Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Dilamar


__ADS_3

Hari ini Jingga untuk pertama kalinya pergi ke sebuah mall yang ada di kota tempat dia tinggal saat ini. Jingga ingin membeli barang-barang kebutuhan Violet.


Di saat yang bersamaan Adli sedang berada di mall yang sama. Dia sedang mengikuti pameran furniture di mall itu. Mata Adli melihat Jingga dari arah kejauhan. Adli pun berjalan setengah berlari mengejar Jingga.


Ketika dia semakin dekat, anak buahnya tiba-tiba memanggil. "Pak, pihak mall ingin bicara dengan Anda." Adli pun terpaksa balik badan. Dia menyesal tidak bisa menemui Jingga.


Jingga yang selesai berbelanja mendorong stroller yang dia bawa. Namun, tiba-tiba roda stroller itu macet. Jingga mencoba membetulkan roda itu. Sayangnya dia tidak berhasil.


"Perlu bantuan?" Suara bariton itu membuat Jingga mendongak.


"Kak Adli," ucap Jingga menyebut nama laki-laki yang dia kenal.


Adli mengulurkan tangannya. Tapi Jingga bangun tanpa menerima uluran tangan Adli. "Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Jingga bingung. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Adli.


"Aku ikut pameran di sini," jawab Adli singkat. "Kamu tinggal di kota ini?" tanya Adli kemudian. Jingga mengangguk.


Sesaat kemudian Adli menoleh pada bayi kecil yang ada di dalam stroller. "Rupanya kamu sudah besar." Adli mengajak Violet bicara.


Kemudian pemuda itu berjongkok. "Sepertinya ada bagian yang perlu diperbaiki. Sebaiknya kita lipat saja. Kamu gendong anak kamu. Biar aku yang bawa strollernya," tutur Adli.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Jingga yang merasa tidak enak.


Adli mengulas senyum di wajahnya yang tampan. "Tidak sama sekali. Ayo aku antar pulang." Jingga terpaksa menurut. Dia berjalan sambil menggendong Violet.


Sesampainya di dekat mobil Adli membukakan pintu untuk Jingga. Jingga masuk bersama Violet. Setelah itu Adli mengantar Jingga hingga ke rumahnya.

__ADS_1


"Boleh aku masuk?" tanya Adli. Jingga tentu tidak tega mengusir orang yang telah baik mengantar dirinya pulang.


"Masuk, Kak. Tapi maaf rumahnya sederhana," kata Jingga.


"Mau minum apa?" tanya Jingga kemudian.


"Tidak perlu repot-repot. Aku hanya sebentar."


Jingga pun duduk di depan Adli. "Jingga, kenapa kamu baru muncul? Semua orang mencarimu," kata Adli.


"Aku hanya ingin membuat lembaran baru dengan anakku," jawab Jingga dengan nada yang terkesan dingin. Adli bisa merasakan kesedihan di wajah Jingga.


"Justru seharusnya kamu tunjukkan pada mantan suami kamu kalau kamu bisa hidup lebih baik tanpa dia. Bukan cara menghindar seperti ini. Buat dia menyesal!"


Jingga berpikir sejenak. "Aku sudah bahagia di sini. Aku juga bisa mendapatkan uang yang cukup dengan mengajar les privat di sini. Lantas apalagi yang aku perlukan di sana?"


Sudah lama dia memendam perasaan pada Jingga. Tidak ada salahnya jika dia mengungkapkan perasaannya saat ini. Toh Jingga sudah tidak lagi menjadi milik orang.


"Jingga, menikahlah denganku!" Ucapan Adli membuat Jingga terkejut. Dia tidak menyangka kalau Adli akan melamarnya.


"Kak, kenapa kakak tidak mencari wanita yang lebih baik selain aku? Aku ini seorang janda beranak satu." Jingga merasa minder.


"Jingga yang aku lihat bukan status kamu. Sebelum kamu menikah dengan Fabian aku sudah naksir sama kamu. Tapi sayangnya kesempatan aku untuk lebih dekat dengan kamu menjadi terhalang karena status pernikahan kamu dengan laki-laki breng*sek itu," ungkap Adli.


"Aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku butuh waktu," jawab Jingga. Hatinya bimbang. Dia juga wanita biasa yang ingin memperoleh pasangan yang bisa menemani dia dalam suka dan duka. Tapi perceraiannya masih meninggalkan trauma di hatinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan sering-sering main ke sini. Jadi persiapkan dirimu! Kalau begitu aku pamit," kata Adli.


Jingga tak mengantar laki-laki itu. Dia masih syok karena Adli tiba-tiba melamarnya. "Vio, apa yang harus bunda lakukan?" tanya Jingga pada bayi yang belum mengerti apa-apa itu.


Sepanjang malam Jingga terus memikirkan lamaran Adli. Kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan Adli ada benarnya. Dia harus menunjukkan pada mantan suaminya itu jika dia lebih bahagia setelah berpisah dari Fabian.


"Sepertinya kamu akan punya ayah baru Vio? Bunda akan memutuskan untuk menerima lamaran Om Adli," kata Jingga bergumam di depan anaknya yang tengah tertidur. Dia mengusap sayang rambut anaknya yang masih tipis.


Selang dua hari, Adli datang lagi ke rumah Jingga. Saat itu Jingga baru saja selesai mengajar muridnya. "Bu Jingga, dia siapa?" tanya Nanda.


"Dia teman ibu," jawab Adli.


"Owh aku kira suami Bu Jingga yang baru pulang," ujar Nanda dengan polosnya. Dia tidak tahu kalau Jingga selama ini tidak punya suami.


"Sebentar lagi," kata Jingga. Ucapan wanita itu di dengar oleh Adli. Adli bahkan menajamkan telinganya, apakah telinganya itu masih berfungsi dengan baik atau tidak.


Setelah kepulangan Nanda, Adli bertanya pada Jingga. "Jingga apa maksud perkataan kamu tadi?" tanya Adli.


Jingga tentu tahu maksud pertanyaan laki-laki tampan itu. "Iya, Kak. Aku bersedia menikah denganmu," jawab Jingga.


Adli senang bukan main. Dia menggenggam tangan Jingga lalu menciumnya. "Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu dan anak kita."


Jingga merasa terharu karena Adli telah menganggap Violet sebagai anaknya sendiri. 'Semoga keputusan yang aku ambil ini tidak salah,' batin Jingga.


...♥️♥️♥️...

__ADS_1


Sambil nunggu kalian bisa mampir ke cerita ini ya



__ADS_2