dia datang memeluknya. Violet melihat ke arah Justin. Dia bingung mengapa anak itu memanggilnya mama. Sesaat kemudian, Justin menyuruh Sabrina melepas pelukannya. "Tidak mau. Mama kenapa mama baru kembali?" tanya Sabrina.
Violet bingung harus menjawab apa. "Sabrina, boleh papa pinjam Mama sebentar?" Anak itu mengangguk patuh.
Justin mengulurkan tangannya ke arah Violet. Gadis itu pun menyambutnya lalu berdiri. "Dia Sabrina, anakku dengan mendiang istriku. Usianya enam tahun. Istriku meninggal setelah melahirkan dia. Aku membesarkan dia seorang diri. Itulah kenapa nenek selalu ingin menjodohkan aku pada banyak wanita."
Violet merasa melihat masa kecilnya di diri Sabrina. Walau alasan mereka tidak punya orang tua berbeda, tapi Violet tahu rasanya hidup dan tumbuh besar sendiri.
Violet bisa melihat kejujuran di mata Justin. "Kamu menikah di usia berapa?" tanya Violet dengan lembut.
"Usia dua puluh satu tahun, saat itu aku sedang menghadapi ujian skripsi dan kekasihku hamil ketika kami masih sama-sama kuliah."
Violet tidak menyangka kisah hidup Justin amat rumit. "Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Pertanyaan Violet membuat Justin sedikit tidak percaya. Dia mengira Violet akan mundur karena Justin banyak menuntutnya.
"Berpura-puralah sebagai ibu Sabrina. Aku tidak pernah memperkenalkan dia pada seorang wanita, tapi aku percaya kamu bisa memerankan peran itu." Violet mengangguk paham.
Sesaat kemudian, Violet memanggil Sabrina. "Sabrina." Sabrina berlari ke pelukan Violet.
"Mama, kenapa lama sekali berbicara dengan papa?" tanya anak itu sambil mendongak.
"Tidak ada apa-apa. Sabrina sudah makan?" tanya Violet. Sabrina mengangguk.
"Bagaimana kalau kita beli makan?" tanya Violet.
"Tidak, aku ingin mama yang memasak. Teman-temanku selalu pamer masakan ibunya, aku juga ingin melakukan hal yang sama," ucap gadis kecil itu dengan wajah sendu.
"Baiklah, mama akan memasak untukmu," jawab Violet.
__ADS_1
"Rian, antar mereka ke rumah!" perintah Justin pada sopir pribadinya.
"Baik, Pak."
Rian mengajak Violet dan Sabrina ke parkiran mobil. Mereka diantar ke kediaman Justin. Sepanjang jalan, Violet mengajukan banyak pertanyaan sekalian mengobrol dengan Sabrina. Hingga tak terasa mereka sampai di kediaman Justin.
"Mama, ayo turun!" ajak Sabrina.
Sabrina langsung mengajak Violet ke dapur. "Mamaku ingin memasak untukku," ucap Violet pada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.
"Baik, Nona. Silakan nyonya..." Pelayan itu bingung harus memanggil dengan nama siapa.
"Putri, namaku Putri," jawab Violet. Ya, dia harus menjadi Putri agar identitasnya tidak diketahui siapa pun.
"Baiklah, Nyonya. Anda bisa memakai dapur ini. Semua bahan ada di dalam kulkas." Violet mengangguk paham. Setelah itu Violet memakai celemek untuk memasak. Dia memasak banyak menu sehat untuk Sabrina. Sabrina menonton wanita yang dianggap ibunya itu di meja yang tak jauh dari tempat Violet memasak. Sesekali dia bertanya tentang apa yang membuat dia penasaran hingga Vio kewalahan menjawabnya.
Setelah lebih dari satu jam Violet selesai memasak. "Tara... Makanannya sudah siap," ucap Violet.
"Wah, cantik. Apa aku boleh mencicipi?" tanya Sabrina yang penasaran dengan rasanya.
"Rasanya enak, Ma," puji Sabrina.
Setelah itu, Violet menyuapi Sabrina hingga habis satu piring nasi. "Tambah lagi ya?" bujuk Violet.
"Aku udah kenyang, Ma. Sekarang aku mengantuk," ucap anak itu sambil menguap.
"Habis makan sebaiknya jangan tidur dulu, Sayang. Nanti perut kamu sakit." Sabrina berkaca-kaca ketika mendengar Violet memanggilnya 'sayang'.
"Mama, habis ini tidak akan pergi lagi bukan?" tanya Sabrina. Vio bingung harus menjawab apa.
"Mama tidak akan pergi, Sabrina," sahut suara bariton itu. Rupanya dia kembali bekerja lebih awal. Justin ingin memastikan apakah Violet bisa menghadapi Sabrina atau tidak.
"Apa kamu yang memasak semua ini?" tanya Justin. Violet mengangguk tanpa bersuara. Justin mengambil sendok dan mencicipi sedikit.
"Kamu memang ibu yang sempurna," puji Justin. Wajah Violet langsung memerah. Dia pun reflek mengambil gelas air dan minum dengan cepat.
"Papa, aku mengantuk," rengek Sabrina.
__ADS_1
"Baiklah, ayo ke kamarmu!" ajak Justin. Saat dia ingin menggendong putrinya itu, Sabrina menolak.
"Aku ingin tidur dengan mama." Justin menatap Violet. Vio bisa melihat Justin sedang memberikan kode agar dia menerima permintaan anaknya. Violet pun hanya bisa pasrah.
"Tunggu!" perintah Justin. Dia mendekat ke arah Vio. Tiba-tiba dia mengusap pipi Vio dengan lembut. Vio memejamkan mata hingga membuat Justin menahan tawa. "Aku hanya ingin membersihkan wajahmu yang terkena kotoran," ucap Justin. Violet kembali membuka mata.
'Aku salah paham.' Ada perasaan malu ketika berhadapan dengan Justin. Vio cepat-cepat menghindar dari laki-laki itu. Dia mengajak Sabrina ke kamarnya.
"Wah, kamar kamu bagu sekali," puji Vio.
Sabrina naik ke atas ranjangnya yabg empuk. "Mama sini, peluk aku! Aku kangen sama mama," pinta Sabrina.
Violet hanya bisa menuruti kemauan anak itu. Perlahan Sabrina mulai memejamkan mata. Vio meninggalkan kamarnya ketika anak kecil itu sudah tertidur pulas. Vio keluar dengan cara mengendap-endap sambil menenteng sepatunya. Ketika dia sudah berhasil keluar, Vio terkejut karena Justin sudah ada di belakangnya.
"Apa dia...?" Justin ingin bertanya tapi Violet menutup mulut laki-laki itu dengan satu jari. "Sst, jangan berisik!" ucap Vio sambil berbisik. Justin terkejut ketika tangan Vio menempel di bibirnya.
Setelah itu, mereka berjalan menjauh. Vio kembali memakai sepatunya. "Aku ingin pamit," ucap Vio.
"Bagaimana dengan Sabrina? Kalau dia bangun lalu menanyakan dirimu?"
"Carilah alasan sementara. Aku tidak bisa tinggal di sini. Besok aku akan datang lagi ke sini." Violet hendak pergi tapi Justin menahannya.
"Apa lagi?" tanya Violet kesal.
"Biarkan Rian mengantarmu pulang."
"Tidak usah, nanti malah jadi pusat perhatian di tempat tinggal aku. Aku hanya tidak ingin memperoleh masalah karena dikira sebagai wanita tidak baik oleh mereka."
"Lalu kamu akan pulang naik apa dengan dandanan kamu yang seperti ini?" Justin memperhatikan Violet yang masih memakai gaun yang sek*si itu.
"Naik ojek seperti ketika aku berangkat," jawab Violet.
"Aku tidak mengizinkanmu."
"Hah? Jangan mengaturku!" Violet berjalan melewati Justin. Justin secepat kilat meraih tangannya hingga Violet berbalik badan dan memeluk dada bidang calon suaminya.
"Mulai saat ini kamu akan terikat denganku karena aku calon suamimu."
__ADS_1