Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Jadi menikah


__ADS_3

Jingga duduk di bangku yang ada di pinggir jalan bersama Fabian. Dia sedang mengobati wajah Fabian yang kena pukul. "Aw, pelan-pelan." Fabian meringis kesakitan.


"Maaf, Mas." Jingga meniup wajah Fabian hingga membuat laki-laki itu meremang. Sesaat kemudian dia mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Jangan terlalu dekat!" Fabian memberi peringatan.


Tak lama kemudian tiba-tiba turun gerimis. Fabian reflek membuka jasnya untuk menutupi tubuh Jingga. "Ayo kita masuk ke mobil!"


Sumpah demi apa, jantung Jingga serasa ingin copot dari tempatnya ketika Fabian memperlakukannya dengan manis.


"Kita akan pulang ke rumahku. Kamu belum dapat tempat tinggal bukan?" tanya Fabian pada Jingga. Jingga mengangguk sambil menunduk.


Sebenarnya dia malu pulang ke rumah Fabian dan Lidia tapi apa boleh buat. Tidak mungkin juga dia tidur di jalan malam ini.


Ketika sampai di rumah, Fabian terkejut karena melihat mobil sang ayah tengah terparkir di depan rumahnya.


"Papa? Kenapa ada di sini?" tanya Fabian.


"Papa sudah dengar cerita dari Lidia. Papa kecewa sama kamu, Fab. Nikahi Jingga segera. Apa kamu tidak malu jika orang-orang di luar sana membicarakan kalian?" Erik melirik ke arah Jingga.


"Mas, kok kalian baru pulang?" tanya Lidia.


"Lidia, kenapa kamu bawa-bawa papa?" bentak Fabian yang merasa kecewa.


"Kalau tidak begini kamu mana mau nikahi Jingga, Mas," jawab Lidia tak mau kalah.


"Haccih, haccih." Jingga bersin-bersin akibat kedinginan.


Lidia berjalan mendekati Jingga. "Jingga ayo aku antar kamu masuk ke dalam kamar," ucap Lidia dengan lembut. Jingga hanya bisa menurut.


Sementara itu terjadi pembicaraan serius antara Erik dan Fabian. "Papa tidak mau kamu mengecewakan papa. Dia mengandung anakmu, Fab. Nikahi Jingga besok!"


"Pa, terlalu mendadak," tolak Fabian.

__ADS_1


"Kamu pikir apa yang akan terjadi jika kamu tidak juga menikahi Jingga. Perutnya akan membesar. Orang-orang pasti akan menghina dia jika dia tidak punya suami."


"Lalu jika menjadi istri kedua apa orang-orang tidak akan mengucilkan dia, Pa?" tanya balik Fabian.


"Lalu apa kamu mau lari dari tanggung jawab? Papa tidak pernah mendidik kamu seperti itu, Fab. Kali ini turuti saran papa untuk menikahi calon ibu dari anakmu. Dia darah dagingmu. Bukankah sudah lama kamu menginginkan keturunan?" Erik berusaha membuka hati Fabian.


"Aku hanya ingin anak dari Lidia, Pa."


"Papa tahu kamu mencintai Lidia. Tapi Jingga tidak salah dalam hal ini. Dia korban, Fab. Dia korban pemer*kosaan yang kamu lakukan padanya."


Fabian mengusap wajahnya kasar. "Baiklah, aku akan menikahi Jingga," ucap Fabian dengan nada putus asa.


Lidia yang mendengar dari balik tembok seketika meneteskan air mata. Dia yang menginginkan suaminya menikahi Jingga agar mendapatkan keturunan tapi di sisi lain dia juga wanita biasa. Hati wanita mana yang tidak tersakiti jika melihat suaminya menikahi wanita lain?


Keesokan harinya Fabian menjabat tangan penghulu. Semua dipersiapkan secara mendadak. Yang hadir hanya keluarga Lidia, ibu serta adiknya. Sedangkan dari pihak Fabian hanya ayahnya saja. Mereka tidak memberi tahu April meski dia adalah adiknya dengan pertimbangan agar tidak ada yang tahu soal aib yang telah ia sebabkan. Jujur saja Erik malu jika keluarga David mengetahui putranya telah menghamili anak gadis orang.


"Sah," ucap para saksi yang menyaksikan acara ijab qobul saat itu. Jingga tidak tahu di mana ayahnya berada sehingga mereka menggunakan wali hakim untuk menikahkan Jingga dan Fabian.


"Mempelai wanita silakan mencium tangan suaminya," perintah Pak Penghulu pada Jingga.


"Mulai hari ini kalian sudah resmi menjadi suami istri."


Ibu Lidia menangis antara terharu dan sedih. "Ibu tidak menyangka kamu akan menjadi madu kakakmu, Jingga," tutur Ibunda Lidia.


"Maafkan aku, Tante. Aku juga tidak tahu akan seperti ini jadinya." Jingga turut menyesal. Dia menangis di hadapan orang tua Lidia.


Setelah itu Diva memberi selamat pada Jingga. "Aku juga kaget dengan pernikahan ini. Aku harap kamu tidak serakah nantinya pada Kak Lidia. Bagaimana pun dia tetap istri pertama." Diva memberikan wejangan pada Jingga. Jingga mengangguk paham.


Semua orang bubar setelah acara pernikahan itu. Tidak ada resepsi karena tidak ada tamu yang diundang. "Mas kamu sudah siapkan rumah untuk Jingga, bukan?" tanya Lidia.


Jujur saja Lidia tidak akan tahan tinggal dengan madunya dalam satu atap. "Aku akan bawa dia ke apartemenku," jawab Fabian.


"Jingga, kamu tidak apa-apa kan tinggal di apartemen?" tanya Lidia dengan lembut.

__ADS_1


"Aku terserah Mas Fabian saja, kak." Jingga tentu tidak bisa banyak menuntut. Dia sadar dia hanya istri kedua Fabian.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Fabian.


"Aku pamit, Kak." Jingga pergi masih mengenakan kebayanya. Dia dan suaminya akan ke apartemen milik Fabian yang sudah lama tidak mereka tinggali.


Sesampainya di gedung apartemen, Fabian membantu Jingga mengangkat barang-barang istri barunya itu.


"Istirahatlah!" Fabian hendak keluar tapi Jingga menahannya.


"Kapan Mas datang ke sini?" tanya Jingga.


"Itu bukan urusan kamu," jawab Fabian dengan ketus. Jingga merasa sedih karena mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya.


Fabian pergi begitu saja meninggalkan Jingga. Malam ini dia tidak bisa pulang ke rumah Lidia karena istri pertamanya itu mewanti-wanti agar Fabian menemani Jingga untuk malam ini.


Lagi-lagi Fabian mengajak Axel mabuk di klub malam yang biasa mereka kunjungi. "Ada masalah apa kali ini?" tanya Axel yang penasaran.


"Gue cerita pun percuma. Elo nggak bisa bantu gue," racau Fabian yang sudah setengah mabok.


"Lidia desak lo buat nikah lagi?" tebak Axel.


"Lebih dari itu, bokap gue juga ikut-ikutan," jawab Fabian.


"Hah? Kok bisa? Apa bokap lo udah nggak sabar pengen cucu dari lo?"


"Hahaha, yang jelas gue nggak mau pulang malam ini. Gue benci sama dia."


Entah siapa yang dimaksud Fabian akhirnya Axel mengajak sahabatnya itu pulang ke rumahnya. "Lebih baik malam ini lo tidur di sini."


Axel menyeret Fabian ke dalam kamarnya. Laki-laki itu terkulai lemas karena teler. Sedangkan Axel yang hanya minum sedikit tidak akan membuatnya mabuk karena dia sudah terbiasa.


"Hai, Babe. Siapa laki-laki yang kamu bawa masuk?" tanya wanita ja*lang yang datang ke rumah Axel.

__ADS_1


"Jangan ganggu dia! Dia sedang ada masalah. Lebih baik main saja denganku, hm." Tangan Axel mulai nakal kemudian dia menempelkan bibirnya ke bibir sek*si wanita itu.


Di tempat lain, Jingga sangat cemas karena lewat tengah malam Fabian tidak pulang ke apartemennya. "Apa Mas Fabian ke rumah Kak Lidia?" Jingga bertanya pada dirinya sendiri.


__ADS_2