
Fabian merasa kecewa berat ketika mengetahui istrinya adalah dalang di balik terjadinya tragedi yang membuat dirinya harus menikahi Jingga. Fabian merasa bersalah pada Jingga karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik dirinya.
"Ternyata aku salah telah menceraikan kamu, Jingga. Harusnya orang yang aku ceraikan adalah Lidia." Fabian memukul kendali setirnya. Dia tak habis pikir hanya karena ingin mendapatkan anak, Lidia sampai menghalalkan segala cara.
Fabian mencari keberadaan Jingga, dia ingin meminta maaf sekaligus ingin bercengkrama dengan anak kandungnya. Fabian tidak tahu ke mana dia harus menemukan Jingga. Sampai saat ketika dia sedang membeli rokok di mini market, Fabian tak sengaja bertemu dengan Jingga yang baru saja masuk ke mini market tersebut.
Fabian tidak menyapa Jingga melainkan dia bersembunyi. Dia ingin mengikuti Jingga hingga ke rumahnya. Usai membayar belanjaan, Jingga keluar dari mini market tersebut. Fabian mengikuti secara diam-diam.
Ketika Jingga naik taksi, Fabian segera menaiki mobilnya dan mengikuti ke mana taksi itu menurunkan Jingga.
"Terima kasih, Pak." Jingga membayar uang taksi pada sopir itu. Kemudian dia masuk ke dalam sebuah rumah yang belum pernah Fabian datangi.
"Dia tinggal bersama siapa di sini?" gumam Fabian dengan lirih. Dia masih memantau di dalam mobil.
Ketika Jingga menekan bel rumahnya, seorang laki-laki yanga sing wajahnya membukakan pintu untuk Jingga sambil menggendong anak kecil. "Siapa laki-laki itu? Bukankah dia seharusnya bersama Adli."
Banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Fabian. Dia tidak mau berpikir yang tidak-tidak tentang Jingga. Jadi dia putuskan untuk pergi.
Lagi-lagi Fabian merasa kecewa. Fabian merasa cemburu melihat Jingga mencium tangan laki-laki itu. "Mereka seperti suami istri. Tapi apa mungkin Jingga menikahi laki-laki tua seperti dia?"
Fabian sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Ketika dia sampai di kantor lagi, dia tidak fokus bekerja. Imam sampai menegurnya beberapa kali karena Fabian terlihat sedang melamun. "Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Imam. Dia bersedia menjadi tempat curhat bagi sahabat sekaligus atasannya itu.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka Lidia dalang di balik tragedi yang membuat aku akhirnya menghamili Jingga. Dia sudah merencanakan semua itu. Malam itu dia sengaja meninggalkan Jingga di rumahku. Bodohnya aku selama ini terlalu percaya padanya."
Fabian teramat menyesal telah membela istrinya habis-habisan. Tapi ujungnya dia dikhianati. "Apa gunanya kamu menyesal? Jingga tidak akan kembali padamu," ledek Imam.
Apa yang dikatakan oleh Imam memang benar. Fabian sangat menyesal karena terlalu mencintai Lidia dia malah membuang Jingga dan anaknya. Fabian jadi kehilangan segalanya. Bahkan dia kesulitan untuk memikirkan cara agar bisa bertemu dengan putrinya.
"Menurutmu, apa aku tidak punya kesempatan untuk memperbaiki diri?" tanya Fabian pada Imam.
"Datangi Jingga dan mulailah minta maaf dengan tulus. Masalah diterima atau tidak jangan kamu pikirkan dulu. Jika dia menolak, ingatlah itu karena kesalahanmu terlalu besar padanya. Jangan paksa dia! Dia juga butuh waktu untuk berpikir."
Fabian benar-benar mendengarkan nasehat Imam. Semenjak SMA dulu, Imam memang terkenal bijak hingga dia dijukuki sebagai seorang ustadz.
"Aku akan mencoba. Lagi pula jika tidak mencoba maka kita tidak akan tahu segala kemungkinan yang terjadi."
Saat itu, Jinggalah yang membukakan pintu tersebut. Jingga mengira orang yang datang adalah Adli. Dia pun memasang wajah ceria. Namun, ketika dia melihat wajah mantan suaminya, senyum Jingga menyurut.
Jingga hendak menutup pintu tapi Fabian mengganjal pintu itu dengan satu kaki. "Tunggu, Jingga. Aku minta waktumu sebentar saja!" Mohon Fabian.
Jingga berpikir sejenak. "Baiklah, sampaikan di sini!" Jingga tak berniat untuk mengajak mantan suaminya masuk.
Fabian tidak keberatan. "Maafkan aku Jingga. Aku tahu ini agak terlambat tapi aku tulus meminta maaf padamu."
__ADS_1
"Kamu hanya perlu mendapatkan maafku bukan?" Fabian mengangguk. "Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Tapi kamu tahu gelas yang telah pecah tidak bisa kembali utuh. Bahkan tidak mungkin pecahan itu untuk disatukan lagi karena tidak ada lem yang bisa mengikat pecahan gelas itu."
Fabian meresapi kata-kata mantan istrinya itu. Ucapannya mengisyaratkan kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Fabian ingin meraih tangan Jingga tapi wanita itu membawa tangannya ke belakang punggung. "Tolong sopan sedikit!" sarkas Jingga.
Fabian pun tak mau memaksa Jingga. Dia takut Jingga malah lari. Fabian harus berhati-hati agar memperoleh kesan yang baik di mata Jingga. "Bolehkah aku bertemu dengan anakku?"
Jingga tersenyum miring. "Bukankah kamu telah membuang kami dan sempat tidak mengakui dia?" sindir Jingga.
"Aku menyesal. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri." Fabian menatap ke dalam mata Jingga. Jingga tak bisa menampik kenyataan kalau Fabian adalah ayah kandung Violet. Jingga merasa berdosa jika menjauhkan anaknya dengan sang ayah.
"Temui dia besok! Violet sedang tidur," kata Jingga dengan ketus. Fabian tersenyum senang karena Jingga memberi kesempatan padanya untuk menemui anak kandungnya itu.
"Terima kasih. Aku akan datang lagi besok," ujar Fabian sebelum meninggalkan rumah Jingga.
Setelah Fabian pergi, Jingga menutup pintu rumahnya. "Apa dia mantan suami kamu?" tanya Pak Harsha.
"Iya," jawab Jingga dengan jujur.
Pak Harsha menghela nafas berat. "Jangan jadi seperti ayah dan ibumu. Gara-gara kami bercerai kamu jadi korban. Walau kalian sudah berpisah izinkan dia menemui Violet. Violet juga butuh ayah kandungnya. Meskipun sebentar lagi kamu akan menikah dengan Adli, tapi kamu tidak bisa menyembunyikan fakta kalau dia adalah ayah kandungnya. Ingat, Nak! Tuhan saja Maha mengampuni segala kesalahan hamba-Nya. Masa kamu tidak?"
"Aku butuh waktu, Yah. Luka yang ditorehkan oleh mantan suamiku terlalu dalam. Saat ini aku belum bisa seratus persen menerima permintaan maafnya," jawab Jingga.
__ADS_1
"Ayah tidak akan memaksa kamu Jingga. Apa yang terbaik buat hidupmu hanya kamu sendiri yang tahu," balas Pak Harsha.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Jingga dan Pak Harsha mengecek kamar Violet. Rupanya gadis kecil itu terbangun. Jingga menggendong Violet agar bayi itu lebih tenang.