
"Pak apa benar Anda menyukai gadis itu?" tanya sang sopir pada atasannya yang sibuk mengetik di depan laptop yang dipangku di atas paha.
Justin melirik. "Aku hanya akan menjadikan dia sebagai alasan agar nenek tidak menjodohkan aku dengan gadis yang tidak aku sukai lagi," jawab Justin dengan nada dingin.
Justin Melviano adalah salah satu pewaris di sebuah perusahaan ekspor import yang terkenal. Dia adalah anak tertua di keluarganya. Ayah dan ibunya sudah meninggal sehingga dia diasuh oleh sang nenek.
"Tapi, Pak. Bagaimana kalau nenek Anda tahu tentang rencana kita?" tanya sopir Justin yang bernama Rian.
"Dia tidak akan tahu karena gadis itu berasal dari keluarga yang tidak jelas. Aku bisa lihat kalau dia tinggal sendiri di rumah itu tanpa adanya orang tua. Mungkin saja dia bukan asli orang daerah itu. Otomatis nenek akan kesulitan mencari identitasnya." Rian mengangguk paham.
Justin tidak pulang ke rumah. Dia langsung ke kantor. Setiap orang menunduk ketika berpapasan dengan Justin. Dia memang terkenal dingin dan tidak pernah tersenyum pada bawahannya.
Sementara itu, Violet yang sedang memasak tiba-tiba melamun memikirkan ajakan laki-laki itu. 'Sepertinya dia orang kaya. Aku bisa memanfaatkan kekuasaannya itu untuk menemukan orang tuaku. Lagi pula jika aku menikah dengannya akan lebih baik karena ada orang yang menjagaku dari para pemburu diriku di luar sana.' Violet bergidik ngeri membayangkan saat dia tertangkap.
Sesaat kemudian gorengan yang dia cemplungkan ke dalam minyak goreng menjadi hangus karena Vio terlalu lama melamun. "Yah sayang banget," ucap Vio dengan nada kecewa.
Ketika waktu menunjukkan puku sembilan pagi, dia mulai membuka warungnya. Pelanggan pertama yang membeli adalah seorang wanita hamil yang tak sengaja lewat di depan warung Violet. "Silakan mampir, Bu!" seru Violet.
"Ada rujak nggak, Mbak? Syaa muter-muter nyari rujak nggak ada yang jual. Warungnya baru ya?" tanya Maya.
"Oh, ada bu. Bisa saya buatkan. Saya baru buka warung makan ini kemaren, Bu. Saya baru saja pindah." jawab Vio dengan lembut.
"Nanti bikin rujaknya jangan pedes-pedes ya, Mbak!" Violet mengangguk paham
Dia senang mendapatkan orderan dari wanita hamil. Dia malah tersenyum tipis membayangkan dirinya kalau hamil seperti apa.
"Mbak, nguleg sambelnya kok sambil senyum-senyum gitu?" tanya Maya.
"Saya membayangkan kalau saya sedang hamil seperti mbaknya," jawab Violet dengan jujur.
"Mbak udah menikah?" tanya Maya. Violet menggelengkan kepala.
"Wah mbaknya ini cantik pasti banyak yang antri. Saya doakan cepat-cepat menikah ya biar bisa mengandung seperti saya," ucap Maya yang diamini oleh Violet.
"Sudah jadi, Mbak." Violet menyodorkan rujak pesanannya yang dikemas di dalam wadah plastik.
__ADS_1
"Berapa, Mbak?" tanya Maya.
"Sebagai pelanggan pertama hari ini, Mbak tidak usah bayar," kata Violet.
"Jangan, Mbak! Nanti mbak rugi."
"Tidak, Mbak. Insyaallah saya niat sedekah biar rejeki hari ini lancar," jawab Violet. Maya jadi merasa terharu. Namun, setelah mengamati wajah Violet ada kemiripan dengan Jingga.
"Wajah kamu seperti tidak asing. Lain kali aku akan datang mengajak suamiku datang ke sini," jawab Maya. Setelah itu dia memasuki mobil.
Violet kembali melanjutkan aktivitasnya berjualan. Seperti biasa banyak sekali pelanggan di warung Violet. Dia sampai kewalahan. "Sabar ya, Pak, Bu. Saya layani satu-satu tapi harus antri," kata Violet agar mereka tidak berebut.
Siang hari menjelang sore makanan yang dijual Violet habis terjual. "Alhamdulillah akhirnya aku bisa istirahat," ucapnya merasa lega.
Setelah itu dia memberesi barang-barangnya. Memasukkan semua peralatan yang digunakannya untuk berjualan ke dalam rumah. Violet membersihkan diri lalu tertidur di kursi panjang yang ada di ruang tamu.
Tak lama kemudian seseorang menepuk pipinya. Violet membuka mata secara perlahan. Dia terkejut ketika laki-laki yang tadi pagi masuk ke dalam rumah tanpa izin. Dia menutup mulut Violet dengan ibu jari ketika akan berteriak.
"Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu," ucap Justin.
Violet bangkit. "Bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Violet sambil menyilangkan kedua tangannya di bagian dada.
"Ada urusan apa ke sini? Jualanku sudah habis," kata Violet dengan ketus.
"Aku tidak ingin membeli daganganmu. Aku ingin bicara serius denganmu." Violet mengerutkan dahi.
'Apa benar laki-laki ini ingin menikah denganku?' tanya Violet pada dirinya sendiri.
"Bicaralah!" perintah gadis itu.
"Mau kan kamu menikah denganku?" Violet benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran laki-laki di hadapannya kini.
"Saya bingung. Kenapa Anda meminta saya menikah dengan Anda padahal kita baru dua kali bertemu?" tanya Violet.
"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama," jawab Justin.
__ADS_1
Violet rasanya ingin muntah. 'Tidak mungkin laki-laki tampan dan sekaya dia sulit mendapatkan jodoh,' batin Violet.
"Entah saya harus tertawa atau muntah mendengar gombalan Anda. Saya rasa itu bukan alasan yang tepat untuk menikah." Violet mengungkapkan pendapatnya.
Justin tersenyum tipis. 'Ternyata dia bukan gadis yang polos.'
"Apapun alasannya kamu tidak akan rugi jika menikah denganku. Apa yang kamu inginkan akan aku penuhi."
"Kamu tidak berniat menjualku bukan?" tuduh Violet sambil memicingkan matanya.
"Apa aku ada tampang seperti itu?" tanya Justin. Violet mengangguk. Justin malah tertawa melihat tanggapan Violet.
"Aku seorang pewarta di sebuah perusahaan besar. Niatku untuk menikah agar tidak ada lagi yang mencibirku. Walau aku tampan dan kaya tidak ada satupun wanita yang mau menikah denganku di usiaku yang terbilang matang ini," ucap Justin. Lagi-lagi dia berbohong.
"Aku tidak tahu aku harus percaya atau tidak pada orang sepertimu. Bagaimana kalau kamu ini cuma omong besar?"
Justin menghela nafas. "Besok datanglah ke perusahaanku. Aku akan mengenalkanmu pada nenekku." Justin meninggalkan sebuah kartu nama pada Violet.
"Justin Melviano, nama orang bule," gumam Violet membaca nama yang ada di kartu nama tersebut.
"Iya, aku keturunan Polandia. Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Justin pada Violet.
"Namaku Vi..."
'Ah tidak jangan katakan yang sebenarnya jangan mudah percaya pada orang asing.'
"Putri," jawab Violet. Dia mengambil nama tengahnya sebagai nama yang dikenalkan pada Justin. Justin tersenyum tipis. Dia bisa menebak kalau gadis itu menyembunyikan sesuatu.
"Di mana orang tuamu? Aku tidak melihatnya."
"Aku hidup sebatang kara sejak kecil," jawan Violet tersenyum getir. Dia agak sensitif jika ditanya soal orang tuanya. Justin bisa menangkap kesedihan di mata Violet yang memerah saat menjawab pertanyaannya.
"Baiklah, lupakan jika itu membuatmu sedih. Jangan lupa datang besok! Oh iya, belilah pakaian yang bagus agar nenekku percaya kalau kamu adalah calon istriku," ucap Justin sambil memberikan sepuluh lembar uang berwarna merah pada Violet.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Violet bingung ketika melihat uang yang begitu banyak di atas mejanya.
__ADS_1
"Ini tidak seberapa. Kamu bisa menggunakan uangku sesukamu jika kamu bersedia menikah denganku," ucap Justin sambil menatap ke dalam mata Violet.
Apakah Vio akan datang ke perusahaan Justin lalu menerima lamarannya?