
Setelah tiga hari di rumah sakit Jingga diperbolehkan pulang. Tapi bayinya masih perlu dua hari lagi untuk bisa dibawa pulang. Jingga bingung harus pulang ke mana. Setelah kejadian kebakaran itu rumahnya pasti berantakan.
Untungnya waktu itu Wanda datang ke rumah sakit. Wanita itu menawari Jingga untuk tinggal di rumahnya. Mau tidak mau Jingga bersedia menerima tawaran Wanda. "Maaf saya selalu merepotkan Anda," kata Jingga yang merasa tidak enak pada ibu mertuanya itu.
"Kamu ngomong apa sih Jingga. Kamu ini kan menantu mama. Mama sangat senang jika kamu bersedia tinggal dan menemani masa tua mama. Apalagi ada cucu mama yang telah lahir. Mama jadi tidak sabar membawanya pulang," ucap Wanda antusias.
Dia merasa bersalah pada wanita itu karena sesungguhnya dia ingin meminta cerai pada Fabian, suami yang tidak pernah memperdulikan dirinya.
"Istirahatlah, jika butuh sesuatu kamu bisa panggil mama atau bibi ya. Mama sengaja mempekerjakan asisten rumah tangga agar bisa membantu keperluan kamu," ungkap Wanda.
Jingga tersenyum menanggapi ucapan ibu mertuanya. Kemudian Wanda membiarkan Jingga beristirahat. Namun, Jingga tidak bisa tidur karena dia memikirkan masa depannya.
"Apakah keputusanku bercerai dengan Mas Fabian adalah keputusan yang tepat?" gumam Jingga yang merasa ragu. Dia takut suatu saat nanti anaknya akan menanyakan di mana keberadaan sang ayah.
Jingga hanya tidak ingin nasib anaknya seperti dia yang selama ini telah ditelantarkan oleh orang tuanya sendiri. Tiba-tiba Jingga ingat ketika orang tuanya bertengkar hebat di rumah waktu dia kecil.
"Kamu bisanya main judi dan bersenang-senang dengan wanita bayaran. Tapi kamu menggunakan uangku, Mas," teriak Ibunda Jingga tidak terima.
Waktu itu ayah Jingga kena PHK yang dilakukan oleh perusahaan tempat dia bekerja. Perusahaan itu bangkrut dan memutuskan mengadakan PHK secara besar-besaran. Ayah Jingga termasuk di dalamnya.
Semenjak saat itu, Ibunda Jinggalah yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Bukannya berusaha mencari pekerjaan lain, ayah Jingga malah bermain judi dan bersenang-senang dengan wanita pekerja komersial.
__ADS_1
Tentu saja ibunda Jingga sangat murka ketika mengetahui kebiasaan suaminya. Dia tidak rela jika uang hasil kerja kerasnya selama ini digunakan untuk menafkahi wanita ja*lang yang hanya memuaskan naf*su suaminya itu.
"Lalu mau kamu apa?" tanya ayah Jingga.
"Ceraikan aku!" sarkas Ibunda Jingga. Dia ingin membebaskan diri dari laki-laki yang tidak berguna seperti suaminya.
"Kamu tidak memikirkan nasib Jingga? Dia akan tinggal bersama siapa?" tanya Harsha pada Pinkan, sang istri.
"Bawa Jingga bersamamu. Aku sudah cukup lelah mengurusnya selama ini. Sekarang giliran kamu sebagai orang tuanya. Tunjukkan kalau kamu ayah yang baik." Pinkan menunjuk dada suaminya dengan satu telunjuk jarinya.
"Tidak bisa begitu," tolak Harsha.
"Aaa..." Jingga berteriak. Suaranya terdengar hingga ke kamar Wanda.
Jingga memeluk Wanda. "Aku ingat masa laluku yang menyedihkan," ucapnya sambil menangis di pelukan Wanda.
Wanda yang tidak tega membalas pelukan ibu satu anak itu. "Tenangkan dirimu Jingga. Semua orang punya masa lalu yang berbeda-beda. Jangan jadikan masa lalumu sebagai penghalang untuk meraih kebahagiaan kamu di masa depan."
Jingga merasa lebih tenang ketika mendengar wejangan dari ibu mertuanya. Setelah itu Wanda memberi Jingga segelas air. "Minumlah agar kamu bisa lebih tenang."
Jingga menerima gelas tersebut lalu meminum isinya hingga tandas. Setelah itu Wanda menaikkan selimut Jingga hingga ke atas dada. "Jangan ingat masa lalumu lagi. Kamu harus menjaga kesehatan demi anak kamu. Dia butuh ibu yang kuat jadi jaga kesehatan badan dan pikiran kamu." Jingga mengangguk patuh dengan apa yang disampaikan oleh Wanda.
__ADS_1
Di tempat lain Fabian sedang tidur di pangkuan Lidia. Dia mengusap dan mencium perut istri pertamanya itu dengan sayang. "Papa tidak sabar bertemu dengan kamu, nak," ucapnya yang mencoba mengajak bicara janin yang sedang dikandung oleh Lidia.
Lidia tersenyum senang karena dia dikaruniai kebahagiaan yang melimpah. "Mas, kamu tidak menjemput Jingga? Ajak dia tinggal di sini!" kata Lidia.
Fabian bangkit dari pangkuan Lidia. "Kamu gila! Suara tangis bayinya akan mengganggumu. Ingat sayang kamu perlu banyak istirahat selama mengandung bayi kita," kata Fabian dengan lembut.
"Tapi rumah yang dia tinggali bukannya telah rusak karena terbakar ya Mas? Lalu nanti dia akan tinggal di mana?" tanya Lidia.
Fabian menggedikkan bahu. "Mas, Jingga masih istri kamu. Dia tanggung jawab kamu," ucap Lidia mengingatkan suaminya.
"Tapi sebentar lagi aku akan menceraikan dia," jawab Fabian.
"Jangan gegabah Mas. Kamu juga harus membiayai kebutuhan anaknya Jingga. Dia itu darah daging kamu. Apa kamu lupa?"
"Aku tetap akan memberikan biaya untuk anak itu tapi dia tidak boleh menuntut hak untuk tinggal bersama. Kamu kan tahu dari awal aku menikahi dia karena terpaksa."
"Aku kira kamu sempat jatuh cinta pada Jingga, Mas. Waktu dia masuk rumah sakit saja kamu sangat khawatir. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah?" tanya Lidia heran.
"Dulu aku pikir hanya dia yang bisa melahirkan keturunan untukku. Namun, setelah kamu hamil aku rasa aku tidak lagi menginginkan anak yang lahir dari rahimnya. Meskipun aku akan menceraikan Jingga dia bisa membawa anak itu. Aku tidak akan menuntut hak asuh padanya," kata Fabian dengan percaya diri.
Lidia menggelengkan kepala. Karakter Fabian tidak mudah ditebak. Sebentar dia baik sebentar lagi dia berubah. Sungguh Lidia bingung harus bagaimana. Walau bagaimanapun Jingga masih saudaranya. Dia juga ikut andil dalam kejadian yang akhirnya membuat Fabian menikahi Jingga.
__ADS_1
Lidia jadi merasa bersalah karena telah merekayasa kejadian malam itu. Andai saja dia tahu kalau dia akan hamil, maka dia tidak mungkin mendesak suaminya menikah lagi.