Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Justin cemburu


__ADS_3

Justin berencana melamar Violet dalam waktu dekat. Dia pun meminta izin pada calon ayah mertuanya. "Terserah Violet saja. Kapanpun dia siap, papa merestui kalian," ucap Adli.


"Mama juga, kalau Violet bahagia kami pun bahagia," sahut Jingga.


Justin tersenyum bahagia. Ternyata keluarga Violet sangat ramah padanya. "Terima kasih, Om, Tante," ucap Justin.


"Assalamualaikum," sapa Albiru yang baru saja tiba di rumah.


"Biru ini Mas Justin, calon suami kakak kamu. Sapa dia dulu!" perintah Jingga pada putranya. Biru hanya tersenyum tipis lalu dia menaiki tangga.


"Baguslah kalau dia mau menikah. Dia tidak perlu lagi tingga di sini," gumam pemuda itu.


"Maafkan sikap adiknya Violet ya, Nak Justin," ucap Jingga merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa," jawab Justin.


"Mama, aku lapar," rengek Sabrina.


"Oh, oma akan masakkan sesuatu untuk kamu," seru Jingga.


Sabrina menggeleng. "Aku ingin makan spaghetti," jawabnya.


"Maaf, biar saya ajak Sabrina makan di luar saja. Tapi, apakah saya boleh mengajak Violet sekalian?" Justin meminta izin pada orang tua Violet.


"Tentu saja," jawab Adli.


Justin pun mengajak Vio dan Sabrina masuk ke dalam mobil. Mereka menuju ke sebuah restoran yang tak jauh dari tempat tinggal Violet. "Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Justin ketika memberikan buku menu pada kekasihnya.


Wajah Violet memerah ketika Justin menyebutnya dengan panggilan sayang. "Apa aja. Aku nggak ngerti soal makanan di restoran seperti ini," jawab Violet dengan jujur.

__ADS_1


"Baiklah, aku pesankan untukmu," balas Justin.


Ketika mereka sedang menunggu makanan, tak jauh dari tempat mereka duduk ternyata ada Mario yang baru saja selesai meeting dengan kliennya. Violet tak sengaja menoleh ke arah Mario. Mario pun berjalan mendekat ketika melihat Vio dan Justin.


"Hai, Vio," sapa Mario.


"Hai, Om," jawab Violet.


"Kamu kenal sama dia?" tanya Justin tidak percaya ketika Vio menyapa dengan sebutan Om. Justin merasa cemburu karena dia belum tahu kalau Mario adalah adik dari Adli.


Mario duduk di samping Vio tanpa izin. "Bukan hanya kenal, tapi sangat kenal," jawab Mario memanas-manasi keadaan.


"Dia ini..." Violet ingin menjelaskan pada Justin tapi Mario lebih dulu menyela.


"Vio, jangan lupa makan malam kita nanti malam." Mario bangun setelah mengatakan hal itu.


Justin sangat cemburu tapi dia menahan diri di depan Sabrina. "Sabrina cepat habiskan makananmu setelah itu kita pulang," ucapnya sambil melirik ke arah Violet. Justin tidak mau mendengar penjelasan Vio. Vio hanya bisa pasrah dan menunggu waktu agar hubungannya dengan Justin bisa diperbaiki.


"Mas, hubunganku dengan Om Mario itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Kami..."


"Sabrina papa mendapatkan pesan dari Om Rian agar segera kembali ke kantor. Bisakah kamu pulang bersama mama?" tanya Justin pada gadis kecil yang sedang makan dengan lahapnya itu.


"Antarkan dia pulang!" perintah Justin dengan dingin. Vio hanya bisa menatap punggung Justin yang semakin lama semakin menjauh.


Sementara itu di parkiran mobil, Mario mengamati kepergian Justin yang berjalan seorang diri tanpa Violet. Dia tersenyum miring melihat rencananya berhasil. "Ini baru permulaan Justin. Kamu telah merebut kekasihku. Aku juga tidak rela jika Violet berpasangan denganmu. Laki-laki brengsek," gumam Mario.


Tujuh tahun yang lalu ketika Justin dan Mario masih sama-sama kuliah. Seorang wanita cantik tiba-tiba menarik tangan Justin ketika dia tengah mengobrol dengan teman-temannya.


"Ana," panggil Justin.

__ADS_1


"Gue mau ngomong," ucap Ana. Ana mengajak Justin menjauh dari teman-temannya.


"Ada apa?" tanya Justin pada gadis cantik yang berambut panjang itu.


"Gue hamil," ucap Ana memberi tahu. Justin tentu terkejut. Di balik tembok Mario tak sengaja mendengar pembicaraan sahabat dan kekasihnya itu. Mario sudah curiga jika dia dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Mario mengepalkan tangan ketika dia mendengar kenyataan bahwa Ana, wanita yang dia cintai hamil anak sahabatnya.


"Apa kamu yakin itu anakku? Bagaimana dengan Mario?"


Ana merasa kecewa dengan respon Justin. "Aku hanya melakukannya sekali denganmu malam itu. Apa kamu lupa? Kita melakukannya dengan sadar," ungkap Ana. Mario semakin tersakiti dengan pengakuan Ana.


Dia pun tidak tahan lagi. Mario keluar dari tempat persembunyiannya. Lalu dia mengarahkan tinju ke wajah Justin. "Laki-laki breng*sek. Sudah menghamili tidak mau bertanggung jawab," geram Mario. Dia mencengkeram kerah baju milik Justin.


"Dia pacarmu." Justin mengelak.


"Tapi aku tidak pernah menyentuhnya. Mencium dia saja aku tidak pernah," ucap Mario dengan nada tinggi. Dia amat kecewa dengan kelakuan kekasih dan sahabatnya itu. Kedua orang itu telah mengkhianati kepercayaan yang dia berikan selama ini.


"Nikahi Ana! Jika kamu tidak mau pulang hanya tinggal nama saja," ancam Mario.


Setelah kejadian itu, dia menaiki mobil dengan ugal-ugalan. Dia menangis dan menjerit di dalam mobil. "Kenapa? Kenapa kamu mengkhianati cinta kita Ana?"


Sesaat kemudian Mario menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia menunduk dan meluapkan kekesalannya. Mario sungguh kecewa, bahkan sakit hati karena dikhianati seorang wanita masih membekas di usianya yang ke dua puluh tujuh tahun.


Mario menatap foto Ana yang masih dia simpan di dalam dompetnya. "Anak kamu cantik. Sayangnya dia bukan anakku. Semoga kamu selalu bahagia walaupun kamu sudah jauh berada di tempat yang tidak bisa kujangkau," gumam Mario. Dia meneteskan air mata lalu mencium foto Ana sebelum menjalankan mobilnya. Mario pergi meninggalkan area parkir restoran tersebut.


Sementara itu, Violet menghentikan taksi ketika dia selesai makan di restoran tersebut. "Mama aku mengantuk," ucap Sabrina.


"Tidurlah! Akan mama bangunkan ketika kita sampai." Sabrina mengangguk percaya. Matanya sangat berat usai makan siang. Anak itu memang punya kebiasaan tidur siang.


Violet mengantar Sabrina pulang dengan selamat. Namun, saat waktunya mereka turun dari taksi, Sabrina tidak mau dibangunkan. Violet terpaksa menggendong Sabrina. "Berat sekali," keluh Vio saat mengangkat tubuh anak kecil itu. Terlebih Sabrina memiliki berat yang lumayan karena tubuhnya cukup subuh.

__ADS_1


Violet hampir saja terjatuh. Namun, sebuah tangan menopang punggungnya. "Apa kamu tidak apa-apa?" tanya seorang laki-laki asing yang belum pernah dia temui.


Siapa lagi ini, Thor? Kalau kepo baca lanjutannya. Yang belum subscribe yuk di subscribe sekarang


__ADS_2