
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Fabian, Violet terus murung. "Kamu kenapa, Vio?" tanya Adli.
"Tidak apa-apa, Pa," ucapnya berbohong. Jujur saja ketika bertemu dengan ayah kandungnya tadi dia merasa kecewa karena kedatangannya tidak disambut baik. Fabian cenderung cuek ketika melihat Vio.
"Vio, walau ayahmu tidak menyayangi kamu. Masih ada papa, mama dan adik-adikmu yang bisa kamu andalkan. Kamu juga punya Justin. Kalau papa ingat keberaniannya melamar kamu, papa seperti berkaca ketika muda dulu," ucap Adli menceritakan sedikit masa lalunya. Dia memang sengaja bercerita panjang lebar untuk mengalihkan kesedihan Violet.
"Tapi bedanya saat itu yang telah menikah dulu adalah mama," sahut Violet menanggapi ucapan Adli.
"Bagaimana kalau kita mampir ke rumah kakek. Dia belum tahu kalau kamu sudah kembali," usul Adli.
Adli pun membawa Violet ke rumah orang tuanya. Di sana mereka menemui ayah Adli yang hingga kini masih terlihat bugar di usianya yang tak muda lagi. "Siapa dia? Untuk apa kamu bawa wanita ini ke sini? Apa dia yang akan kamu jodohkan dengan Mario?" cecar Helmi ketika melihat Violet.
"Jangan sembarangan bicara, Pa! Dia cucumu," ujar Adli memberi tahu Helmi.
"Cucu yang mana? Kamu selingkuh dengan wanita lain?" tanya laki-laki itu geram.
"Bukan. Dia adalah Violet." Mata Helmi langsung berkaca-kaca. Dia hampir tidak percaya cucunya kembali.
Helmi memeluk Vio dengan erat. "Kakek bersyukur kamu kembali. Ini semua salah kakek. Kalau saja kakek tidak mengenal wanita itu kamu tidak akan celaka." Violet tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh kakeknya. Dia hanya tersenyum menanggapi ucapan orang tua itu.
"Ayo masuk! Ajak dia makan siang bersama. Kalian dari mana?" tanya Helmi.
"Dari rumah ayahnya," jawab Adli mewakili Violet.
"Kabarnya dia telah berumah tangga lagi?" tanya Helmi. Adli mengangguk.
"Mana Mario?" tanya Adli yang tidak melihat adik bungsunya itu.
"Dia ke rumah ibunya karena akhir-akhir ini dia sakit-sakitan," jawab Helmi. Ya, Karin bebas setelah dipenjara selama sepuluh tahun.
"Aku harap wanita itu tidak mencuci otak Mario," ucap Adli. Violet hanya menjadi pendengar. Dia masih bingung dengan nama-nama yang disebut oleh papanya.
"Pa, aku ingin ke toilet," sela Vio.
"Kamu lurus saja, lalu belok kanan," jawab Adli. Vio mengangguk paham. Namun, ketika dia mencari toilet dia tak sengaja memasuki garasi mobil.
__ADS_1
"Lho kok salah ya," gumam Vio yang merasa bingung. Di saat yang bersamaan Mario melihat tingkah gadis yang baru saja ditemuinya.
"Kamu siapa?" tanya Mario pada Violet. Violet menjadi ketakutan.
"Aku hanya ingin mencari toilet," jawab Violet dengan gugup.
Mario merasa lega. Dia mengira gadis yang berada di hadapannya itu adalah pencuri di rumahnya. "Tenang saja! Aku pemilik rumah ini. Toiletnya ada di pojok itu." Mario menunjuk lokasi toilet yang dimaksud.
"Terima kasih."
"Tunggu! Nama kamu siapa?" tanya Mario. Violet yang tidak tahan hanya bisa mengabaikan Mario. Mario menarik kembali tangannya yang sempat diulurkan ketika ingin berkenalan dengan Violet. Dia pun menunggu Violet hingga keluar.
Vio terkejut ketika dia melihat Mario di depan pintu. "Kamu nungguin aku?" tanya Violet. Mario mengangguk jujur.
"Aku ingin mengajak kamu kenalan," jawabnya. Dia kembali mengulurkan tangan.
"Mario."
Violet membalas uluran tangan laki-laki itu. "Violet." Mario terkejut ketika mendengar nama yang dia sebut.
"Vio. Kenapa kamu lama sekali?" tanya Adli. Mario menatap abangnya penuh tanya.
"Dia Violet, keponakan kamu," jawab Adli yang mengerti arti tatapan Mario. Mario syok seketika. Dia berharap lebih setelah mengenal gadis manis yang berambut panjang itu.
Adli menggandeng Violet. "Jangan dekati dia. Sebentar lagi dia akan menikah," ungkap Adli sambil menarik tangan Violet. Mario lebih terkejut lagi.
"Hah? Baru ketemu langsung nikah? Maksud aku dia mau nikah sama siapa?" tanya Mario. Helmi pun terkejut ketika Mario bertanya demikian.
"Dengan orang yang menemukan Violet," jawab Adli.
"Apa dia meminta imbalan dengan menikahi Vio?" tuduh Mario.
Adli menggeleng. "Justin baru tahu kalau Vio anakku setelah sekian lama membantu Violet menemukan orang tuanya."
"Justin? Justin Melviano?" tanya Mario. Adli mengangguk. Mario mengepalkan tangan. Justin adalah musuh bagi Mario karena dia merebut wanita yang dicintai Mario hingga dia hamil.
__ADS_1
'Aku tidak akan membiarkan Violet jatuh ke tangan ba*jingan itu,' gumam Mario di dalam hati.
Tak lama kemudian Jingga menelepon. "Ada apa, Ma?" tanya Adli.
"Kalian ke mana? Kenapa tidak pulang-pulang?" tanya Jingga khawatir.
"Kami ada di rumah papa," jawab Adli.
"Baiklah, kalau begitu ajak Violet pulang setelah ini. Justin dan anaknya sedang menunggu dia di rumah," ucap Jingga memberi tahu.
"Baik, aku akan ajak dia pulang sekarang," jawab Adli. Setelah itu dia menutup teleponnya.
"Vio, kata Mamamu Justin dan anaknya sedang menunggumu di rumah." Sesaat kemudian menoleh pada sang ayah. "Kami pamit pulang, Pa."
Helmi mengangguk. "Hati-hati. Lain kali berkunjunglah lebih lama," pesan Helmi pada cucunya. Violet mengangguk setuju. Kemudian keduanya keluar dari rumah itu dan memasuki mobil.
Di tempat lain, Sabrina sudah tidak sabar bertemu wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya. "Mama mana, Pa? Kenapa lama sekali pergi dengan kakek?" tanya anak usia enam tahun tersebut.
Justin mengusap kepala Sabrina dengan sayang. "Tunggu sebentar lagi ya! Mama dan kakek dalam perjalanan pulang." Justin mencoba memberi pengertian pada putrinya itu. Sabrina mengangguk patuh.
Tak butuh waktu lama, Adli mobil memasuki halaman rumah. Setelah terparkir dengan sempurna, Violet turun. Sabrina langsung berlari menghampiri Violet. Namun, ketika dia menuruni tangga teras dia terjatuh karena kurang hati-hati. Sabrina menangis sekencang-kencangnya karena kesakitan.
Violet berjongkok dan melihat luka Sabrina. "Lain kali hati-hati ya! Nanti kita obati lukamu di dalam," ucap Violet dengan lembut. Sabrina menghentikan tangisannya.
Justin keluar ketika mendengar anaknya menangis. "Mas, bisa gendong Sabrina masuk? Dia terjatuh." Justin mengangguk paham. Sedangkan Adli mengikuti dari belakang.
"Ma, tolong ambilkan obat luka untuk anak Justin. Dia terjatuh karena kurang hati-hati," perintah Adli pada sang istri. Jingga dengan cepat menuruti perintah sang suami.
Violet meniup kaki Sabrina. "Kamu dari mana?" tanya Justin.
"Aku habis menemui ayah kandungku dan ke rumah kakek," jawab Violet apa adanya.
"Rupanya keluargamu sangat banyak. Apa kamu bahagia?" tanya Justin. Tiba-tiba wajah Violet berubah sendu.
'Aku ingin memilih sendiri dari pada berada di tengah banyak orang tapi tidak satu pun yang menerima.'
__ADS_1