
Cyan menyusul kakaknya. "Kamu kenapa sepertinya menolak kehadiran Kak Violet?" tanya Cyan penasaran. Albiru memang selalu bersikap dingin tapi dia tidak pernah menunjukkan secara langsung kebenciannya pada seseorang.
"Aku pikir kekayaan papa hanya dibagi untuk kita berdua. Berbagi denganmu saja aku tidak rela apalagi berbagi dengan orang lain," ucap Biru dengan angkuh.
Cyan tidak menyangka kalau kakaknya itu materialistis. "Untuk apa memikirkan warisan kalau orang tua kita masih hidup? Tidak aku sangka kamu sepicik itu." Cyan pergi setelah mengatakan hal itu pada Biru.
Cyan sangat kecewa dengan sikap Biru. Dia tidak menyangka kalau saudara kembarnya sangat serakah. "Cyan, ada apa?" tanya Violet saat berpapasan dengan adiknya.
"Tidak ada apa-apa, Kak," elak Cyan.
"Kak Vio mau ke mana hari ini?" tanya Cyan.
"Aku hanya penasaran kalau Papa Adli adalah suami kedua mama, apakah ayah kandungku masih hidup?" tanya Vio pada Cyan.
Cyan menggedikkan bahu. "Apa kakak tidak ingat sama sekali?" Violet menggeleng.
"Kakak ingin mencari ayah kandungmu?" Violet mengangguk.
"Kita tanya mama saja dulu. Setelah itu akan aku antar kakak menemui orang tuamu." Violet mengangguk setuju.
Cyan dan Violet menghadap Jingga dan Adli yang sedang berkumpul di ruang tengah. "Kalian kenapa bisa barengan?" tanya Jingga.
Cyan dan Vio saling menatap. Setelah itu mereka sama-sama mengangguk. "Ma, boleh aku tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Tanyakan saja, Vio," jawab Jingga.
"Apa ayah kandungku masih hidup?" tanya Violet. Adli langsung menyemburkan kopi yang hampir saja dia telan.
"Mas pelan-pelan!" Jingga memukul pelan bagian punggung suaminya.
"Ma, mama kenapa tidak menjawab pertanyaan Kak Vio?" Cyan merasa tidak sabar.
"Cyan, masuk ke kamarmu!" perintah Adli oada putra bungsunya itu.
"Tidak! Aku akan mengantar Kakak jika benar ayah kandungnya masih hidup," tolak Cyan.
Jingga menggenggam tangan putrinya. "Ayah kandung kamu masih hidup tapi dia sudah punya keluarga baru. Apa kamu masih ingin menemuinya?" tanya Jingga.
"Boleh kan, Ma?" tanya Violet meminta izin. Jingga mengangguk.
"Tulis saja alamatnya, Ma."
"Cyan," tegur Adli agar Cyan tidak menyela ucapan orang tuanya.
"Mama tahu kamu peduli pada kakakmu, tapi jika kamu yang datang, ayah Vio pasti tidak akan percaya. Jadi biarkan papa yang menemani kakakmu." Jingga mencoba mengungkapkan alasannya.
Cyan menghela nafas kasar."Baik, Ma."
__ADS_1
"Vio, istirahat saja dulu. Besok pagi papa akan mengantarmu."
"Kenapa tidak sekarang, Pa?" tanya Violet.
"Kami tahu kamu ingin sekali bertemu aya kandungmu. Tapi setidaknya hormati privasinya. Ini sudah malam mereka pasti sudah beristirahat." Vio mengangguk patuh.
Violet kembali ke dalam kamar. Sesaat kemudian dia mendapatkan panggilan video dari Justin. "Hallo, Mama," seru Sabrina yang muncul ketika panggilan itu diangkat.
Violet tersenyum lebar. "Apa kamu kangen sama mama?" tanya Violet. Sabrina mengangguk cepat.
"Kapan mama akan tidur lagi bersamaku?" tanya Sabrina. Anak kecil itu selalu menanyakan Violet setiap kali sebelum dia tidur. Violet tersenyum malu-malu ketika wajah Justin tiba-tiba muncul di layar ponselnya.
"Sebentar lagi, bukankah begitu Mas?" tanya Violet pada Justin. Justin mengulas senyum di wajahnya yang tampan.
"Pasti, sayang." Violet langsung tersenyum ketika mendengar Justin memanggilnya dengan sebutan sayang.
Keesokan harinya, Adli mengantarkan Vio ke rumah Fabian. "Sudah lama tidak bertemu," sapa Fabian. Lalu dia melirik pada gadis yang berdiri di samping Adli.
"Violet sudah kembali." Ucapan tersebut langsung ditangkap oleh otak Fabian. Antara percaya tidak percaya tapi dia senang anaknya yang hilang selama belasan tahu akhirnya bertemu.
"Rupanya ada tamu." Seorang wanita yamg berpenampilan sederhana namun elegan berjalan mendekat.
"Siapa dia, Mas?" tanya Melati.
__ADS_1
"Violet," jawab Fabian mendengat.
Violet sedikit kecewa karena Fabian tidak menyambut kepulangannya dengan baik. 'Rupanya ayah kandungku telah melupakan diriku demi wanita ini.'