Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Minta bantuan


__ADS_3

Jingga meminta pendapat sang suami tentang keinginannya mengunjungi ibu dari Lidia. "Kalau kamu ragu jangan paksakan diri," ucap Adli.


"Tapi kalau aku tidak menjenguknya aku takut aku akan menyesal, Mas," ucap Jingga.


"Baiklah, kalau begitu akan aku antar."


Jingga pun sampai di rumah sakit tempat ibunda Lidia dirawat. "Aku kira kamu tidak akan datang," sindir Lidia.


"Aku tidak ingin berdebat. Aku datang karena aku tidak ingin menyesal jika sesuatu terjadi pada tante," sarkas Jingga. Lidia pun tak mau mendebat Jingga lagi.


Tak lama kemudian Fabian datang. Dia mengulas senyum tipis ketika melihat mantan istrinya itu. Padahal awalnya dia sedang bad mood karena Lidia memaksanya datang ke rumah sakit untuk menjenguknya. Tak disangka kalau dia akan bertemu Jingga.


Adli sudah pasang badan. Dia tahu Fabian tidak bisa move on dari Jingga. "Sebaiknya kita tidak terlalu lama di sini karena Violet membutuhkan kita," ucap Adli.


"Ada apa dengan Violet?" sela Fabian.


"Dia tidak apa-apa hanya saja kami meninggalkan dia bersama asisten rumah tangga," jawab Adli.


"Sepertinya keadaan tante belum stabil. Aku akan menjenguknya lain waktu," ucap Jingga yang mengerti akan situasi di dalam ruang rawat itu.

__ADS_1


Jingga dan Adli pun pamit. Mereka memilih pergi dari pada berdebat di depan orang sakit. Niat hati ingin beristirahat karena perut Jingga yang mulai membesar, Erik malah datang mencari Jingga.


"Ada apa, Pa?" Jingga memang terbiasa memanggil mantan mertuanya itu dengan sebutan papa.


"Jingga, bantu aku! Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan Wanda." Ucapan Erik membuat Jingga maupun Adli terkejut.


"Apa aku tidak salah dengar, Pa? Bukannya papa membenci mama?" tanya Jingga.


"Aku sadar kalau selama ini aku kesepian. Tidak ada salahnya kalau aku ingin menjalin hubungan dengan Wanda karena setelah aku mengamati banyak perubahan dalam dirinya."


"Papa yakin?" tanya Adli memastikan.


"Papa pernah ingat bukan? Kalau kebiasaan mama..." Jingga tak meneruskan kata-katanya. Dia takut kalau ucapannya disalahartikan.


"Aku tahu kalau Wanda sering main daun muda. Tapi aku yakin sekarang ini dia tidak melakukannya lagi karena laki-laki itu sudah beristri."


"Apa? Dari mana papa tahu?" tanya Jingga.


"Saat aku janjian makan dengan Wanda, dia memergoki laki-laki itu bersama istrinya yang sedang hamil besar," jawab Erik. Dia tidak tahu kalau wanita yang dimaksud tak lain adalah ibu tiri Adli.

__ADS_1


"Benarkah?" Erik mengangguk.


"Apa papa sudah mengungkapkan perasaan papa pada mama?" tanya Jingga.


"Belum sempat. Aku berniat melamarnya di restoran waktu itu sayangnya dia malah menghampiri mantan kekasihnya," jawab Erik dengan wajah kecewa.


"Lantas apa yang bisa kami bantu?" tanya Adli.


"Sampaikan padanya kalau aku ingin menikahi dia lagi. Kalau aku yang sampaikan secara langsung aku takut ditolak." Adli malah terkekeh mendengarnya.


"Papa akan dianggap pengecut dan diremehkan mama jika papa tidak menyampaikan secara langsung. Beda halnya jika papa bicara empat mata dengan mama Wanda, dia pasti tersentuh." Erik mempertimbangkan ucapan Adli.


"Jadi, apakah aku harus menemuinya sekarang?" tanya Erik meminta pendapat. Adli dan Jingga sepakat mengangguk.


"Kami mendukung papa seratus persen," ucap Jingga. Erik menjadi bersemangat.


"Terima kasih. Bukannya meminta pendapat pada anak-anakku. Aku malah meminta pendapat orang lain seperti kalian," ucap Erik merasa tidak enak.


"Kata siapa kami ini orang lain? Aku sudah menganggap papa seperti orang tua kandungku," ucap Jingga. Erik merasa beruntung pernah menjadi mertua Jingga.

__ADS_1


__ADS_2