Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
POV Jingga


__ADS_3

Semakin hari kandunganku semakin besar. Aku pun semakin takut jika Mas Fabian menceraikan aku. Belum lagi Kak Lidia menginginkan bayi yang ada di kandunganku ini. Salahkah jika aku mempertahankan anakku? Aku yang mengandung. Aku yang akan melahirkan. Apa salah jika aku merawat anakku hanya karena Kak Lidia, orang yang telah banyak berjasa menginginkan bayiku ini?


"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Mas Fabian. Aku sempat melamun sebelum dia akhirnya mengajukan pertanyaan.


"Mas, dulu kamu pernah berniat menceraikan aku? Apakah kamu akan melanjutkan niatmu?" tanyaku pada Mas Fabian.


"Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak pernah berpikir seperti apa yang kamu katakan Jingga," elak suamiku. Padahal dulu telingaku benar-benar mendengar percakapannya dengan Kak Lidia jika dirinya hanya menginginkan bayi ini.


Aku mengusap lembut anak yang sedang berada di dalam perutku. Dia sudah bisa bergerak aktif dan aku juga bisa merasakan denyut jantungnya yang seolah menyatu dengan denyut jantungku. Lantas ibu mana yang tega menyerahkan anaknya pada orang lain. Meskipun kelak dia diasuh oleh ayahnya sendiri.


"Aku hanya berpikir apa yang akan aku lakukan setelah melahirkan jika dia kuserahkan pada Kak Lidia?" tanyaku pada suamiku.

__ADS_1


"Jingga, hentikan ucapanmu. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Nikmati saja kehamilanmu saat ini. Tidak akan ada yang memisahkan kamu dengan anakmu," kata Mas Fabian.


Aku tersenyum sinis karena aku tidak yakin akan janjinya. Hari ini suamiku sengaja menemaniku di rumah. Biasanya dia akan tidur di tempat Kak Lidia. Hidupku ini lucu atau seru jika dibukukan? Ah, aku bertanya-tanya jika ku tulis kisahku ini apakah ada orang yang akan membacanya?


"Mas, sudah lama aku tidak bertemu dengan Kak Lidia? Apa dia sehat?" tanyaku basa-basi.


"Iya, dia baik-baik saja," jawab suamiku. Tak ada pembicaraan lain tentang istri pertamanya.


"Aw." Aku merasakan sakit di bagian perutku.


"Hanya kontraksi palsu, Mas. Kata Bu bidan tidak masalah," jawabku.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak periksa saja ke dokter?" tanya suamiku.


Aku tersenyum. "Jaraknya terlalu jauh. Lagipula Bidan di sini lebih dekat dan biayanya lebih murah," jawabku setengah menyindir. Jujur Mas Fabian hanya memberiku uang jika aku memintanya bukan secara suka rela menafkahiku. Kadang aku merasa tidak adil tapi aku sadar kala aku hanya istri kedua.


Mas Fabian merasa kalau aku menyindirnya. Dia pun mengeluarkan isi dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang berwarna merah padaku. "Apa ini, Mas?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.


"Maaf karena aku lupa memberimu uang. Besok periksakan anak kita ke dokter. Naik taksi saja supaya kamu tidak kecapekan. Uang ini aku rasa cukup untuk periksa ke dokter spesialis kandungan," kata suamiku.


Aku tersenyum lucu. Dia memberikan uang ratusan ribu sejumlah tujuh lembar. Padahal sekali periksa ke dokter spesialis kandungan dengan biaya sendiri aku bisa habis lebih dari delapan ratus ribu sudah termasuk obat dan vitamin yang harus aku konsumsi rutin setiap harinya.


"Terima kasih, Mas," ucapku meski aku sedikit dongkol. Kenapa dia tidak memberiku ATMnya saja? Pikirku. Ah, apa dia memberikannya pada Kak Lidia. Hah, sungguh tidak adil. Padahal sudah jelas jika laki-laki boleh menikahi wanita lebih dari satu jika dia bisa berlaku adil.

__ADS_1


Ah, aku lupa pernikahan ini dilakukan dengan terpaksa. Jadi mungkin Mas Fabian belum terbiasa. Lucu, bahkan hingga usia kandunganku menginjak tujuh bulan dia masih belum bisa menyesuaikan diri.


"Sebaiknya kamu istirahat," perintah suamiku. Aku pun masuk ke kamar dan kami akan tidur dengan mimpi masing-masing karena tidak pernah suamiku bicara tentang mimpinya bersamaku.


__ADS_2