
Lidia merajuk ketika suaminya salah menyebut namanya. "Maafkan aku sayang." Fabian menyesal.
"Apa kamu merindukan Jingga, Mas?" tanya Lidia.
"Tidak, bukan begitu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Entah kenapa mulutku ini salah berbicara," elak Fabian.
"Aku ingin istirahat. Tinggalkan aku sendiri!" Lidia berbalik badan. Fabian meluruhkan bahu. Sesaat kemudian dia memilih untuk keluar. Fabian duduk di depan kamar rawat inap istrinya.
Dia meraup wajahnya kasar karena banyak hal yang dilalui bersama Lidia. Dia merasa sedih karena kehilangan anaknya juga.
"Apa ini balasan karena aku membuang anakku?" tanya Fabian pada dirinya sendiri.
"Jingga, jika kita bisa bertemu lagi apakah kamu mengizinkan aku memeluk anakmu?" gumam Fabian dengan penuh penyesalan.
Di tempat lain, Adli sedang mencari keberadaan orang tua Jingga. Berkat bantuan temannya, dia bisa menemukan Ibunda Jingga. Tapi yang Adli inginkan adalah bertemu dengan ayah Jingga karena dialah nantinya yang akan menikahkan Jingga dengan dirinya.
"Selamat siang. Boleh saya masuk?" tanya Adli ketika berada di depan pintu di depan rumah Pinkan.
"Kita duduk di luar saja," ucap Pinkan.
"Saya Adli. Saya adalah calon suami Jingga, anak ibu," ungkap Adli. Pinkan tidak terkejut dia cenderung cuek.
"Lalu kenapa kamu mencariku? Jingga sudah besar dia tidak lagi membutuhkan aku," ucap wanita paruh baya itu dengan ketus.
"Saya baru melihat ibu yang menyia-nyiakan anaknya seperti Anda. Apakah karena Anda memiliki keluarga baru kemudian Anda memilih melupakan anak kandung Anda sendiri?" tuduh Adli.
"Tutup mulut kamu! Kamu bukan siapa-siapa jadi kamu tidak berhak menghakimi aku." Pinkan tidak terima dengan ucapan Adli.
"Sebenarnya saya ke sini untuk mencari keberadaan mantan suami Anda. Apakah Anda tahu di mana dia berada? Jingga butuh wali untuk menikah. Jadi saya ingin menemukan ayahnya."
"Aku tidak tahu. Sejak kami bercerai aku tidak pernah lagi menemui dia." Pinkan berdiri kemudian masuk ke dalam rumah. Dia menutup pintu dan meninggalkan Adli.
Adli menghembuskan nafasnya kasar. Laki-laki itu pun berlalu meninggalkan kediaman Pinkan. Tapi tiba-tiba asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu memanggil Adli.
__ADS_1
"Den, apa Anda mencari keberadaan Pak Harsha?" tanya wanita itu. Adli mengangguk.
"Saya tahu di mana dia. Temui saya besok pagi-pagi sekali sebelum pukul enam. Saya akan antar Aden ke rumahnya." Adli bernafas lega karena akhirnya dia menemukan petunjuk.
Keesokan harinya sesuai janjinya pada Adli, wanita yang bekerja di rumah Pinkan itu menunggu Adli di pinggir jalan. Tak lama kemudian mobil Adli berhenti tepat di depannya. "Silakan masuk!" pinta Adli pada wanita itu.
Mereka menuju ke rumah Pak Harsha. Hanya butuh waktu lima belas menit saja untuk sampai ke rumah lelaki yang dicari oleh Adli. Sebuah rumah sederhana yang penuh dengan tanaman tak terawat.
"Ini rumahnya. Saya tidak ikut masuk ke dalam karena saya akan pergi berbelanja."
"Terima kasih banyak. Ini ada sedikit uang semoga bermanfaat." Adli memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada wanita itu.
Setela itu, Adli masuk ke dalam rumah yang tak terawat itu. Adli mengetuk pintu rumah Pak Harsha.
"Siapa?" Suara itu terdengar dari dalam rumah. Sesaat kemudian Pak Harsha membukakan pintu.
Adli mengulurkan tangan. "Saya Adli, boleh kita bicara sebentar?" tanya Adli dengan sopan.
"Saya ke sini karena ingin mempertemukan Anda dengan Jingga, anak Anda," ucap Adli menyampaikan maksud dan kedatangannya.
Pak Harsha langsung meneteskan air mata. "Saya telah banyak berdosa padanya. Saya bukan ayah yang baik," ucapnya di sela-sela tangisannya.
Adli melihatnya tak tega. "Tolong ikutlah dengan saya. Saya akan mempertemukan Anda dengan dia."
"Tidak, saya tidak punya muka berhadapan dengan Jingga. Apa dia mash mengakui saya sebagai ayahnya?" tanya Harsha.
"Percayalah! Jingga sangat merindukan Anda. Selama ini dia berjuang hidup seorang diri. Tidakkah Anda ingin menghabiskan masa tua Anda bersama anak dan cucu Anda?"
Pak Harsha terkejut ternyata dia telah memiliki cucu. "Apa? Dia sudah menikah?" Adli mengangguk menanggapi pertanyaan Pak Harsha.
"Mari ikut saya!" Adli mencoba membujuk secara halus agar Pak Harsha mau ikut dengannya. Pak Harsha sangat ingin bertemu dengan anak kandungnya. Jingga adalah anak tunggalnya yang telah lama dia abaikan. Kali ini dia berniat untuk meminta maaf.
Adli merasa senang karena jalannya untuk menikahi Jingga semakin dekat. Adli mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Jingga. Namun, tiba-tiba di tengah perjalanan mobil bannya kempes.
__ADS_1
"Sial!" umpat Adli yang kesal.
Laki-laki tampan itu tak pendek akal. Dia menelepon Rizky untuk menjemputnya. "Nyusahin aja lo, Bang," ucap Rizky kesal.
Rizky menoleh pada Pak Harsha lalu dia menoleh pada Adli. "Dia ayahnya Jingga," jawab Adli. Rizky terkejut karena Adli bisa menemukan orang yang dia cari selama kurang lebih sebulan ini.
Tak mau menunggu lama, Adli merebut kunci mobil Rizky. "Gue percaya sama lo!"
"Sial lo, Bang!" Rizky menendang ban mobil Adli. Adli membunyikan klakson untuk berpamitan pada arik kandungnya.
Sesampainya di rumah Jingga, ternyata dia sedang keluar. Adli dan Pak Harsha pun harus menunggu hampir setengah jam lamanya. Adli menelepon ke handphone Jingga.
"Sayang, kamu di mana?" tanya Adli.
"Aku dalam perjalanan pulang, Mas. Violet sakit jadi aku membawanya ke dokter," jawab Jingga.
"Baiklah, aku tunggu di rumah." Adli pun mematikan handphonenya.
"Maaf, harus menunggu lama. Jingga sedang dalam perjalanan ke sini," tutur Adli pada Pak Harsha.
Tak lama kemudian Jingga turun dari taksi. Dia berjalan sambil menggendong Violet. Mata Jingga langsung melihat pada laki-laki yang berdiri di samping kekasihnya. "Ayah," ujar Jingga dengan lirih.
Dia masih mengenali wajah itu. Meski banyak berubah tapi Jingga tetap mengenali ayah kandungnya. Pak Harsha pun berkaca-kaca ketika melihat Jingga tumbuh dewasa. Dia hampir saja tak mengenali kalau dia adalah Jingga jika saja Adli tidak memberi tahu.
Adli yang pengertian pun mengambil alih gendongan Violet. Jingga memeluk ayahnya yang sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu. "Maafkan ayah Jingga. Ayah..."
"Ayah tidak perlu minta maaf. Semua sudah takdir. Yang penting sekarang kita sudah berkumpul kembali," kata Jingga dengan bijak. Adli bangga pada wanita yang dia cintai itu. Jingga benar-benar wanita yang tidak pendendam. Adli merasa beruntung karena akan segera menikahinya.
... ♥️♥️♥️...
Silakan mampir baca karya berikut ini
__ADS_1