
Hidup itu pilihan bukan? Seperti saat ini aku memilih menjalani hidupku bersama adegan orang yang mencintaiku dengan sepenuh hati.
"Sayang, di mana Aurora?" tanya Mas Danzel padaku.
"Sedang main bersama papa mama di belakang, Mas," jawabku. Ya, aku menikah dengan Mas Danzel. Entah kenapa aku menyetujui lamarannya saat itu.
"Apa boleh aku yang membelikan dia cincin Om?" tanya Mas Danzel pada papaku waktu itu. Aku kira dia becanda. Namun, keesokan harinya dia benar-benar datang melamarku. Dia membawa neneknya untuk meminta izin pada orang tuaku agar dia bisa menikah denganku.
Aneh memang. Di saat aku belum lama putus dengan kakaknya, Mas Danzel tiba-tiba datang melamarku. Sebenarnya aku sudah lama tahu kalau dia tertarik padaku sejak pertama kali kami bertemu. Namun, aku pura-pura tidak tahu dan menjaga jarak demi menjaga omongan orang lain terhadapku. Aku tidak mau orang lain berpandangan buruk tentang diriku.
__ADS_1
Berkali-kali dia mengungkapkan perasaannya secara gamblang. Namun, aku hanya menganggap ucapan Mas Danzel saat itu hanya untuk menggodaku semata. Aku mengira dia adalah tipe laki-laki yang suka becanda. Akan tetapi semua itu tidak berlaku ketika dia melamarku di depan kedua orang tuaku.
"Bagaimana Vio? Danzel melamarmu saat ini. Apa kamu bersedia menikah dengannya?" tanya papaku saat itu.
Bagaimana aku bisa menolak lamaran Mas Danzel jika semua orang berharap aku bahagia. Aku bisa melihat dari mata kedua orang tuaku dan juga mata nenek Mas Danzel yang berharap aku segera menjawab iya. "Aku bersedia, Pa," jawabku.
Sesaat aku merasa bersalah pada Mas Justin. Akan tetapi, ini hidupku. Aku berhak bahagia dengan orang yang akan menjamin kebahagiaan untukku. Aku sudah lama menderita. Salahkah jika aku mulai mencari kebahagiaan?
Jika diingat-ingat setiap hari semenjak aku dan suamiku menikah tidak satu haripun dia membuatku bersedih. Bahkan perhatian yang dia berikan padaku bertambah ketika aku hamil anak pertamaku itu. Dari situlah aku semakin yakin dengan pilihanku.
__ADS_1
Tuhan memang sudah menunjukkan jodoh yang tepat untukku. Aku yang awalnya ragu dengan pilihanku menjadi yakin setelah Mas Danzel menjadi seorang ayah dari anakku. Sikapnya yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarga membuatku luluh padanya.
"Terima kasih sayang telah melahirkan anak yang sangat manis ini," ucap suamiku kemudian mencium keningku agak lama.
Aku merasa pengorbananku sebagai seorang wanita sangat dihargai. Betapa tidak, dia mengucapkan kata-kata manis itu tepat setelah aku melahirkan. Ya, saat itu Mas Danzel memilih menemani proses persalinan ku. Aku memang sangat membutuhkan dukungan saat itu. Dia dengan suka rela menawarkan diri untuk menemani istrinya. Wanita mana yang tidak terharu.
Tidak ada pilihan yang salah. Hanya saja seberapa lama kita bertahan dengan pilihan itu. Aku membuktikan sendiri bagaimana usaha tidak mengkhianati hasil. Bersabar adalah jalan kebahagiaan untukku.
"Terima kasih sudah menjadi suami siaga. Jangan pernah mengurangi rasa sayangmu padaku dan anak kita," ucapku seraya melihat bayi mungil yang baru saja aku lahirkan.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengurangi kasih sayangku pada kalian. Justru aku akan menambah kasih sayangku jika perlu," ucap Mas Danzel.
...TAMAT ...