Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Pindah


__ADS_3

Setelah Jingga resmi bercerai dengan Fabian, Jingga memilih untuk pindah ke luar kota. Wanda dan Erik sempat melarang karena mereka khawatir pada Jingga dan anaknya. Namun, Jingga bersikeras untuk membawa anaknya pergi dari kota itu.


Jingga hanya ingin mulai lembaran baru dengan bayi yang belum genap sebulan itu. Jingga kembali mengontrak rumah untuk tempat dia berteduh. Kali ini dia mencari rumah kontrakan yang sangat murah agar uang tabungannya cukup. Apalagi dia sudah tidak bekerja lagi sebagai pengajar di sekolah yang didirikan oleh April.


Rizky yang merasa aneh ketika Jingga tidak lagi kembali mengajar setelah melahirkan jadi merasa curiga. Dia sangat merindukan wanita itu. Walau setahunya Jingga masih milik Fabian, tapi Rizky berharap dia mendapatkan kesempatan untuk berjodoh dengan Jingga.


"Maaf, Bu April. Apakah Bu Jingga tidak kembali mengajar di sekolah kita?" tanya Rizky.


"Saya tidak tahu kabar terakhir Bu Jingga. Dia sudah berpisah dengan suaminya," ungkap April. Rizky merasa senang ketika mendengar kabar tersebut.


"Baik, kalau begitu saya permisi," pamit Rizky. Dia kemudian pergi untuk mencari tahu keberadaan Jingga. Kebetulan saat itu jam pelajaran telah selesai.


Rizky mengendarai mobilnya lalu sengaja berjalan lambat agar dia bisa melihat ke sekeliling jalan. Dia berharap Jingga ada di suatu tempat yang bisa dia temui.

__ADS_1


"Jingga, aku pasti akan menemukanmu," gumam Rizky.


Di tempat lain, Jingga tengah memasak untuk dirinya sendiri. Sedangkan bayinya tengah tertidur setelah dia meminum ASI dari sumbernya.


Jingga mulai makan setelah menggoreng telur. Dia butuh asupan makanan setelah menyusui anaknya. Wanita itu makan sambil memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan tapi tanpa meninggalkan Violet.


Kemudian Jingga mendapatkan ide untuk membuka les privat di rumah. "Iya, benar. Aku akan mulai pasang banner di depan rumah besok."


"Semoga aku bisa mencari uang dengan cara ini," gumam Jingga.


Dua hari berlalu Jingga belum juga mendapatkan murid. Akhirnya dia memasang iklan di media sosial. Hanya menunggu beberapa jam, Jingga mendapatkan lebih dari tiga murid.


Kemudian dia menyusun jadwal agar tidak bertabrakan dengan anak lain. "Alhamdulillah, Vio. Semoga Bunda bisa menghasilkan banyak uang dari mengajar anak-anak orang kaya.

__ADS_1


Hari-hari Jingga mulai sibuk untuk mengajar anak-anak yang mendaftar masuk ke bimbelnya. Dia mengajar sambil menidurkan Violet. Violet tidak pernah rewel ketika ibunya sedang mengajar.


Jingga memasok bayaran per minggu untuk tiap anak. Jadi dia tidak kelamaan menunggu hingga sebulan agar bisa mendapatkan uang. Dengan uang itu, Jingga bisa membeli kebutuhan Violet berupa popok sekali pakai, bedak, sabun, dan lain-lain.


Setelah sebulan lamanya pindah ke luar kota, Jingga merindukan orang-orang baik yang telah merawat dirinya. Dia merasa kesepian karena bayi mungil itu belum bisa merespon ketika diajak berbicara.


"Vio, ayo mandi." Jingga mulai membuka baju yang dipakai anaknya. Kemudian dia merendam tubuh Vio dalam air hangat.


"Tuh seger kan Vio."


Jingga menikmati hari-hari menjadi ibu. Walau sebenarnya dia merasa sedih karena tidak ada pendamping yang bisa diajak berbagi. "Apa kamu setuju jika ibu menikah lagi, Vio?" gumam Jingga yang mengajak anaknya bicara.


Jingga memang tidak ingin menutup diri. Dia tidak ingin jadi insecure. Jingga pikir percaya diri adalah daya tarik yang utama.

__ADS_1


__ADS_2