
Hari ini Jingga waktunya gajian, Pak Helmi, ayah Mario meminta Jingga datang langsung ke rumahnya untuk mengambil gaji bulanannya.
"Assalamualaikum." Jingga mengucap salam ketika berada di depan gerbang rumah Mario.
"Kak Jingga," panggil Mario ketika mengetahui guru lesnya datang.
"Mario seneng banget kakak datang," ucap anak kecil itu seraya membukakan pintu gerbang rumahnya.
Mario menarik tangan wanita hamil itu dan mengajaknya ke dalam. Sesaat kemudian mobil Adli memasuki gerbang rumahnya. Laki-laki tampan itu keluar dari mobil dengan memakai setelan jas rapi.
"Jingga, kok nggak ngomong kalau mau datang. Aku kan bisa jemput kamu," ucap Adli dengan lembut.
Jingga tersenyum. "Aku cuma mampir sebentar, Kak. Pak Helmi ada di rumah?" tanya Jingga.
"Iya, masuk saja." Adli membukakan pintu untuk wanita yang hingga kini masih dia harapkan cintanya.
"Jingga, saya sudah menunggu kedatangan kamu," kata Pak Helmi ketika melihat Jingga masuk ke dalam ruang tamunya.
"Mario, minta bibi siapkan minum buat Bu Jingga, ya!" perintah Pak Helmi pada anak kecil itu. Setelah itu dia melirik ke arah Adli yang masih berdiri memandangi wajah cantik Jingga.
"Adli, papa mau bicara sama Jingga. Kamu bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Pak Helmi menyuruh anaknya pergi. Adli pun mencebik kesal tapi dia tetap menuruti perintah ayahnya.
"Jingga, silakan duduk!" Jingga mengangguk patuh.
"Saya ke sini ingin sekalian berpamitan, Pak. Saya ingin istirahat menjelang proses persalinan saya," kata Jingga.
"Kapan hari perkiraan lahir anak kamu itu, Jingga?" tanya Pak Helmi dengan sopan.
"Sekitar satu setengah bulan lagi," jawab Jingga seraya mengusap perutnya yang sudah membesar itu.
__ADS_1
"Sayang sekali. Padahal nilai-nilai Mario meningkat sejak kamu mendampingi dia belajar. Dia juga berubah menjadi anak yang mudah diatur dan tidak membangkang lagi berkat kamu," puji Pak Helmi.
Jingga tersenyum. "Terima kasih, Pak. Kata dokter saya harus banyak istirahat."
"Saya paham. Pasti melelahkan beraktivitas dengan perut sebesar itu," ucap Pak Helmi sambil terkekeh. Setelah itu dia memberikan sebuah amplop berwarna coklat pada Jingga.
"Ini gaji kamu. Saya juga menambahkan uang untuk biaya persalinan kamu. Semoga ini cukup ya Jingga."
Jingga merasa beruntung mendapatkan kebaikan dari Pak Helmi. "Terima kasih banyak, Pak," ucap Jingga berkaca-kaca. Dia merasa terharu orang lain lebih memperhatikan dirinya. Fabian saja tak pernah memberi uang lebih pada dirinya.
Membeli barang-barang saja dipercayakan pada Lidia. Tiba-tiba Jingga kangen pada suaminya. Sudah beberapa hari dia tidak pulang ke rumah Jingga tanpa memberi kabar. Jingga pun tak pernah mengirim pesan karena dia takut mengganggu privasi Fabian dengan Lidia. Jingga sadar betul dia hanya sebagai istri bayangan untuk Fabian.
"Jingga, kamu di sini?" tanya Rizky. Sepulang dari mengajar tadi dia entah pergi ke mana hingga menjelang sore baru pulang.
Jingga tersenyum. Dia berdiri lalu mengangkat tasnya ke bahu. "Ini aku udah mau pulang kok Mas," jawab Jingga.
Tiba-tiba Adli datang dan menelusupkan jari jemarinya ke jari-jari lentik Jingga. "Jingga pulang sama gue," ucap Adli sambil berlalu meninggalkan ruang tamu.
Jingga yang merasa tidak enak pada Pak Helmi hanya mengangguk seraya berlalu. "Kalian ini tidak bisa apa memperebutkan wanita lain selain Jingga? Lihat dia hampir melahirkan," tegur sang ayah.
"Sebelum dia nikah sama suaminya aku sudah menyukai Jingga lebih dulu, Pa. Lagi pula suaminya itu tidak menyukai Jingga karena mereka menikah karena terpaksa. Aku masih menunggu Jingga jadi janda setelah itu aku akan menikahi dia," ucap Rizky dengan percaya diri.
Pak Helmi memukul kepala anak keduanya itu. "Jangan bermimpi karena pada saat itu papa juga akan mendaftar menjadi calon suami Jingga. Dia pantas menjadi ibu Mario." Pak Helmi yang masih tampan diusianya yang menginjak hampir enam puluh tahunan tersebut berlalu setelah mengatakan hal itu.
Rizky tidak percaya ayahnya diam-diam menyukai guru les privat anaknya itu. Rizky jadi tidak terima. Dia mengepalkan tangan karena kesal. Selain bersaing dengan kakaknya kini saingannya bertambah satu lagi dari pihak keluarganya, yaitu sang ayah.
"Dasar tua-tua keladi," umpat Rizky.
"Papa dengar ya," teriak Pak Helmi.
__ADS_1
Sementara itu sejak tadi Jingga merasa canggung duduk bersebelahan dengan Adli karena jantungnya berdebar sejak Adli menelusupkan jari jemarinya ke tangan Jingga.
"Jingga bagaimana kalau kita mampir makan dulu ke restoran favorit aku." Jingga mengangguk setuju. Lagi pula hari ini suaminya tidak pulang ke rumah. Jadi dia tidak harus berada di rumah lebih awal.
Sesampainya di sebuah restoran mewah, Jingga diajak Adli duduk di sebuah meja kosong. Adli menggeser kursi untuk wanita yang tengah hamil besar itu. "Terima kasih," ucap Jingga. Adli tersenyum manis.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Adli.
"Samakan denganmu saja, Kak," jawab Jingga.
"Oke baiklah." Setelah memanggil pelayan dan memesan makanan, Adli tiba-tiba ingin ke toilet.
"Jingga, kamu bisa tunggu di sini sebentar? Aku ingin ke toilet." Jingga mengangguk paham.
Sesaat kemudian seseorang menghampiri Jingga. "Axel," ucap Jingga menyebut nama laki-laki yang pernah hampir melecehkan dirinya dulu. Tangan Jingga gemetar dan menjadi dingin.
"Apa kabar Jingga? Apa yang kamu lakukan dengan laki-laki itu? Apa kamu sudah bercerai dengan Fabian?" ledek Axel.
"Pergi kamu dari sini!" perintah Jingga dengan penuh penekanan. Matanya merah karena menahan tangis.
"Jingga, kamu masih sedingin itu padaku. Lebih baik kamu pergi bersamaku." Axel ingin meraih lengan Jingga tapi dia menepis tangan Axel.
"Jangan kurang ajar kamu. Aku bisa teriak jika kamu menggangguku," ancam Jingga.
Dari kejauhan Adli melihat gelagat aneh pada laki-laki yang mendekati Jingga. Secepat mungkin Adli menghampiri gadis itu. "Jingga, ada apa ini?" tanya Adli. Axel berlalu begitu saja meninggalkan Jingga.
Jingga bernafas lega setelah Axel pergi. "Jingga kamu kenal siapa dia?" tanya Adli. Jingga menggelengkan kepalanya. Dia terpaksa berbohong pada Adli.
"Kak, makanannya sudah datang. Aku lapar bolehkan kita makan sekarang?" Adli tersenyum. Tapi dia masih curiga pada laki-laki yang mendekati Jingga tadi.
__ADS_1