Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Jingga kabur


__ADS_3

Lagi-lagi Fabian tidak bisa berlaku adil. Sudah beberapa hari laki-laki itu tidak pulang ke apartemen, Jingga jadi merasa rindu. Usai mengajar, Jingga ingin mengantarkan makanan ke kantor Fabian. Dia sangat bersemangat.


"Maaf, Mas Fabiannya ada?" tanya Jingga pada resepsionis.


"Apa Anda sudaha ada janji dengan Pak Fabian?" Jingga menggelengkan kepalanya.


Sesaat kemudian Imam yang baru turun dari lift mendengar seorang wanita yang menyebut nama atasannya.


"Apa Anda Jingga?" tanya Imam. Dia hanya menebak tapi tebakannya itu benar. Jingga mengangguk.


"Mari ikut saya." Imam mengajak Jingga naik ke lantai atas untuk menemui Fabian.


"Ini ruangannya, saya tinggal dulu," pamit Imam. Imam lupa kalau di dalam ruangan Fabian sedang ada Lidia yang datang berkunjung di sela jam meetingnya di luar.


Saat akan membuka pintu, Jingga mendengar suara de*sahan dari dalam ruang kerja suaminya. Jingga menutup mulutnya tak percaya. 'Apakah dia sedang bersama Kak Lidia?' gumam Jingga dalam hatinya.


Jingga ingin pergi tapi saat itu dia tak sengaja mendengar percakapan Lidia dan Fabian. "Mas, apa kamu mencintai Jingga?" tanya Lidia dengan suara yang dibuat-buat.


Mereka masih menikmati momen mesra berdua. Posisi Lidia juga masih duduk di atas paha suaminya. "Mana mungkin, aku hanya mencintai kamu. Bukankah kamu hanya menginginkan anak? Kita bisa minta Jingga menyerahkan anaknya setelah dia melahirkan."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah dia melahirkan?" tanya Lidia.


"Mungkin aku akan menceraikan dia."


"Jangan terlalu kejam, Mas. Kasian Jingga kamu buat dia jadi janda muda."


"Tidak masalah. Aku akan memberikan sebagian hartaku padanya asal kita yang akan merawat anak itu nanti."


Ucapan Fabian membuat dada Jingga terasa sesak. Sungguh dia seperti dimanfaatkan sebagai mesin penghasil anak oleh Fabian. Tanpa dia ketahui semua memang sudah direncanakan oleh Lidia.


Jingga keluar dan meninggalkan kantor Fabian dengan mata merah. Ketika Imam menyapanya, Jingga tak menanggapi sehingga membuat Imam curiga. "Aduh, gue lupa kalau Lidia di dalam." Imam menepuk jidatnya sendiri.


Tak lama kemudian Lidia keluar. Dia mengenakan kaca mata hitam lalu mengangguk saat bertemu Imam. Imam balas mengangguk karena bagaimana pun dia istri atasannya.


Setelah itu, Imam melapor pada Fabian. "Fab, Fab gawat!" Imam bicara dengan nafas tersengal setelah dia berlari ke ruangan atasannya itu.

__ADS_1


"Panggil yang sopan!" bentak Fabian.


"Iye, ck. Istri lo tadi dari sini," kata Imam melapor dengan malas setelah dibentak.


"Lo nanya?"


"Eh, ni bos songongnya nggak ketulungan."


"Lah kan emang elo udah tahu kalau Lidia ke sini." Fabian tak mau kalah.


"Maksud gue bukan Lidia, istri lo yang lain." Fabian berdiri.


"Hah? Jingga ke sini? Kapan? Kok gue nggak lihat dia?"


"Asal lo tahu, dia nangis habis dari ruangan lo." Imam sampai mengarahkan telunjuknya pada Fabian.


Fabian mengingat percakapannya dengan Lidia. "Shiit." Laki-laki itu segera mengejar Jingga.


Di tempat lain, Jingga mengemasi barang-barangnya. Dia akan pergi karena dia tidak rela anaknya jatuh ke tangan suaminya sendiri. Karena dia tahu setelah melahirkan Fabian akan menceraikan dirinya.


"Jingga," panggil seorang wanita yang mengenakan kaca mata hitam.


"Tante." Jingga mengenal wanita yang tak lain adalah Wanda, ibunda Fabian.


Wanda turun dari mobil dan menghampiri Jingga. "Kamu sedang apa di sini?" tanya Wanda.


"Aku lagi antri makanan, Tan."


"Kamu kok bawa koper segala? Memangnya mau ke mana?" tanya Wanda curiga. Jingga tiba-tiba meneteskan air mata.


"Mbak, ini makanannya." Penjual itu memberikan makanan yang dipesan oleh Jingga.


Wanda mengeluarkan isi dompetnya untuk membayar makanan itu kemudian menarik Jingga ke mobil. "Tante, kita mau ke mana?" tanya Jingga yang bingung.


"Kita ke rumah Tante. Kamu kabur dari rumah bukan?" tebak Wanda. Jingga mengangguk lemah.

__ADS_1


"Ceritakan semua pada Tante setelah kita sampai di rumah."


"Tapi bagaimana dengan keluarga Tante?"


"Aku tinggal seorang diri," jawab Wanda sambil tersenyum miring. Dia merasa hidupnya juga menyedihkan. Jingga tak ingin membahas soal keluarga Wanda lagi.


"Ini rumah Tante. Sederhana tapi masih layak untuk ditinggali."


Jingga melihat sebuah rumah bergaya minimalis yang tak begitu luas tapi sangat bersih. Dia merasa nyaman berada di rumah itu. Wanda telah menjual rumah lamanya lalu membeli rumah baru yang ukurannya lebih kecil.


Hidup tanpa suami membuat dirinya bebas dan banyak menghabiskan uang untuk berfoya-foya. Di usianya yang tak muda lagi, dia hanya bisa mengandalkan harta pemberian Erik setelah bercerai.


"Ayo masuk!" Wanda mengajak Jingga yang kelihatan ragu untuk masuk ke dalam rumahnya.


Wanda memegang tangan Jingga. "Anggap saja rumah sendiri. Mulai sekarang kamu boleh tinggal di sini. Tante tidak ada keluarga jadi kamu bebas tinggal di sini. Tante akan menganggap kamu seperti anak Tante sendiri."


Jingga tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Wanda. Dia meneteskan air mata di depan wanita paruh baya itu. "Jingga, kenapa kamu menangis?" tanya Wanda.


"Saya hanya merasa sedih, kenapa Anda yang baru mengenal saya bisa sebaik ini sedangkan suami saya tega berkata akan menceraikan saya setelah saya melahirkan."


Wanda menjadi geram mendengar cerita Jingga. "Breng*sek suami kamu. Tega-teganya membuang kamu. Sudahlah jangan pikirkan! Mulai sekarang kamu tidak usah memikirkan suami kamu lagi. Kalau dia menceraikanmu kamu bisa cari laki-laki yang lebih baik dari dia."


Di tempat lain, Fabian kalang kabut mencari keberadaan Jingga. Dia berkali-kali menelepon ke handphonenya tapi Jingga tidak menjawabnya. "Ke mana kamu Jingga?" gumam Fabian di dalam mobil. Dia memukul setir mobil karena kesal.


Entah perasaan takut kehilangan Jingga atau sebenarnya hanya merisaukan anak yang dikandung istri keduanya itu, yang jelas perasaan Fabian saat ini kacau.


Mendadak hatinya merasa bersalah. "Apakah dia mendengar pembicaraanku dengan Lidia? Ck, Jingga aku mohon jangan bersembunyi."


Fabian tak tahu harus mencari keberadaan Jingga ke mana lagi. Dia pulang ke rumah Lidia. "Mas, kok baru pulang?" tanya Lidia.


Fabian tak menjawab. Dia berjalan gontai dengan menaiki tangga. Setelah itu dia merebahkan diri di atas kamar. Lidia segera menghampiri suaminya. "Apa yang terjadi, Mas?" tanya Lidia.


"Jingga kabur dari rumah."


"Apa?"

__ADS_1


Akankah mereka menemukan Jingga dengan mudah? Ikuti kisah selanjutnya ya


__ADS_2