
Danzel mengajak Violet makan siang hari ini sekaligus membicarakan tentang hasil akhir pembangunan restoran milik Violet. Vio memperhatikan Danzel ketika dia mengelap mulutnya yang kotor dengan sebuah sapu tangan yang diambil dari sakunya.
"Dari mana kamu dapat sapu tangan itu?" tanya Violet.
"Ini sapu tangan yang aku dapatkan ketika aku masih kecil. Saat itu aku terjatuh ketika berlari. Lalu seorang anak perempuan memberikan sapu tangannya dan mengikatkan sapu tangan ini di lututku tapi setelah itu aku tidak tahu bagaimana kabarnya." Sekilas kenangan tentang pertemuan Danzel dengan anak perempuan yang ditemuinya ketika dia masih kecil itu melintas di pikirannya.
Violet terkejut dengan pengakuan Danzel. "Apakah ini suatu kebetulan?" tanya Violet.
Danzel tidak mengerti apa yang dimaksud oleh gadis yang sedang duduk di hadapannya itu. "Aku juga pernah menolong anak laki-laki yang terjatuh ketika masih kecil. Saat itu aku berjalan sendirian di taman dan menemukan anak laki-laki yang duduk di tanah sambil menangis," ungkap Violet.
"Bisa jadi," jawab Danzel. "Bisa jadi kamulah yang telah menolongku. Semua kemungkinan bisa terjadi. Kita tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan. Apa mungkin kamu anak kecil yang telah menolongku waktu itu?" Danzel mencoba menebak pikiran Violet.
Violet menggantikan bahunya. "Aku rasa... Aku tidak tahu. Mungkin hanya kebetulan kita mengalami peristiwa yang sama," sanggah Violet. Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun, Vio tidak mau ke gegabah dan mengakui kalau dia dirinya lah yang telah menolong Danzel. Lagi pula tidak ada fakta yang memperkuat opininya.
'Padahal aku berharap kamulah gadis kecil yang telah menolongku waktu itu,' gumam Danzel dalam hati.
'Apa benar dia anak kecil yang pernah aku tolong?' Violet pun bertanya-tanya dalam hatinya.
"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan? Maksud aku kamu ada rencana apa hari ini?" tanya Danzel pada Violet.
__ADS_1
"Aku ingin membuka iklan lowongan pekerjaan agar posisi karyawan di restoran aku terpenuhi," jawab Vio.
"Apa perlu aku bantu aku mungkin punya beberapa rekomendasi orang yang bisa kamu pekerjakan di restoranmu nanti?" Danzel menawarkan bantuan.
"Tentu saja boleh. Mana mungkin aku menolak bantuan seseorang jika aku memang memerlukannya," balas Vio. Danzel merasa senang karena Violet tidak menolak bantuannya. Dengan begitu dia akan mendapatkan kesempatan untuk lebih sering bersama dengan wanita yang dia kagumi.
Vio dan Danzel sedang makan dengan tenang di sudut lain ada kegaduhan yang terjadi di tempat mereka makan saat ini. "Anda mengira saya ini orang miskin," teriak seorang pemuda yang tidak terima saat dirinya dihina oleh manajer restoran tersebut.
"Kalau kamu memang bukan orang miskin kenapa kamu tidak bisa bayar?" bentaknya.
Violet menyipitkan mata untuk memastikan bahwa orang yang dilihat adalah adiknya. Danzel mengarahkan matanya ke arah pandang Violet saat ini. Violet bangun dari tempat duduknya menghampiri Albiru. Ya, pemuda yang tidak bisa membayar dia pesan adalah adiknya.
"Sebaiknya kamu terima saja konsekuensinya karena tidak bisa membayar makanan di sini. Ikut ke belakang untuk cuci piring selama sehari lalu aku akan melepaskanmu karena kamu telah menjalani hukumanmu," ucap manager restoran itu pada Albiru.
"Kamu tidak perlu ikut campur aku bisa menyelesaikannya sendiri," balas Albiru dengan angkuh.
"Biru jangan membuat kami malu cepat bayar makanan yang kita pesan ini!" seru salah seorang teman yang berada di satu meja dengan Albiru.
Biru terlihat gelagapan. Dia bukannya tidak bisa membayar tapi dompetnya tertinggal di rumah. "Biar aku saja yang membayar!" kata Violet.
__ADS_1
"Aku bilang tidak usah ikut campur!" Bentak biru pada kakaknya sambil mendorong bahu Violet hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Beruntung Danzel menangkap tubuhnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Danzel. Violet mengangguk.
"Jangan membuang waktuku! Kalau kamu tidak mau bayar maka pergilah ke belakang untuk cuci piring sebagai ganti karena kamu tidak bisa membayar makanan yang kamu pesan!" Kesabaran manajer restoran itu mulai habis pada pemuda yang mengaku kaya itu.
Al biru diam saja. Teman-temannya malah pergi meninggalkan dia di saat dia mengalami kesulitan. "Biar aku saja yang menggantikan hukumannya,"seru Violet.
"Tidak Vio jangan lakukan itu!" Danzel melarang Violet.
"Mas Danzel tenang saja aku sudah biasa melakukan pekerjaan kasar dari dulu," ucap Violet sambil tersenyum. Ada perasaan senang karena Vio pertama kali memanggilnya dengan sebutan Mas. Di sisi lain dia merasa sedih karena dia membela orang yang telah membuat dirinya terusir dari rumah.
"Mari ikut saya!" kata manager tersebut. Violet pun berjalan di belakang manajer restoran tersebut. Dia akan menggantikan hukuman Albiru mencuci piring selama sehari.
"Tunggu!" cegah Danzel. "Aku akan membayar ganti rugi dua kali lipat dari jumlah uang yang harus dia bayar." Danzel menawarkan kesepakatan pada manajer restoran tersebut agar Violet tidak perlu menjalani hukuman yang tidak seharusnya.
Lagi-lagi Denzel penolong Violet ketika dia mengalami kesulitan. Violet sangat berterima kasih kepada Danzel. Albiru yang merasa masalah sudah terselesaikan berbalik badan dan ingin meninggalkan saran tersebut tapi Danzel mencegahnya.
"Tidak bisakah kamu bersikap lebih baik pada kakakmu? Apa kamu tidak bisa melihat ketulusannya saat menolongmu hari ini?" Danzel bertanya demikian agar pikiran dan hati Albiru terbuka dan bisa menerima kehadiran Violet.
__ADS_1
Albiru menghentikan langkahnya. "Terima kasih," ucapnya tanpa menoleh ke belakang. Violet merasa lega karena Albiru bebas dari hukuman yang harus dijalani.
***