
Sudah dua tahun Jingga dan Adli menikah, tapi dia belum juga mendapatkan momongan. Padahal Karin, wanita yang baru saja dinikahi oleh Helmi menikah beberapa bulan saja sudah hamil. Mario tentu saja sangat senang. Secara dia akan mendapatkan adik.
Karin tak henti-hentinya mengejek Jingga. Wanita itu memamerkan kehamilannya pada semua orang. Tentu saja Jingga merasa malu. Bukankah aib bagi pasangan yang telah menikah tapi belum memiliki anak?
"Mas apa aku perlu program hamil? Supaya kita cepat mendapatkan momongan?" tanya Jingga yang merasa tidak enak pada suaminya itu.
"Tidak perlu, Yang. Kita sabar aja. Kalau waktunya dikasih kita juga akan mendapatkan anak. Nggak usah terburu-buru lagipula Violet masih membutuhkan kamu," kata Adli dengan bijak. Namun, sebenarnya di dalam hati dia menginginkan keturunan.
'Apa kesalahan terletak pada diriku? Jangan-jangan aku yang mandul,' batin Adli yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Mas Adli mikirin apa?" tanya Jingga.
"Mas lagi mikirin kerjaan. Akhir-akhir ini banyak masalah di pabrik. Jadi kemungkinan beberapa hari ke depan Mas akan lembur," jawab Adli berbohong.
"Sarapan dulu, Mas sebelum berangkat. Aku bangunin Violet dulu," ucap Jingga. Adli mengangguk paham.
Setelah itu Adli menuju ke meja makan. Tiba-tiba dia merasa mual ketika mencium bau selai dan roti. "Hoek, hoek."
Jingga yang mendengar suaminya muntah segera menyusul. "Mas kamu masuk angin ya? Mau aku belikan obat?" tanya Jingga. Adli menggeleng lemah.
"Nggak usah. Bikinin teh anget saja!" pinta Adli. Jingga pun meletakkan Violet sementara di depan televisi. Dia menangis saat Jingga terpaksa menurunkan dari gendongannya.
__ADS_1
"Duh seandainya ada ayah," gumam Jingga. Sudah lebih dari tiga bulan yang lalu ayah Jingga meninggal akibat serangan jantung. Mereka hanya tinggal bertiga di rumah itu sekarang ini.
Jingga membuat teh hangat dengan terburu-buru. Dia hampir saja terpeleset untungnya kakinya masih bisa menahan berat tubuhnya. "Mas ini teh hangatnya. Aku menghampiri Violet dulu ya," pamit Jingga setelah meletakkan teh hangat itu di meja.
"Ya ampun anak bunda jangan nangis lagi ya." Jingga berusaha memenangkan anaknya. Violet agak rewel karena dia baru bangun tidur. Sebagai anak-anak wajar jika dia menangis karena ditinggal ibunya.
Usai memandikan Violet, Adli menghampiri Jingga. "Aku berangkat kerja dulu ya," pamit Adli.
"Mas tadi rotinya dimakan nggak?" tanya Jingga. Adli menggeleng.
"Nggak berselera. Nanti cari aku makan di luar saja," jawab Adli.
"Iya,"jawab Adli singkat.
Jingga merasa khawatir pada suaminya. Dia pun meminta tolong pada Rizky untuk mengabari jika terjadi sesuatu pada Adli.
"Iya, nanti sepulang kerja aku akan lihat keadaan abang di pabrik," jawab Rizky melalui sambungan telepon.
Setelah menelepon adik iparnya. Jingga menyuapi Violet. Setiap satu suapan yang masuk ke dalam mulut Violet Jingga menyuapi mulutnya sebanyak tiga kali. Violet hanya menganga ala anak kecil saat ibunya itu mengabiskan makanannya.
"Eh, kok udah habis sih. Mama tambahin ya makannya," ucap Jingga.
__ADS_1
Usai menyuapi makanan pada Violet. Jingga mengajak anaknya jalan-jalan di taman yang tak jauh dari rumahnya. Saat itu mereka bertemu dengan Karin dan Lidia yang saat itu sedang janjian bertemu di kafe yang ada di sekitar situ.
"Eh ada menantu," sindir Karin. "Kamu ketemu mertua kok nggak ada sopan-sopannya ya? Salim kek atau tegur gitu," omel Karin.
"Meskipun kamu menikah dengan papa tapi aku tidak menganggap kamu ibu mertuaku. Karena suamiku tidak mengakui dirimu sebagai ibu sambungnya," sanggah Jingga.
Lidia terkejut dengan jawaban Jingga. Begitu pun dengan Karin. Karin mengangkat tangan seolah akan menampar Jingga. Tapi entah datang dari mana Adli tiba-tiba menangkap tangan wanita itu dan mencegahnya menampar sang istri.
"Jangan kurang ajar kamu!" bentak Karin pada Adli.
"Cih, apa kamu tidak punya cermin? Seharusnya yang bercermin adalah dirimu," balas Adli sambil membuang tangan Karin yang sempat dia genggam. Setelah itu dia mengajak Jingga dan anaknya pergi.
"Kenapa kamu bisa berurusan dengan dia?" tanya Adli.
"Aku tak sengaja lewat mereka yang datang menghampiri aku," jawab Jingga.
"Lain kali hindari dia. Jangan suka berurusan dengan istri papa. Dia sangat dimanja oleh papa. Jangan sampai dia mengadu," kata Adli memberi tahu. Jingga mengangguk paham.
"Oh iya, kenapa Mas tiba-tiba ada di taman itu?"
Hayo... Apa ya kira-kira alasan Adli?
__ADS_1