
"Mami Karla." Violet menyebut nama wanita yang dia takuti.
"Bawa dia!" perintah Mami Karla pada anak buahnya yang selalu mengikuti kemana pun dia pergi.
Saat itu Danzel baru saja sampai. "Vio," teriak Danzel. Danzel pun melayangkan pukulan pada laki-laki yang akan membawa paksa Violet masuk ke dalam mobil.
Kedua bodyguard Mami Karla berhasil dikalahkan oleh Danzel. "Siapa mereka?" tanya Danzel pada Vio saat gadis itu berada di belakang punggungnya.
"Mereka orang jahat yang ingin menjualku pada pria hidung belang. Bawa aku pergi!" pinta Violet.
"Vio, kamu tidak bisa pergi. Aku sudah membayar mahal pada ayahmu," seru Mami Karla. Danzel bingung mana mungkin Ruli tega menjual anaknya sendiri. Terlebih mereka berasal dari keluarga berada. Tidak masuk akal jika keluarga Ruli menjualnya.
Vio tersenyum sinis. "Dia bukan ayahku. Aku sudah menemukan keluargaku yang telah lama hilang. Jadi jangan coba-coba menggangguku lagi!" ancam Violet.
"Kamu tidak tahu kalau koneksiku di mana-mana. Aku juga bisa membuat hidupmu sengsara lebih dari ini!" ancam Mami Karla. Setelah itu dia berbalik badan.
Vio terduduk lemas dan menangis ketika Mami Karla pergi. Danzel berjongkok lalu kemudian memeluk Violet. "Tenanglah ada aku di sini."
Danzel menunggu hingga Violet berhenti menangis. "Apa kamu sudah lebih tenang sekarang?" tanya Danzel. Violet mengangguk.
"Kita cari tempat untuk ngobrol!" ajak pemuda tampan itu. Vio berjalan mendekat ke arah mobil Danzel. Laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk pujaan hatinya. Setelah itu dia membawa Vio ke sebuah restauran.
"Kamu ingin makan apa?" tanya Danzel. Violet menggeleng. "Makanlah walau sedikit. Kamu tahu suasana hatimu sedang buruk, tapi kamu harus mengisi tengamu," bujuk Danzel."
"Kenapa hanya kamu yang perhatian padaku?" Vio menatap nanar ke arah Danzel.
Danzel menggenggam sebelah tangan Vio. "Karena aku akan selalu ada saat kamu butuhkan. Ceritakan siapa yang dimaksud oleh wanita tadi. Apa maksudnya orang tuamu menjual dirimu? Why?" Danzel sungguh penasaran.
"Apa kamu mau mendengarkan kisah hidupku yang sama sekali tidak menarik?" tanya Vio setelah itu meraih segelas air putih lalu meminumnya karena dia begitu kehausan. Danzel yang menyadari itu langsung memesan makanan dan minuman pada pelayan restoran tersebut.
"Lanjutkan! Aku punya banyak waktu. Kamu bercerita sampai besok pagi pun aku akan mendengarkan."
__ADS_1
Violet menghela nafas berat. "Aku baru bertemu keluargaku setelah aku hilang belasan tahun lamanya." Danzel mengerutkan kening ketika mendengar penuturan Violet.
"Lalu bagaimana kamu bisa bertemu lagi dengan mereka?" tanya Danzel.
"Berkat bantuan Mas Justin. Kami bertemu di rumah kontrakanku yang lama. Waktu itu aku diperkenalkan dengan nenekmu sebagai pacarnya untuk menghindari perjodohannya dengan wanita yang dia tidak sukai. Anehnya Sabrina memanggilku mama. Kami memiliki kesepakatan. Aku mau menikah dengannya asal dia menemukan orang tua kandungku agar aku punya wali ketika menikah dengannya. Entah dengan cara apa dia bisa menemukan orang tua kandungku."
"Lalu siapa yang dimaksud oleh wanita jahat tadi?" tanya Danzel. Vio belum menceritakan bagian itu.
"Dia orang yang menyelamatkan aku ketika aku terjatuh ke sungai sata aku mengalami kecelakaan. Ah aku ingat saat itu aku bersama nenek." Sesaat kemudian dia menghela nafas. "Aku belum bertanya pada mama bagaimana kabar nenek sekarang."
"Lanjutkan ceritamu!" Vio mengerutkan keningnya. Danzel begitu bersemangat mendengar ceritanya.
"Kamu nggak mengira aku ini sedang mengarang cerita bukan?" tuduh Vio.
Danzel tersenyum tipis. "Aku memang tidak bisa membedakannya. Namun, walaupun begitu aku akan tetap mendengarkna ceritamu."
'Kapan lagi bisa sedekat ini denganmu Vio? Tidak ada kesempatan kedua. Aku bisa berlama-lama memandang wajah cantikmu itu,' gumam Danzel dalam hati.
"Jadi kamu sudah tidak suci lagi?" tuduh Danzel yang sedikit kecewa. Violet melempar tisu ke wajah Danzel.
"Kamu ini sama saja dengan laki-laki lain." Violet merajuk. Dia bangun dari tempat duduknya kemudian dia berjalan keluar. Danzel mengikutinya.
"Vio tunggu! Jangan marah! Aku hanya becanda. Kamu ingin pulang ke mana?" Pertanyaan Danzel mengingatkan Vio jika dirinya sudah diusir dari rumah. Vio pun menghentikan langkahnya lalu berbalik. Tanpa diduga Danzel berada persis di belakangnya. Wajah Vio bertabrakan dengan wajah Danzel. Ukuran tinggi mereka yang hampir sama karena Vio memakai sepatu hak tinggi membuat bagian bibir mereka tak sengaja bersentuhan.
Danzel mengulas senyum tipis karena hari ini dia benar-benar beruntung. Sedangkan Violet merasa canggung setelah tak sengaja mencium Danzel. "Maaf," ucapnya sambil membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Lakukan lagi!" perinta Danzel. Vio menoleh. "Dasar sinting! Sudahlah lupakan kejadian barusan. Aku tidak sengaja melakukannya. Anggap saja kamu sedang beruntung."
"Bukankah kamu memintaku datang untuk membantumu? Apa yang bisa kubantu?" tanya Danzel dengan nada yang lembut tapi matanya tak lepas memandang wajah cantik Vio hingga gadis itu menjadi salah tingkah.
"Violet," panggil seseorang dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Om Mario," sapa Vio. Danzel tak mengerti kenapa banyak sekali laki-laki tampan di sekitar Violet.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Mario.
"Ah, aku habis makan bersama temanku," jawab Vio agak gugup. "Kenalkan ini Danzel, dia seorang desainer interior."
Danzel mengulurkan tangannya lebih dulu. "Danzel."
"Mario," balas adik dari ayah sambung Violet tersebut.
"Vio apa kita jadi tempat tinggal untukmu?" tanya Danzel.
"Tempat tinggal? Apa maksudnya ini?" tanya Mario bingung.
"Aku keluar dari rumah," jawab Vio dengan menunduk.
"Tapi kenapa?" tanya Mario. Violet hanya diam. Mario pun menarik tangan Violet dan mengajaknya pergi.
"Om kita ke mana?" tanya Violet.
"Ke rumah kakek," jawab Mario. Violet menghela nafas. Dia menatap Danzel dari kejauhan dan mengucapkan kata maaf padanya. Meski Danzel tidak mendengar suara Vio tapi dia bisa mengartikan gerakan bibirnya itu. Danzel tersenyum tipis. Dia percaya masih punya kesempatan Lian waktu.
"Katakan padaku apa penyebabnya?" tanya Mario yang menanyakan alasan Violet keluar dari rumah kakaknya.
"Ada sedikit kesalahpahaman," jawab Violet. Dia tidak mau bercerita karena dia tidak mau diangap sebagai pengadu.
"Kesalahpahaman apa?" desak Mario.
"Aku tidak bisa bercerita," jawab Vio sambil membuang mukanya keluar. Dia menatap jalanan yang dilewati. Mario mencoba memahami keponakannya itu.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu bercerita. Kamu masih punya orang yang bisa kamu andalkan jadi jangan berpikir untuk hidup sendirian lagi," ucap Mario dengan halus. Tak lupa dia mengusap kepala Vio dengan lembut.
__ADS_1