
Adli mengantarkan Jingga hingga ke depan rumah. "Terima kasih sudah mengantarkan aku dengan selamat," kata Jingga.
Adli tersenyum. "Tidak perlu sungkan Jingga. Aku tidak keberatan mengantar kamu."
Adli memang seperhatian itu pada Jingga. Tapi sayangnya Jingga tidak bisa membalas karena dia masih status istri Fabian.
Tak lama kemudian mobil Fabian tiba-tiba berhenti di samping mobil Adli. Dia turun dan menghampiri laki-laki itu. "Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Fabian tidak ramah.
"Mas, jangan seperti itu. Kak Adli hanya mengantarkan aku." Jingga berusaha melerai agar di antara Fabian dan Adli tidak terjadi pertikaian.
"Aku laki-laki yang peduli pada wanita. Jika aku jadi kamu mana mungkin aku membiarkan istriku yang sedang hamil besar jalan sendirian," sindir Adli. Rupanya Fabian tidak terima dengan ucapan Adli. Fabian pun melayangkan pukulan ke wajah Adli.
"Mas jangan!" teriak Jingga ketakutan. Adli jatuh tersungkur. Jingga ingin menolongnya tapi Fabian menarik tangan Jingga. Dia membawa Jingga masuk ke rumah kemudian mengunci pintu.
Sementara itu Adli mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Kemudian dia bangkit dan memasuki mobil.
"Kamu sudah berani membawa laki-laki ke rumah tanpa seizinku?" bentak Fabian.
"Apa pedulimu, Mas?" tantang Jingga. Dia muak dengan sikap Fabian yang sok peduli padahal selama ini Fabian tak pernah memperhatikan dirinya.
"Kamu berani pada suamimu?" tanya Fabian dengan nada meninggi.
"Aku tidak ingin melawan kamu, Mas. Tapi sikapmu keterlaluan."
"Sikapku yang mana? Apa karena aku memukul pacar kamu?"
Plak
Jingga tidak terima dia dituduh berselingkuh. "Cukup Mas! Cukup kamu menyakiti aku. Jangan menuduhku sembarangan. Cukup kamu menyia-nyiakan aku selama ini. Aku memang istri kedua tapi apa aku salah jika minta diperhatikan oleh suamiku sendiri?" Jingga menangis sesenggukan.
"Aku tidak bisa terus memperhatikan kamu. Lidia sedang hamil maka aku akan lebih memperhatikan dia."
__ADS_1
Jingga bagai disambar petir di siang bolong ketika mendengar ucapan Fabian. 'Lalu apa aku ini tidak layak mendapatkan perhatian dari kamu Mas? Aku juga mengandung anakmu,' batin Jingga menangis.
Hatinya sakit bagai ditusuk ribuan pisau. Suaminya terang-terangan mengungkapkan kalau dirinya tidak peduli pada Jingga.
Jingga tersenyum sinis. "Jadi kamu tetap pada rencana awal, Mas? Menceraikan aku setelah aku melahirkan?" tanya Jingga dengan nada dingin.
"Aku belum tahu." Fabian melenggang pergi setelah mengatakan itu.
Jingga terduduk lemas di lantai. Dia menangis tertahan. Rasanya sakit sesakit-sakitnya setelah mendengar istri pertama suaminya hamil. Padahal dialah yang membuat Fabian akhirnya menikahi Jingga.
"Kamu tidak mau menceraikan aku tapi kami terus menyakiti hatiku, Mas. Apa maumu sebenarnya?" gumam Jingga di sela-sela tangisannya.
Fabian sungguh laki-laki yang tidak punya pendirian. Dia tidak mau melepas Jingga tapi dia juga tidak mencintai Jingga.
Setelah lelah menangis Jingga tertidur begitu saja di lantai. Untung saja lantai itu beralaskan karpet. Tak lama kemudian Fabian kembali untuk mengambil sesuatu yang dia kira terjatuh di rumah Jingga.
Laki-laki itu kaget ketika melihat Jingga tiduran di lantai. Setelah dia periksa ternyata Jingga hanya tertidur. Fabian pun bernafas lega. Dia memindahkan Jingga ke kamar karena tidak tega. Setelah itu Fabian menaikkan selimut untuk Jingga. Sebelum dia pergi, laki-laki yang jarak usianya jauh di atas Jingga itu mengusap kepala Jingga.
Jingga terbangun pada tengah malam. Perutnya terasa lapar. Wanita itu terkejut ketika dia menyadari saat ini dia berada di dalam kamar. "Siapa yang memindahkan aku ke sini?" gumam Jingga.
Tak mau berpikir lama, dia segera turun dari ranjang kemudian berjalan ke dapur. Jingga ingin menggoreng telur yang telah dicampur dengan bawang dan cabai. Entah kenapa saat itu kompor yang dia pakai tiba-tiba meledak.
Di saat yang bersamaan Adli kembali ke rumah Jingga. Dia lupa memberikan hadiah yang telah dibeli untuk anak Jingga nanti. Tapi sebenarnya dia merasakan firasat buruk akan menimpa Jingga jadi dia putuskan untuk kembali.
Ketika Adli menatap rumah Jingga, api tampak berkobar dari jendela samping rumahnya. Adli pun berlari ke rumah Jingga. Dia bisa dengan mudah menerobos masuk ke dalam rumah Jingga karena saat itu Jingga belum sempat mengunci rumah.
Adli mencari keberadaan Jingga. Ketika dia memasuki dapur asap mengebul begitu pekat. Dia pun menutup hidungnya dengan lengan. Mata Adli menemukan Jingga dalam keadaan terkapar di lantai.
Setelah itu Adli menggendong Jingga dan membawanya keluar. Para warga yang melihat kejadian itu langsung berdatangan. Mereka membantu memadamkan api dengan alat seadanya.
"Pak tolong urus rumah ini. Saya akan membawa korban ke rumah sakit," perintah Adli pada petugas keamanan yang datang.
__ADS_1
"Baik, Pak."
Adli mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di sana dia memanggil perawat agar Jingga mendapatkan perawatan.
Kebetulan saat itu Aksa, adik ipar Fabian sedang bertugas di rumah sakit tersebut. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Aksa pada Adli. Adli mengerutkan kening dan merasa cemburu ketika laki-laki di depannya itu seolah mengenal Jingga.
"Anda siapa?" respon Adli.
"Saya Aksa, dia itu istri kakak ipar saya," jawab Aksa.
"Saya menemukan dia di rumah dalam keadaan pingsan. Rumahnya kebakaran," kata Adli memberi tahu.
"Suaminya ke mana?" tanya Aksa lagi. Adli menggedikkan bahu.
"Jika ada suaminya di sana tidak mungkin saya yang mengantar dia ke rumah sakit," jawabnya ketus.
Aksa mengepalkan tangan. Sahabat sekaligus kakak iparnya itu benar-benar keterlaluan meninggalkan Jingga seorang diri di rumah. Terlebih Jingga dalam keadaan hamil besar. "Terima kasih telah mengantar ke sini. Sisanya biar saya saja yang urus."
Adli mengangguk setuju. Dia tidak mau berada di antara pertikaian antar anggota kelurga lain.
Aksa mengabari Erik. Dia melapor pada ayahnya tentang keadaan Jingga. Aksa juga menghubungi David karena dia pikir Jingga butuh dokter yang bisa menangani dia yang sedang dalam kondisi hamil.
Tak lama kemudian Erik dan David datang. "Bagaimana keadaan menantuku?" tanya Erik.
"Biar papa yang memeriksa," jawab Aksa. David pun masuk ke ruang UGD. Tak lama kemudian dia memberikan kabar pada Erik jika anak Jingga harus segera dikeluarkan. Kejadian itu membuat kandungan Jingga rembes.
"Kita tidak bisa menunggu sampai air ketubannya pecah," kata David.
Erik mengusap wajahnya kasar. "Baiklah. Selamatkan cucu dan menantuku," ucap Erik yang menaruh harapan pada teman satu profesi sekaligus sahabatnya itu.
Di mana Fabian saat seperti ini? Apakah responnya ketika melihat Jingga mengalami musibah?
__ADS_1