
Hari ini Adli mengajak Jingga dan Violet mampir ke rumah sebentar. Mereka berniat mencari EO tapi Adli tak sengaja meninggalkan dompetnya. "Kamu tunggu di sini sebentar ya," tutur Adli dengan lembut pada Jingga. Jingga pun menurut.
Dia mengajak Violet duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tak lama kemudian Karin muncul. Dia baru pertama kalinya bertemu Jingga. "Kamu siapa?" tanya Karin menatap Jingga tak suka.
"Saya Jingga," jawabnya.
'Ow ini wanita yang diceritakan sama Mario. Katanya baru tunangan tapi kok ngajak bayi?' tanya Karin dalam hati.
"Kamu janda ya?" tebak Karin. Jingga terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh wanita yang baru dia temui itu.
Adli mengepalkan tangan ketika mendengar pertanyaan Karin. "Tutup mulut kamu!" Kemudian dia merangkul bahu Jingga.
"Dia siapa Mas?" tanya Jingga pada Adli.
"Wanita nggak penting," jawab Adli ketus.
"Mas..." Jingga menghentikan langkahnya.
"Ibunya Mario. Mantan istrinya papa. Dia menumpang sementara karena rumahnya diperbaiki," jawab Adli kemudian. Jingga barulah mengerti alasan kehadiran wanita itu.
"Jangan sampai kamu bertemu dengan wanita itu lagi. Dia ular. Aku tidak mau kamu tersakiti olehnya." Jingga tersenyum menanggapi ucapan Adli.
"Terima kasih banyak untuk perhatian kamu, Mas. Jadi kita kapan berangkat?" tanya Jingga.
Adli terkekeh. "Maaf, ayo kita berangkat sekarang!" Adli membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.
Setelah memastikan Jingga masuk barulah dia berputar lalu masuk ke dalam mobil. Adli menyalakan mesin. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Violet tertidur dalam pangkuan Jingga.
"Sepertinya kita perlu car seat bayi," gumam Adli.
"Tidak perlu, Mas. Aku udah biasa pangku Violet seperti ini," jawab Jingga.
"Aku lihat dia mudah sekali tertidur. Apa tidak perlu minum susu dulu. Ehem, maksudku minum ASI." Adli merasa tidak enak membahas soal itu.
"ASIku kurang lancar jadi aku sambung dia dengan susu formula. Tapi karena dia sudah mulai makan, jadi sekarang dia tidak minum susu," jawab Jingga. Adli manggut-manggut. Sepertinya dia ingin belajar banyak tentang pertumbuhan anak agar dia juga bisa merawat Violet nantinya.
__ADS_1
"Jingga, kamu percaya padaku bukan?" tanya Adli mendadak serius.
"Maksudnya?" tanya Jingga bingung.
"Kamu percaya kalau aku bisa membahagiakan kamu bukan? Aku akan belajar apapun untuk memahami kamu. Aku tahu kamu masih trauma pasca perceraian kamu. Tapi aku janji aku akan membuat kamu move on."
Jingga terkekeh mendengar kata-kata Adli. "Mas ini bicara apa sih? Jangan berpikiran yang aneh-aneh Mas. Aku percaya kok kalau Mas Adli bisa membahagiakan aku dan Violet."
"Syukurlah, aku kira kamu masih memikirkan mantan suami kamu," tebak Adli.
"Jangan bicarakan dia, Mas! Aku ingin membuka lembaran baru bersama kamu dan Violet jadi bantu aku melupakan dia." Adli mengangguk setuju.
Sesampainya di depan kantor sebuah EO mereka turun. Kebetulan Violet sudah bangun. Tapi dia sama sekali tidak menangis. "Eh, anak papa udah bangun. Sini gendong papa aja." Adli mengambil alih gendongan dari tangan Jingga.
Hati Jingga menghangat ketika Violet mau digendong oleh Adli. Mungkin karena sudah terbiasa pikir Jingga. Bisa jadi anak itu mengira Adli adalah ayahnya karena laki-laki yang sering ditemui saat itu adalah Adli.
Mereka bertiga masuk ke dalam kantor tersebut. Di saat yang bersamaan mereka berpapasan dengan Wanda. "Jingga," panggil Wanda.
"Apa kabar Ma?" Jingga masih memperlakukan mantan mertuanya itu dengan baik.
"Kami akan menikah secepatnya jadi kami datang ke sini untuk mengurus semua kebutuhan yang diperlukan untuk persiapan pernikahan kami," sela Adli.
"Menikah?" tanya Wanda yang tak percaya pada penuturan Adli. Jingga mengangguk membenarkan ucapan calon suaminya.
"Kamu belum cerita sama mama. Lalu anak itu?" tunjuk Wanda.
"Dia anakku, Ma," jawab Jingga.
"Cucuku?" Jingga mengangguk. Wanda langsung merebut gendongan dari tangan Adli. Adli ingin melarang tapi Jingga memberikan kode pada Adli agar membiarkan Wanda menggendong anaknya.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Wanda.
"Sebulan dari sekarang," jawab Adli. Jingga terkejut pasalnya Adli tiba-tiba memutuskan tanpa bicara dulu padanya.
"Mama akan urus kateringnya. Kebetulan restoran mama bekerja sama dengan EO di sini."
__ADS_1
"Baik, Ma." Adli terkejut ketika Jingga langsung mengiyakan. Seperti tidak memiliki keraguan sedikit pun.
Wanda mengembalikan anak Jingga. "Kabari mama jika perlu sesuatu. Meski kamu sudah tidak lagi bersama Fabian tapi mama tetap menyayangi kamu Jingga."
"Iya, Jingga tahu Ma. Aku ucapkan terima kasih banyak mama mau menjadi sponsorku."
"Jangan larang aku bertemu dengan cucuku jika kalian sudah resmi menikah," ujar Wanda pada Adli dengan ketus. Setelah itu dia pergi.
"Hah? Kenapa hari ini aku bertemu dengan dua wanita tua yang sama-sama menyebalkan," keluh Adli. Jingga terkekeh. Violet pun ikut tertawa.
Usai menyelesaikan urusan mereka di kantor EO, Adli mengajak Jingga makan di sebuah restoran. Lagi-lagi mereka berpapasan dengan orang yang tak terduga. Kali ini mereka bertemu dengan Erik.
Saat itu Erik dan David baru saja memesan makanan di saat jam makan siang. David sengaja mentraktir Erik, sahabatnya karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Papa," panggil Jingga saat mereka bertatap muka.
Erik berdiri. Dia langsung memeluk Jingga. Adli mengepalkan tangan menahan amarah ketika Erik memeluk Jingga tanpa permisi.
"Bagaimana kabarmu?" Sesaat kemudian matanya mengarah ke gadis kecil yang sedang digendong Jingga.
"Dia Violet?" tanya Erik memastikan. Jingga mengangguk. Erik mengambil Violet. Dia menciumi pipi gembul bayi itu berulang kali. Violet malah menangis. Dia merasa asing pada Erik.
"Mungkin dia takut karena baru pertama kali bertemu." Jingga mengambil alih gendongan Violet dari tangan Erik.
Adli mengulas senyum tipis. "Sini-sini biar aku saja yang gendong." Benar saja saat Adli menggendongnya Violet diam. Erik menatap tak percaya.
"Mas, sebaiknya kita pesan makanan dulu." Jingga seolah bisa membaca suasana. Dia mengajak Adli ke meja lain.
"Mas, mau pesan apa?" Jingga membukakan buku menu untuk calon suaminya.
"Terserah kamu," jawab Adli. Dia mencium pipi Violet dan mengajaknya bermain. Erik merasa cemburu.
"Dia itu cucuku, Dave. Kenapa dia malah lebih akrab dengan laki-laki itu?" Erik merasa tidak terima. David terkekeh melihat tingkah Erik.
"Jangan seperti anak kecil yang berebut mainan. Kamu ini sudah tua, Rik. Cucu kamu takut karena dia asing dengan wajahmu. Mungkin lain kali perlu operasi plastik agar jauh lebih tampan dari pada pacar Jingga," goda David yang malah mendapatkan tatapan tajam dari Erik.
__ADS_1