Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Menyelesaikan masalah


__ADS_3

"Saya akan menikahi Melati." Ucapan Fabian didengar oleh laki-laki yang akan dijodohkan pada Melati.


"Tidak bisa! Dia harus menikah denganku. Pamannya berhutang banyak dan dia tidak bisa melunasi hutangnya. Sebagai gantinya, gadis itu harus menikah denganku," ucap seorang pria yang berkumis dan memakai topi. Dia juga memakai tongkat untuk menopang tubuhnya yang tidak bisa berjalan tegak.


"Paman, apa benar yang dia katakan?" Paman Melati mengangguk. Melati merasa kecewa ketika dia mengetahui pamannya menjualnya. "Tega sekali paman padaku," ucap Melati sambil menitikkan air mata. Hatinya serasa hancur ketika mengetahui rencana pamannya yang ingin menikahkan dia dengan laki-laki tua seperti itu.


"Berapa uang yang dia pinjam padamu? Aku akan melunasinya," sela Fabian.


"Pak, jangan! Saya tidak mau berhutang pada Bapak," tolak Melati.


"Jadi kamu lebih memilih menikah dengan aki-aki itu?" tanya Fabian sambil menunjuk ke arah laki-laki berkumis tersebut. Melati menggeleng.


Fabian menoleh ke arah laki-laki tadi. "Katakan! Berapa uang yang harus aku keluarkan untuk melunasi hutang pamannya?" tanya Fabian.


"Delapan puluh juta," jawabnya.


"Bohong, sebenarnya aku hanya berhutang empat puluh juta untuk membeli sebagian sawah yang aku kelola, tapi dia membuat aku membayar dua kali lipat," ungkap paman Melati.


Fabian tersenyum sinis. "Rupanya kamu ingin berurusan dengan pengacaraku. Rentenir macam kamu bisa aku jebloskan ke dalam penjara hanya dengan menjentikkan jariku," ucap Fabian dengan angkuh.


"Jangan sombong! Sebaiknya perlihatkan saja apa yang telah kamu katakan. Lunasi hutangnya dan aku akan pergi," jawab rentenir itu.


"Baik aku akan transfer sejumlah uang yang kamu minta ke rekeningmu," ucap Fabian. Dia pun sudah siap menekan nomor rekening yang akan dikirimi uang.


"Ah, aku tidak pakai begituan. Beri aku uang cash!"


"Baik, tapi butuh waktu yang tidak sebentar untuk mencairkan uang itu. Apalagi perjalanan dari sini ke kotaku butuh waktu tiga jam lamanya. Aku minta waktu!"


"Baiklah, akan aku tunggu hingga nanti malam. Kalau sampai aku ke sini tidak ada apapun yang bisa aku bawa pulang, maka aku akan tetap menikahi dia." Tunjuk laki-laki itu pada Melati.


Setelah itu, pria yang berprofesi sebagai rentenir itu pergi dari rumah paman Melati. "Pak, terima kasih sudah menolong saya. Tapi bapak tidak usah mengeluarkan uang. Saya akan pergi jauh dari sini." Melati melirik pada pamannya. Dia masih kecewa dengan laki-laki itu.


"Kamu mau kabur ke mana? Bagaimana kalau dia bisa menemukan kamu? Lalu bagaimana nasib paman dan bibimu jika aku tidak melunasi hutang mereka. Sedangkan kamu yang dijadikan jaminan malah kabur."


Melati meresapi ucapan Fabian. Apa yang dia bicarakan ada benarnya juga. "Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk menghindari dia."

__ADS_1


"Ini semua salah paman. Andai saja paman tidak berhutang pada orang itu maka kejadiannya tidak akan seperti ini." Paman Melati merasa bersalah pada keponakannya.


"Melati maafkan pamanmu, Nak!" pinta bibi Melati.


"Kalian tenanglah aku akan menghubungi bawahanku untuk mengirim uang ke sini," sela Fabian. Dia pun keluar rumah untuk mencari sinyal.


"Hallo," jawab Imam.


"Akhirnya tersambung juga, Mam," balas Fabian.


"Ada apa, Bos? Kenapa hari ini tidak berangkat tanpa mengabari?" cecar Imam saat mengomeli atasannya.


"Aku lagi berjuang mendapatkan istri, Mam," jawab Fabian sambil bergurau.


"Hah? Maksudnya gimana?" tanya Imam tidak mengerti.


"Sudah kamu kirim sejumlah uang yang aku minta. Aku harus melunasi hutang paman Melati agar dia terbebas dari rentenir itu."


"Kirim saja lewat rekening," jawab Imam malas.


"Sangat merepotkan," gerutu Imam tapi tetap dia lakukan.


Setelah selesai menelepon Imam, Fabian mendekat ke arah Melati dan yang lainnya. "Entah saya harus bilang apa sama Nak Fabian. Maafkan saya karena saya salah," ucap paman Melati.


"Jangan minta maaf pada saya. Apa bapak sudah minta maaf pada Melati?" Paman Melati menggeleng.


"Melati maafkan paman. Gara-gara paman kamu hampir menikah dengan aki-aki itu."


"Iya, Paman. Aku memaafkan paman," jawab Melati.


"Nak, silakan diminum." Bibi Melati menyuguhkan minuman dan beberapa camilan untuk Fabian.


"Paman, bolehkah saya menikahi Melati jika urusan ini sudah selesai? Saya janji akan membahagiakan dia," ucap Fabian meminta izin.


Melati terkejut mendengar Fabian untuk kedua kalinya menyampaikan keinginan untuk menikahi dirinya. 'Apakah ini mimpi?' batin Melati.

__ADS_1


"Paman mengizinkan kamu menikahi dia. Tapi bagaimana dengan Melati?" tanya Paman Melati.


Melati tertunduk malu. Bagaimana bisa dia menolak laki-laki setampan dan sekaya Fabian. Terlebih Melati juga menyukainya. Walau statusnya duda tapi selama ini dia sangat baik pada Melati.


"Aku bersedia, Paman," jawab Melati dengan menunduk.


Fabian tersenyum senang. Rupanya perasaannya dibalas oleh Melati. "Baiklah, kita tunggu uangnya dikirim oleh Imam. Baru setelah itu aku akan menikahi kamu," ucap Fabian. Melati mengangguk paham.


Dalam waktu kurang dari empat jam Imam datang ke kampung Melati. "Bisa nggak lain kali lokasinya lebih jauh dari pada ini?" ledek Imam.


"Jangan ngomel-ngomel! Mana uang yang aku minta?" Fabian menengadahkan tangannya. Imam pun menyerahkan koper berisi uang sebanyak delapan puluh juta sesuai permintaan Fabian.


Setelah itu Imam membisikkan sesuatu pada Fabian. Fabian mengangguk paham. Pada saat waktunya tiba, Rentenir itu kembali ke rumah Paman Melati.


"Mana uang yang aku minta?" tanya Rentenir tersebut.


Fabian mengangkat tinggi-tinggi koper yang berisi uang tersebut. Ketika rentenir itu ingin mengambilnya, Fabian memberikan kode pada Imam. Imam pun memanggil polisi yang bersembunyi.


"Angkat tangan!" teriak polisi tersebut sambil menodongkan senjata api.


"Ada apa ini, Pak?" tanya Rentenir itu.


Fabian tersenyum sinis. "Tangkap dia, Pak! Dia mencoba memeras keluarga bapak ini. Dia melipatgandakan hutang tanpa surat perjanjian. Jebloskan dia dengan tuduhan penipuan!" perintah Fabian pada Imam. Imam pun bergerak dan membantu polisi tersebut meringkus rentenir tersebut.


"Lepaskan! Lepaskan saya!" teriak rentenir itu ketika berusaha memberontak.


Melati dan anggota keluarganya yang lain merasa lega. Akhirnya mereka tidak dibebani dengan masalah rentenir.


"Saya akan membayar hutang kalian padanya tapi hanya empat puluh juta. Paman nanti akan diminta sebagai saksi di pengadilan. Bawahan saya akan mengurusnya," ucap Fabian.


"Terima kasih banyak, Nak. Apa yang bisa kami lakukan untukmu?" tanya Paman Fabian.


"Paman hanya perlu menjadi wali nikah keponakan kalian," pinta Fabian. Wajah Melati langsung merah merona. Akhirnya mimpinya memiliki suami seperti Fabian bisa terwujud.


***

__ADS_1


Kebahagian kadang datang secara tak terduga. Asalkan kita selalu yakin dan percaya bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan akan berbuah manis. Sebaliknya kejahatan yang kita lakukan akan menuai hukuman yang setimpal dengan apa yang telah kita perbuat.


__ADS_2