Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Violet hilang


__ADS_3

Karin telah mempersiapkan balas dendam selanjutnya. Dia begitu antusias membalas dendam pada Adli dan keluarganya karena gara-gara ucapannya yang dianggap menghasut sang suami untuk menceraikan dirinya, Karin jadi kehilangan semuanya.


Selain kehilangan suami dan hartanya, dia juga kehilangan kekasihnya karena jatuh miskin. Bukannya menyadari kesalahannya, Karin malah gelap mata untuk balas dendam. Yang ada dipikirannya saat ini adalah membuat keluarga Adli menderita.


Setelah mencelakai Jingga, dia juga ingin mencelakai anggota keluarga Adli lainnya. Karin berpikir untuk membuat anak sambung Adli mendapatkan sedikit kecelakaan. Dia pun menyuruh orang mengikuti Violet.


Pagi ini Mama Wanda memesan taksi online. Wanda sudah berjanji pada Adli kalau hari ini akan memulangkan cucunya. Akan tetapi, di tengah perjalanan tiba-tiba seorang yang mengendarai motor dengan sengaja menyerempet taksi yang ditumpangi oleh Mama Wanda dan Violet.


Taksi tersebut oleng dan menabrak pembatas jembatan. Pintu belakang sampai terbuka dan membuat Violet terjatuh ke sungai. Sedangkan Mama Wanda dan sang sopir terluka di bagian kepala.


Semua warga berkumpul untuk menolong korban kecelakaan tersebut. Kebetulan orang yang diperintahkan oleh Fabian melihat kejadian itu. Mereka pun mengambil tindakan untuk segera membawa Wanda ke rumah Sakit.


Setelah itu, salah seorang di antara anak buah Imam mengabari bosnya. Imam pun meneruskan berita tersebut kepada Fabian. Fabian dan Lidia menuju ke rumah sakit.


Sepasang suami istri tersebut melihat Wanda diperban di bagian kepalanya. "Apa ada korban lainnya? Mana Violet?" tanya Fabian pada Imam yang berjaga di sana.


"Menurut keterangan warga, ada seorang anak kecil yang hanyut di sungai. Aku mengira korban itu adalah Violet," terang Imam. Laki-laki itu pun sebenarnya tak kuasa menyampaikan kabar buruk tersebut pada Fabian.


Di tempat lain, Jingga menunggu kedatangan Violet sepanjang hari. Namun, hingga sore hari Mama Wanda belum juga memberi kabar.


"Mas, apa kamu sudah menelepon Mama?" tanya Jingga.


Adli menggeleng. "Dia hanya berkata kalau mama akan mengantar Vio hari ini. Namun, dia tidak bilang jam berapa," jawab Adli.


Jingga merasa gelisah. "Mas coba hubungi pakai handphonemu! Aku telah menghubungi melalui handphonku. Akan tetapi, tidak tersambung. Mungkin signalku yang kurang bagus," perintah Jingga pada suaminya.


"Baiklah," balas Adli. Dia mencoba menghubungi beberapa kali ke nomor Mama Wanda sayangnya tidak satupun panggilannya yang tersambung. Adli menoleh pada istrinya. "Tidak tersambung juga."

__ADS_1


Jingga syok. Lalu bagaimana cara dia mendapatkan kabar anaknya. "Siapa lagi yang bisa kita hubungi, Mas?" tanya Jingga.


"Aku akan coba hubungi Fabian. Barangkali dia berada di rumah ayahnya," ucap Adli memberi usulan.


"Fab, apakah Vio masih di sana?" tanya Adli to the point ketika teleponnya telah tersambung pada telepon milik Fabian.


"Tidak, mereka sudah jalan dari tadi pagi," jawab Fabian. Adli mendadak cemas. Dia agak menjauh dari Jingga.


"Lalu kenapa hingga saat ini mereka belum sampai di rumahku?" tanya Adli secara berbisik. Dia tidak mau istrinya yang masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan menjadi panik. Dikhawatirkan akan mempengaruhi kesehatan Jingga.


"Aku akan cati tahu. Tunggulah kabar dariku!" perintah Fabian. Dia berpikir cepat dan meminta orang-orangnya mencari keberadaan ibu dan anaknya.


"Mam, tolong kerahkan orang untuk mencari keberadaan Vio dan mama! Mereka menghilang sejak tadi pagi," perintah Fabian pada Imam, asistennya.


"Oke, aku akan beri kabar secepatnya," jawab Imam. Setelah itu dia menutup teleponnya.


Fabian dan Adli sama-sama menunggu. Jingga terus menanyakannya kabar Violet. Dia bahkan lupa kalau dia ingin ke rumah sakit untuk menengok anak kembarnya. Pikiran Jingga menjadi tidak fokus pada masalah lain. Yang dia pikirkan saat ini adalah ingin bertemu dengan Violet secepatnya.


Fabian tentu merasa kaget. Dia pun mencari keberadaan Violet dengan brutal. Adli tidak bisa jauh-jauh dari istrinya. Jingga belum pulih setelah melahirkan.


Tak lama kemudian Adli mendapatkan berita dari Fabian. Dia sengaja datang ke rumah Adli untuk menyampaikan berita tentang Violet secara lansgung. "Aku bingung harus mulai dari mana." Suara Fabian tidak terdengar seperti biasanya.


"Katakan! Aku akan menerima segala yang kamu sampaikan," ujar Adli.


"Anak buahku menyampaikan kalau Vio jatuh ke sungai," ucap Fabian memberi tahu secara langsung pada ayah sambung Violet. Fabian berkaca-kaca setelah mengatakan hal itu. Bagaimana pun Fabian juga orang tua Violet.


Adli terkejut. Dia pun bingung bagaimana menyampaikan hal itu pada istrinya. Di saat yang bersamaan Jingga berjalan keluar. Dia mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya tadi.

__ADS_1


"Mas Fabian," panggil Jingga. "Apa kamu ke sini ingin menyampaikan kabar mengenai anak sulungku?" tanya Jingga pada Fabian. Fabian menoleh ke arah Adli untuk meminta pendapat dalam diam. Adli mengangguk.


"Jingga, tari pagi taksi yang ditumpangi Mama dan Vio menabrak pembatas jalan. Mama dirawat di rumah sakit ...."


Jingga menyela ucapan Fabian. "Di mana Violet?" tanya Jingga dengan mata yang mulai mengembun.


"Vio terjatuh ke sungai," jawab Fabian. Pandangan mata Jingga seketika kabur dan dia pingsan. Untung saja Adli telah berjaga di belakang istrinya.


Fabian sudah menduga akan terjadi seperti ini. Dia pun pamit pulang sementara Adli mengurusi istrinya. Fabian masih berusaha mencari titik terang agar Violet bisa ditemukan dengan keadaan selamat.


Dia meminta bantuan kepada pihak yang berwajib. Mereka terus menyusuri aliran sungai hingga ke ujung. Namun, jasad Violet tidak juga ditemukan.


'Pasti penunggu di sini minta sesajen nih.'


Begitulah rumor yang beredar. Fabian pun mengikuti anjuran warga setempat. Segala cara telah dilakukan. Akan tetapi hasilnya nihil.


Jingga masih menunggu kabar baik dari Fabian. Selama beberapa hari kesedihan Jingga teralihkan oleh datangnya Albiru dan Cyan yang sudah diperbolehkan pulang ke rumah.


Sementara itu Adli tidak diam saja. Dia mencari tahu sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Mulai dari kejadian yang menimpa Jingga hingga kecelakaan yang dialami oleh orang tua dan anaknya.


Setelah menyusuri sejumlah bukti, dia menemukan sebuah fakta jika istrinya saat itu didorong oleh wanita yang begitu dia benci. "Karin." Adli menyebut nama wanita itu sambil mengepalkan tangan. Dia begitu emosi karena di CCTV rumahnya dia terlihat mengancam Jingga dengan mencengkeram dagu sang istri.


Tidak butuh waktu lama, Adli segera menuju ke rumahnya. Dia mengira Karin masih tinggal bersama sang ayah. Dia belum tahu kalau ayahnya sudah menceraikan Karin.


"Bang, kamu belum tahu kalau papa dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa. Papa sudah menceraikan dia sejak tahu kalau anak yang dilahirkan Karin bukanlah anak kandung papa. Keputusan sidang cerainya baru turun kemaren," ungkap Rizky. Adli terduduk lemas.


"Di mana kita bisa cari tahu keberadaannya?" tanya Adli.

__ADS_1


Di mana? Di mana? Ayo cari tahu!


Jadi cerita yang aku tulis ini membosankan apa nggak sih? Kasih rate ya buat menilai tapi jangan rate bintang satu. Itu sama saja kalian sengaja menghancurkan karya orang 🙏


__ADS_2