Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Mulai jatuh cinta


__ADS_3

"Nama lengkapku Violet Putri Prameswari. Aku terpisah dari keluargaku sejak kecelakaan tujuh belas tahun lalu. Saat itu usiaku empat setengah tahun. Hanya nama lengkapku dan nama ibuku saja yang aku ingat karena di usiaku yang masih kecil, aku tidak tahu di mana aku tinggal."


"Apa yang terjadi setelah kamu kecelakaan?" tanya Justin penasaran. Antara percaya dan tidak percaya, dia masih meragukan cerita Violet.


"Aku hanyut terbawa aliran sungai hingga aku ditemukan oleh seorang laki-laki yang sedang memancing. Dia membawaku pulang ke rumahnya. Aku dibesarkan oleh keluarga itu. Namun, mereka memperlakukan aku dengan kasar. Aku pun kabur dan hidup sebatang kara." Mulut Violet mulai bergetar ketika dia menceritakan kisah hidupnya. Dia bahkan menunduk ketika menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Apa aku bisa percaya dengan ceritamu?" tanya Justin. Violet mendongak. Dia tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu dari orang yang baru saja melamarnya.


Vio mengusap air matanya yang sempat menetes dengan kasar. "Aku tidak meminta kamu percaya. Aku memenuhi permintaanmu untuk menceritakan kisah hidupku," jawab Vio dengan ketus.


Justin tersenyum tipis ketika melihat Violet merajuk. "Jadi Putri..."


"Panggil aku Violet," sela Vio.


"Baiklah, Violet. Siapa nama ibumu?" tanya Justin.


"Jingga," jawab Violet. Justin merasa lucu.


"Apa keluargamu itu seperti pelangi? Kenapa namanya berdasarkan warna?" ledek Justin.


"Aku tidak tahu," jawab Violet dengan ketus.


Tak lama kemudian seorang dokter datang. "Maaf, saya mengganggu kalian. Saya ingin memeriksa keadaan putri bapak," sela dokter wanita yang berhijab itu.


"Silakan, Dok!" Justin memberikan tempat pada dokter itu untuk memeriksa putrinya.


"Tidak ada yang serius. Mungkin hanya kecapekan," kata dokter itu.


"Saya hanya memberikan obat penurun panas. Bangunkan dia lalu minumkan obatnya agar demamnya turun. Jika dalam tiga hari tidak ada perubahan maka sebaiknya periksakan ke klinik."


"Baik, Dok. Saya akan antar hingga ke depan," ucap Justin.


"Tidak perlu, Pak. Temani saja istrinya. Kalau-kalau anaknya rewel Anda bisa membantu menenangkan dia." Ucapan dokter itu membuat Justin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa aku boleh membangunkan Sabrina?" tanya Violet. Justin merasa tidak tega.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kita menunggu hingga dia terbangun sendiri?" tanya Justin meminta pendapat. Violet pun paham kalau Justin merasa tidak tega.


"Baiklah, aku akan ambil air hangat untuk mengompres keningnya. Semoga ada perubahan," ucap Violet.


Justin mengangguk setuju.


Tak perlu waktu lama, Violet kembali dengan membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat dan sapu tangan. "Aku akan mengompresnya," ucap Violet meminta izin.


"Iya."


Justin membiarkan Violet merawat putrinya. Hingga waktunya makan malam, Justin baru masuk kembali ke kamar Violet. Dia melihat Violet tidur di tepi ranjang Sabrina. Namun, Justin terkejut ketika melihat Sabrina dalam posisi duduk. Saat Justin akan berjalan mendekat, Sabrina menempelkan satu jarinya ke mulut. Dia memberi kode agar tidak membangunkan wanita yabg dianggap ibunya itu.


Justin mengangguk setuju. Dia memindahkan Violet ke kamarnya. "Papa akan pindahkan mama ke kamar papa," ucap Justin meminta izin dengan suara yang amat pelan. Sabrina mengacungkan jempol.


Justin mengangkat Violet dengan perlahan agar gadis itu tidak memberontak seperti saat tiba di rumahnya tadi. Dia keluar dari kamar Sabrina dengan perlahan. Kemudian berjalan memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar sang anak. Justin meletakkan tubuh Violet dengan perlahan di atas kasurnya yang super empuk. Dia membiarkan Violet tertidur dengan pulas.


Kalau dipikir dialah saat ini yang paling berjasa untuk menenangkan Sabrina. Ketika Justin teringat putrinya, dia kembali ke kamar Sabrina. "Kamu sudah baikan?" tanya Justin seraya menyentuh dahi sang anak. "Demam kamu sudah turun. Tadi dokter berpesan pada papa kalau kamu bangun kamu harus meminum obat turun panas."


"Obatku bukan itu, Pa," sela Sabrina. "Obatku sedang tertidur di kamar papa." Ucapan Sabrina yang begitu polos membuat Justin terharu. Dia jadi tidak sabar ingin menikahi Violet.


Sabrina mengangguk. "Aku tidak mau mama pergi lagi."


"Tidak, Sayang. Mama akan tinggal di sini bersama kita," jawab Justin kemudian mencium kening Sabrina. "Apa kamu mau makan? Biar papa ambilkan."


"No, Papa. Aku ingin masakan yang dimasak oleh mama," rengek Sabrina.


"Baiklah, aku akan membangunkan mama."


"Tidak, Pa. Biarkan dia tertidur. Aku belum lapar," jawab Sabrina. Namun sesaat kemudian perutnya berbunyi. Justin tertawa melihat tingkah anaknya yang menggemaskan.


"Tunggu di sini sebentar." Justin bangun lalu menuju ke kamarnya. Sabrina mengangguk patuh.


"Tidak, jangan! Jangan!" Violet mengigau sambil menangis. Justin yang melihat itu langsung membangunkan Violet.


"Violet, Violet bangun!" teriak Justin. Violet pun terbangun. Dia terkejut ketika ada Justin di hadapannya.

__ADS_1


"Sedang apa kamu di kamarku?" tanya Violet. Justin memutar bola matanya.


"Kapan kamar ini menjadi milikmu?" tanya Justin. Violet mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ketika dia sadar, dia menyingkap selimut yang dia pakai.


"Fhufh, aman," gumamnya.


Justin menoyor kening Violet pelan. "Dasar omes. Jangan berpikir aku akan menyentuhmu sekarang," goda Justin. Violet menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan macam-macam! Atau aku akan teriak," ancam Violet.


"Teriak saja! Tidak akan ada yang berani padaku," tantang Justin. "Sudahlah berhenti main-main. Sabrina ingin kamu memasak."


"Apa? Dia sudah bangun?" tanya Violet.


Justin mengangguk. "Sudah dari tadi," jawab Justin ketus.


"Maafkan aku, aku lelah hari ini jadi aku tertidur."


"Tidur sampai dua kali. Apa semudah itu otu kamu tidur?" ledek Justin. Violet hanya mencibir. Dia bangun lalu menguncir rambutnya yang berantakan. Justin kesulitan menelan ludahnya ketika melihat leher putih gadis itu.


"Aku harus masak apa?" pertanyaan Violet membuyarkan lamunan Justin.


"Bubur, masak bubur ayam untuk Sabrina," jawab Justin dengan gugup. Tiba-tiba tubuhnya merasa gerah padahal AC dinyalakan cukup dingin di dalam kamarnya. Dia keluar lebih dulu melewati Violet.


"Ada apa sih dengannya? Aneh," gerutu Vio.


Setelah itu, Violet memasak di dapur yang super bersih itu. "Menyenangkan sekali memasak di dapur semewah ini," gumam Vio sambil memasak. Dia nampak senang dan melakukan apa yang diperintahkan Justin tanpa paksaan.


Usai matang, Violet melepas celemek yang dia pakai. Setelah itu dia mengambil sedikit bubur ayam untuk dibawa ke kamar Sabrina. Namun, karena dia kurang hati-hati tangannya terkena panci panas. "Aw," jerit Violet sambil memegang tangannya yang memerah.


"Kamu kenapa?" tanya Justin.


"Tidak apa-apa, hanya terkena panci panas," jawab Violet. Justin melihat tangan Vio mulai melepuh.


"Kenapa bisa ceroboh begini?" tanya Justin sambil meniup tangan Vio yang sakit. Jantung Vio berdebar kencang. Belum pernah ada seseorang yang memperlakukan dia seperti ini.

__ADS_1


'Ya Tuhan, apa aku jatuh cinta pada laki-laki ini?' gumamnya dalam hati.


__ADS_2