Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Ingin kerja


__ADS_3

Merasa bosan dengan hidupnya yang begitu datar ketika kembali pada orang tua kandungnya, Violet merengek ingin bekerja.


"Kamu ingin bekerja di mana, Sayang?" tanya Jingga.


"Aku memang tidak berpendidikan tinggi, Ma. Namun, aku memiliki keahlian memasak. Aku ingin bekerja di restoran kalau boleh."


"Untuk apa bekerja pada orang lain. Kamu bisa mendirikan restoran sesuai keinginan kamu, Vio," sahut Adli.


"Benarkah itu, Pa?" tanya Violet antusias. Adli mengangguk.


"Papa bisa membangun restoran sesuai keinginan kamu."


"Terima kasih, Pa." Violet memeluk Adli saking senangnya. Sementara itu, Albiru yang mendengar hal itu menjadi iri. Dia menaiki tangga begitu saja.


"Aku tidak akan biarkan wanita itu menguasai harta orang tuaku," ucap Albiru sambil menggertakkan gigi.


Di tempat lain, Danzel sedang mencari ruko untuk mendirikan tempat usahanya. Dia adalah lulusan perguruan tinggi di luar negeri dalam bidang interior design.


Danzel menemui penjual ruko dan melakukan transaksi jual beli. Setelah urusannya selesai dia membuka lowongan pekerjaan agar bisa mendapatkan karyawan.


Ketika Danzel melihat wanita yang sedang berjalan, dia membayangkan wajah Violet. "Ah, kenapa aku terus memikirkan dia?" gumam Danzel sambil tersenyum.


Tiba-tiba Justin menelepon. "Ada apa?" tanya Danzel.

__ADS_1


"Tolong jemput Sabrina!" pinta Justin. Dia meminta Danzel karena sejak kemaren dia belum sempat minta maaf pada Violet. Jadi tidak enak kalau memintanya menjemput Sabrina. Padahal Justin harus rapat mendadak satu jam lagi.


"Baiklah, kirimkan alamat sekolah Sabrina." Danzel pun datang menjemput anak kecil itu.


"Lho kok bukan mama yang jemput?" tanya Sabrina.


"Mama?" tanya Danzel. Dia tidak mengerti siapa yang dipanggil mama oleh Sabrina.


"Iya, Mama Vio." Danzel baru mengerti sekarang.


"Papamu memintaku untuk menjemputmu."


"Tidak, aku mau mama yang menjemput," rengek Sabrina. Dia bahkan menangis dan tidak mau masuk ke dalam mobil. Danzel kesulitan untuk menenangkan Sabrina. Mau tak mau Danzel menelepon Justin.


"Ada apa lagi? Aku sedang rapat."


"Baiklah." Justin pun mengetik nomor Violet.


"Hallo, ini Violet?" tanya Danzel memastikan.


"Iya, ni nomornya siapa ya?"


"Danzel. Datanglah ke sekolah Sabrina. Dia menangis hanya kamu yang bisa menenangkan dia," ucap Danzel memberi tahu.

__ADS_1


Violet terdengar menghela nafas. "Baiklah," jawabnya dengan lesu. Setelah itu Vio menutup teleponnya.


Kurang dari tiga puluh menit Violet sampai. "Mama," seru Sabrina ketika melihat wanita yang telah dianggap seperti ibunya sendiri.


Violet menangkap Sabrina. Dia mengusap rambut panjangnya itu. "Tadi habis nangis ya?" Sabrina mengangguk. Sesaat kemudian dia mengurai pelukannya. Dia mengusap air mata gadis kecil itu.


"Sabrina ayo pulang!" ajak Danzel.


"Mama temani aku!" Sabrina menarik tangan Violet dan memaksanya masuk ke dalam mobil Danzel. Vio hanya bisa menuruti kemauan anak kecil itu.


Violet duduk di belakang bersama Sabrina. "Aku bukan supir. Jadi pindah ke depan!" perintah Danzel dengan tegas. Violet hanya mencibir.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara. Sabrina tertidur di jok bagian belakang. Violet merasa canggung duduk di samping Danzel. Dia terus mengarahkan wajahnya ke luar jendela. Danzel melirik Violet. Dia akhirnya bersuara ketika merasa bosan.


"Apa kamu tidak punya pekerjaan tetap?" tanya Danzel.


Violet menggeleng. "Aku akan membuat usaha sendiri," jawab Vio.


"Usaha apa?" tanya Danzel.


"Aku berencana membuat restoran, tapi itu bukan ideku. Sebenarnya aku hanya ingin mendirikan tempat makan kecil-kecilan tapi papa memberikan bantuan padaku. Dia ingin aku mengelola sebuah restoran."


"Oh ya? Kebetulan aku bekerja di bidang interior design. Apa kamu butuh bantuan?" tanya Danzel.

__ADS_1


"Entahlah, pembangunan restoran itu semuanya diurus papa. Aku terima beres."


Danzel jadi punya ide agar dia bisa terus bersama Violet. Apa idenya?


__ADS_2