
Usai mengantar istrinya periksa kehamilan, Adli mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan sang adik. "Masih belum pulang juga ternyata? Apa dia bolos kerja?" gumam Adli.
"Sayang, kamu tunggu sini atau ikut? Aku ingin menghampiri Rizky," ucap Adli.
"Ikut, Mas," jawab Jingga.
Rizky nampak frustasi. "Kamu kenapa?" tanya Adli.
"Nggak apa-apa. Cuma lelah saja," jawab Rizky. Dia tak sepenuhnya berbohong.
"Ya sudah sebaiknya kamu pulang dulu. Di sini ada dokter dan perawat yang mengurusnya," ucap Adli.
"Iya, lagi pula sudah ada orang tuanya di sini," jawab Rizky.
"Baguslah kalau begitu," balas Adli. Entah kenapa dia merasa aneh.
Sesampainya di rumah Rizky merebahkan badannya. Dia mendapatkan satu pesan dari April, kepala sekolah di tempat dia bekerja. Kemudian Rizky pun menelepon pihak sekolah untuk memberikan keterangan dan permintaan maaf karena sudah bolos bekerja.
Saat pemuda itu ingin beristirahat, dia merasa terganggu dengan suara Karin yang sedang berbicara dengan seseorang. Wanita itu tertawa begitu keras di samping kamarnya sehingga membuat Rizky harus menegur Karin agar dia bisa diam.
"Bisa pindah nggak? Aku mau istirahat," ucap Rizky dengan ketus.
Karin memicingkan mata. "Ganggu kesenangan orang saja," ucapnya kemudian pergi.
Karin pun melanjutkan perbincangannya di kamar. "Maaf ya, Yang ada pengganggu," ucap Karin sewot.
"Jadi kapan kita ketemu. Anak kita sudah tidak sabar bertemu dengan ayahnya," ucap Karin.
Rizky lewat di depan kamar Karin. Dia mengira Karin tengah menelepon Helmi. Tapi siapa yang menyangka kalau Karin sedang berselingkuh dengan Edward melalui sambungan telepon.
"Mas, main game yuk!" ajak Mario saat berpapasan dengan kakaknya.
"Nggak," tolak Rizky. Dia berlalu untuk mengambil air minum yang ada di kulkas.
"Ck, kenapa sih jutek gitu?" tanya Mario.
"Sana-sana!" usir Rizky.
__ADS_1
***
Setelah tiga hari Talita diperbolehkan pulang. "Kamu menunggu dia?" tanya sang ayah pada Talita.
"Kenapa dia nggak pernah nengok aku ya, Pa?" tanya Talita.
Pak Azam menghela nafas. "Karena dia tidak peduli sama kamu," jawabnya.
"Tapi aku peduli sama dia."
"Talita, jika kamu jadi Rizky lalu tiba-tiba seseorang meminta dirinya menikahi kamu? Apa kamu mau? Apalagi kalian baru pertama kali bertemu," terang Pak Azam.
"Salah, Pa. Kami sudah bertemu dua kali," ungkap Talita.
Tak lama kemudian seseorang datang menjenguk Talita. "Hai, Om, Talita," sapa Edward. Edward merupakan sepupu Talita. Anak dari kakak Pak Azam.
"Gimana kabarnya?" tanya Edward.
"Sudah baikan. Hari ini diperbolehkan pulang," jawab Talita.
"Terus kenapa muka kamu murung gitu?" tanya Edward mencari tahu.
"Kurang ajar! Siapa yang berani mempermainkan kamu? Biar aku dan Axel yang akan menghabisinya," tanya Edward geram.
"Apaan sih?"
"Bagaimana tidak dicuekin, orang yang menolongnya ketika kecelakaan malah disuruh menikahi dia," ledek Pak Azam. Dia merasa kesal pada putrinya sendiri.
"Kamu ada fotonya? Biar aku yang bawa dia ke hadapan kamu," ucap Edward. Talita tidak menyimpan foto Rizky tapi dia mengambil gambar dari kontak yang tersimpan di handphonenya.
Edward terkejut saat mengetahui laki-laki yang ditaksir adalah anak sambung dari Karin. Antara Rizky dan Edward memang tidak pernah bertemu. Tapi dia mengetahui siapa anggota keluarga dari suami Karin.
"Lebih baik kamu cari laki-laki lain saja," ucap Edward.
"Kenapa?" tanya Talita curiga.
"Dia jelek. Masih ganteng aku ke mana-mana. Dia tidak cocok denganmu," jawab Edward memberi alasan.
__ADS_1
"Hish, Kak Edward harus pakai kacamata tebal supaya bisa melihat dengan jelas," cibir Talita.
"Tetap saja. Kamu harus lupakan dia!" perintah Edward.
"Kenapa? Apa kamu kenal dia?" tanya Pak Azam.
"Ah nggak, Om. Hanya saja feeling aku mengatakan kalau dia bukan laki-laki baik," jawab Edward berbohong.
"Mana mungkin. Saat aku belum datang mengunjungi Talita, Rizky bersedia menjadi wali sementara untuk jaminan agar Talita mendapatkan perawatan pasca kecelakaan yang dia alami," sanggah Pak Azam.
Edward menghela nafas. "Terserah kamu," ucapnya lirih. Bagaimana pun caranya Edward tidak akan membiarkan salah satu anggota keluarga dari suami Karin menikahi saudaranya. Edward tidak mau kalau hubungannya dengan Karin jadi berantakan.
Selain karena harta yang dijanjikan Karin, Edward juga mengharapkan anak yang dikandung oleh wanita itu. Mereka sepakat kalau Karin berhasil menguasai harta suaminya, maka dia akan bercerai dan menikah dengan Edward.
Edward yang sehari-hari bekerja sebagai lelaki pemuas Tante-tante merasa lelah dan ingin menjalani hidup normal bersama Karin. Itu sebabnya dia mendukung rencana wanita itu sepenuhnya.
***
"Aku sungguh merindukan kamu, Karin," ucap Edward ketika mereka tengah memadu kasih di atas ranjang.
Dokter menyarankan supaya wanita itu lebih sering berhubungan intim dengan suaminya. Bukannya mendengarkan saran dokter, dia malah melakukan selingkuh dengan pria lain.
"Aku pun sama, ah." Karin merasa di atas awan ketika Edward mencium bagian intinya. Dia memang berhubungan dengan suaminya tapi permainan yang dilakukan oleh Edward lebih menantang dan selalu membuatnya ingin mengulangi lagi dan lagi.
"Walau kamu sedang berbadan dua tapi kamu sangat menggoda. Sekarang giliranmu!" perintah Edward pada Karin.
Edward membalik tubuh wanita itu kemudian mereka berpindah posisi. Karin berada di atas karena dia sedang hamil. "Bersiaplah, Ed."
Keduanya bermain dengan sangat hati-hati mengingat Karin sedang hamil. Dia tidak mau hubungan mereka mengakibatkan dirinya mengalami kontraksi.
Karin mende*sah sekuat tenaga karena laki-laki itu sedang memainkan dua buah bola yang menggantung dengan lidahnya. Karin semakin memacu dirinya hingga tak lama kemudian keduanya mengalami pelepasan masing-masing.
"Aku sungguh bahagia Karin," ucap Edward sambil terengah-engah. Karin hanya mengangguk.
"Aku hanya milikmu, Ed," jawab Karin seraya mengeratkan pelukan ke tubuh polos laki-laki itu.
Kapan hubungan keduanya akan diketahui oleh Helmi?
__ADS_1
Tunggu kisah selanjutnya ya. Jangan lupa komennya ditunggu