
Sesampainya di rumah, Violet yang tertidur di jalan digendong oleh Adli hingga masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, dia pamit karena ada panggilan dari pabrik.
"Sayang, aku harus bekerja. Ada sedikit kendala di pabrik," kata Adli memberi tahu. Jingga mengangguk.
"Hati-hati ya, Mas." Adli mencium kening Jingga sekilas lalu pergi.
Ketika berada di jalan, Adli melihat Karin sedang jalan dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal. Tapi pekerjaannya yang tidak bisa ditunda membuat dirinya tidak dapat mengikuti wanita itu.
"Anak kita akan lahir beberapa bulan lagi, apakah kamu mau menemani aku berbelanja?" tanya Karin pada Edward.
Edward dan Karin sudah lama berhubungan tapi mereka berhubungan secara diam-diam. Awalnya Edward menolak ketika Karin ingin menikah dengan Helmi. Tapi setelah Karin membujuknya Edward menyetujuinya dengan iming-iming harta yang didapat Karin nantinya akan dibagi dua.
"Tentu saja, beli apa yang ingin kamu beli. Aku akan bantu untuk membawakan barang belanjaan kamu." Edward mencolek dagu kekasihnya.
Karin pergi seorang diri lalu janjian di luar dengan Edward karena Helmi sibuk bekerja. Tapi itu malah menjadi kesempatan untuk Karin dan Edward bersama.
"Bagaimana kalau warna ini?" tanya Karin saat menunjukkan setelan anak warna biru.
__ADS_1
"Tidak buruk untuk anak laki-laki," jawab Edward menanggapi pertanyaan Karin. Ya, saat di USG jenis kelamin bayi yang sedang dikandung Karin adalah laki-laki.
Usai belanja Edward tidak mengantar Karin pulang. Karin pulang naik taksi agar Helmi dan anggota keluarga lainnya tidak curiga. "Wah, mama habis belanja banyak ya?" tanya Mario yang baru pulang dari sekolah.
"Iya, untuk adik kamu," jawab Karin.
"Aku bantu bawakan ke kamar ya, Ma," kata Mario. Karin mengangguk.
"Ketika dia baru masuk ke dalam kamar, Edward mengirim pesan dan meminta sejumlah uang pada Karin. Wanita itu tak segan-segan mengirim sejumlah uang yang diminta oleh kekasih gelapnya itu.
Di tempat lain, Helmi merasa kesal karena tagihan kartu kreditnya membludak. Dia meremat kertas tagihan tersebut. "Karin keterlaluan," ucapnya seraya menggertakkan gigi.
"Tidak ada apa-apa," jawab Helmi ketus. Dia membuang kertas yang dia pegang ke dalam tempat sampah. Tapi tanpa sepengetahuan Helmi, Adli memungut kertas yang diduga membuat ayahnya marah tersebut.
"Papa harus selidiki untuk apa saja penggunaan uang sebanyak ini. Dia tidak mungkin menghabiskannya sendiri," ujar Adli meyakinkan ayahnya. Helmi melirik Adli.
"Maksud kamu apa?" tanya Helmi tidak paham dengan maksud Adli.
__ADS_1
"Apa ayah tidak curiga dia ada main di belakang?" tuduh Adli.
"Jangan sembarang menuduh kamu!"
Adli tersenyum miring. "Aku tidak akan sembarangan bicara kalau aku tidak melihatnya sendiri tadi pagi. Saat aku dalam perjalanan ke sini, Aku melihat Karin satu mobil dengan laki-laki yang tidak aku kenal," ungkap Adli.
Helmi mengepalkan tangan. "Mana buktinya?" tanya Helmi.
"Aku tidak sempat memotret mereka karena aku terburu-buru. Lagi pula arah kami berbeda jadi aku tidak bisa mengikuti mereka sampai mendapatkan foto."
Helmi tersenyum sinis. "Kamu masih membencinya. Aku tidak percaya pada ucapanmu."
"Baiklah, terserah papa. Aku pun tidak peduli karena kita punya hidup masing-masing," tutur Adli yang bersikap cuek.
Setelah itu Adli keluar dari ruangan ayahnya. Adli mendapat pesan dari Jingga kalau dia sedang menjenguk ibunya Lidia. Adli tak membalas pesannya tapi langsung menelepon sang istri.
"Nanti pulangnya aku jemput saja. Violet sama kamu?" tanya Adli.
__ADS_1
"Tadi Rizky datang dan membawa dia jalan-jalan," jawab Jingga.
"Ya sudah kabari jika sudah selesai," pesan Adli pada istrinya.