
Rizky berkunjung ke rumah Talita. "Hai, apa kabar?" tanya Rizky. Talita tak banyak menjawab. "Baik."
Rizky menduduki kursi yang kosong di sebelah Talita. Saat ini mereka sedang berada di taman belakang rumah Talita. "Bagaimana keadaan kamu?" tanya Rizky.
"Baik." Talita hanya menjawab seperlunya. Rizky merasa Talita tidak seperti biasanya. Jika biasanya gadis itu selalu bersemangat jika bertemu dengan dirinya, kali ini Talita seperti tidak menginginkan kehadiran Rizky.
"Apa kamu sedang marah padaku?" tanya Rizky. Talita hanya melirik sedikit lalu membuang muka.
"Aku ingin sendiri." Talita mengusir Rizky dengan halus.
"Apa ini karena aku tidak segera menikahi kamu?" tuduh Rizky.
"Jangan menikahi aku! Aku hanya beban untukmu. Menikahlah dengan gadis yang tidak penyakitan seperti aku!" Rizky terkejut ketika mendengar ucapan gadis itu. Dia tidak menyangka kalau Talita berbicara seperti itu.
"Apa aku pernah mengatakan seperti itu padamu?" Talita tak menjawab. Rizky bisa mengambil kesimpulan jika benar dia pernah berkata demikian tapi tidak dia sadari.
__ADS_1
"Maaf." Talita langsung menoleh. "Maaf jika aku pernah berkata kasar padamu," ucap Rizky dengan tulus. Talita jadi tersentuh.
"Sudah lupakan saja! Aku juga tidak berniat memaksa kamu menikahi aku," ucap Talita. Rizky menjadi kecewa mendengar penuturan Talita. Dia malah berharap kalau pernikahan mereka cepat terlaksana.
"Tapi aku mau," ujar Rizky dengan tegas. Talita mendongak. Ganti dia yang terkejut dengan tanggapan Rizky. Talita mengira Rizky akan senang jika dia tidak lagi memaksa pria itu untuk menikahinya. Ternyata Rizky berkehendak lain.
Rizky berdiri dari tempat dia duduk. "Aku akan pulang dan meminta papa melamarmu dalam waktu dekat," ucap Rizky lalu pergi.
Setelah itu Rizky benar-benar menemui ayahnya. Namun, dia ternyata datang di saat yang tidak tepat. Helmi sedang bertengkar dengan Karin.
"Lucu. Kamu tidak mengakui darah daging mu sendiri?"
"Kamu pikir aku tidak tahu kalau uangku kamu habiskan untuk membayar barang-barang yang tidak jelas." Helmi berbalik badan lalu mengambil berkas salinan yang menyatakan kalau Karin pernah mentransfer sejumlah uang ke rekening atas nama Edward.
"Omong kosong apa lagi ini?" elak Karin.
__ADS_1
"Kamu sama sekali tidak menghargai aku sebagai istrimu lagi, Mas. Aku juga bisa menuntut cerai," ancam Karin.
Helmi tertawa. "Aku tidak akan menundanya. Mulai sekarang aku talak kamu sebagai istriku."
Rizky yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka menjadi syok. Dia bukannya syok karena sang ayah menceraikan Karin melainkan rencana melamar Talita lagi-lagi harus gagal untuk kesekian kali. Rizky berjalan gontai ke kamarnya. "Kak," panggil Mario.
Rizky menoleh ketika mendengar sang adik memanggilnya. "Mario, apa kamu mendengar pertengkaran papa dengan mamamu?" tanya Rizky pada sang adik. Mario mengangguk. Dia menangis karena sedih. Setelah sekian lama berpisah dengan sang ibu, kini dia harus berpisah lagi.
Rizky menepuk bahu adiknya itu. "Jika disuruh memilih, mana yang akan kamu pilih? Ibu atau keluargamu yang akan kamu dahulukan?" Mario tak bisa menjawab pertanyaan sang kakak.
"Tidurlah! Sudah malam. Bukankah besok kamu harus sekolah? Jangan memikirkan masalah orang dewasa." Rizky menasehati pria itu. Mario menuruti perkataan kakaknya.
"Aku harus cari cara agar aku tidak gagal saat akan melamar Talita," gumam Rizky.
...***...
__ADS_1
Maaf kalau ada part akhir yang aku perbaiki sedikit ya.