
Fabian sedang melakukan pertemuan dengan kliennya di sebuah hotel yang berada di pinggir pantai. Usai melakukan kesepakatan Fabian duduk menikmati pemandangan pantai sebelum dia pulang. Namun, matanya tak sengaja melihat anak kecil yang bermain sendirian. "Violet," ucap Fabian.
Dia pun segera menghampiri anak itu. "Vio, kamu sedang apa di sini?" tanya Fabian.
"Om, aku sedang menggambar pasir," jawab gadis kecil itu tanpa takut.
Dia sudah bisa mengenali Fabian karena dia masih ingat saat laki-laki itu datang ke rumahnya dan memberinya mainan. Namun, Violet belum terbiasa memanggilnya dengan sebutan ayah atau semacamnya sebab mereka kurang akrab.
"Kamu sama siapa?" tanya Fabian.
"Aku sama Om Rizky tapi dia pergi," jawab Violet dengan polos.
"Ikut papa yuk!" ajak Fabian.
"Papa tadi sama mama," ucapnya seolah meralat ucapan Fabian.
"Maksud aku ikut Om kita beli es krim dan mainan nanti Om bawa kamu ke orang tua kamu." Ada rasa sesak di dada laki-laki itu ketika anak kandungnya sendiri tidak mengakui dirinya sebagai orang tua.
'Mungkin ini karma bagiku karena aku tak mengakui dia sebagai anakku dulu,' batin Fabian menangis dalam hati.
"Yuk! Om gendong ya," bujuk Fabian. Dia membersihkan tangan Violet sebelum pergi.
Di tempat lain, Rizky bingung harus mencari di mana Violet. Sedangkan di pantai tidak ada CCTV yang terpasang di sana. Rizky merasa putus asa. "Mas kita harus mencari Violet ke mana lagi?" tanya Talita. Rizky hampir saja melupakan gadis itu.
"Sebaiknya aku antar kamu pulang dulu. Nanti aku akan cari Vio lagi," ucap Rizky.
"Tidak! Aku ikut. Bagaimana pun ini juga karena aku."
Rizky menghela nafas berat. "Aku tidak mau kamu sakit. Jangan menambah bebanku." Tanpa sadar ucapan Rizky menyakiti hati Talita.
__ADS_1
'Apa? Beban? Apakah aku begitu merepotkan?' tanya Talita dalam dirinya.
"Baiklah, antar aku pulang," ucap Talita dengan nada sendu. Rizky kurang memperhatikan Talita karena pikirannya sedang kalut.
Sementara itu, Adli masih menunggu kabar dari sang adik. "Mas, bagaimana? Apa sudah ada kabar dari Rizky?" tanya Jingga yang cemas memikirkan anaknya.
"Kamu yang sabar ya. Nanti twins jadi stres di dalam sini." Adli mengusap perut Jingga. Jingga mengangguk patuh.
"Aku keluar sebentar aku akan meminta mama Wanda menemani kamu," ucap Adli.
Adli pun menelepon mama Wanda. "Ma, aku bisa minta tolong?" tanya Adli.
"Minta tolong apa?" tanya mama Wanda. Ketika mama Wanda berbicara terdengar suara anak kecil.
"Ma, apa itu suara...?" Adli ingin menebak tapi takut salah.
"Iya, Violet ada di sini sama Fabian," jawabnya. Adli langsung mengepalkan tangan.
"Sayang, Violet ada di rumah Mama Wanda," ucap Adli. Jingga terkejut sekaligus senang.
"Ayo kita ke sana sekarang, Mas!" Jingga menarik tangan suaminya.
Adli mengendarai mobil menuju ke rumah Mama Wanda. Sesampainya di sana, Adli langsung berjalan cepat menemui penghuni rumah tersebut. "Vio," panggil Adli. Violet langsung berlari ke pelukan ayah sambungnya itu.
"Papa, aku lagi main sama Om Fabian dan nenek," ucap Violet dengan polosnya. Adli memberi tatapan tajam pada Fabian.
"Bagaimana bisa kamu menculik Violet?" tuduh Adli.
Fabian tersenyum sinis. "Apa ada orang tua yang menculik anaknya sendiri? Bukannya kamu yang mengabaikan Violet? Tega-teganya meninggalkan dia sendirian di pantai." Fabian balik menuduh Adli.
__ADS_1
"Sudah-sudah! Jangan bertengkar di depan anakku. Kalau kalian mau berantem silakan! Aku akan pulang sendiri membawa Violet," ancam Jingga.
Adli pun mengalah. Dia pamit pada Mama Wanda lalu melewati Fabian begitu saja. Fabian pun sama halnya dengan Adli yang membuang muka saat berpapasan dengan laki-laki itu.
Adli membukakan pintu mobil untuk anak dan istrinya. Mereka kembali ke rumah. Adli mengabari adiknya kalau Violet sudah ketemu. "Hah, ketemu di mana, Bang?" tanya Rizky. Dia merasa lega mendengar kabar tersebut.
"Nanti saja aku ceritakan. Aku sedang mengendarai mobil," ucap Adli.
"Baiklah, aku akan ke rumahmu," balas Rizky.
Setelah itu dia mengabari Talita. "Bisakah kamu ikut denganku? Violet sudah ketemu. Maukah kamu menemaniku meminta maaf padanya?" tanya Rizky dengan sungkan.
"Talita drop, sekarang dia dirawat di rumah sakit," ucap Pak Azam yang menjawab telepon dari Rizky. Rizky sangat terkejut. Dia pun segera menuju ke rumah sakit di mana Talita dirawat.
"Om, bagaimana keadaan Talita?" tanya Rizky pada Azam.
"Dia masih di ruang ICU. Ketika di rumah dia mengeluh sakit kepala. Aku langsung membawa Talita ke rumah sakit karena hidungnya mengeluarkan darah," ungkap Pak Azam.
"Om, Talita bagaimana?" tanya Edward yang baru datang.
"Dia ada di ICU," jawab Pak Azam dengan wajah sendu.
"Kenapa dia sampai begini?" tanya Edward. Pak Azam menggeleng.
Sesaat kemudian dokter yang memeriksa Talita keluar. "Kami sudah memeriksa Talita. Ada bagian otaknya yang mengalami pecah pembuluh darah. Dia harus dioperasi. Tapi ...."
"Tapi apa, Dok?" tanya Pak Azam.
"Resikonya sangat tinggi. Kalau sampai gagal nyawanya tidak akan tertolong," jawab dokter tersebut. Ketiga laki-laki yang menyayangi Talita menjadi lemas mendengar ucapan dokter.
__ADS_1
Rizky merasa bersalah. Kalau dipikir-pikir ini karena lemparan bola yang mengenai kepalanya. Talita memang mengalami kanker otak. Rizky pun tidak tahu kalau akan separah itu. Dia mengusap wajahnya gusar. Kali ini dia takut nyawa Talita tak tertolong.
Apakah Rizky akan mengaku kalau semua ini akibat dirinya? Akankah operasi Talita berhasil?