Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Lidia Hamil


__ADS_3

Adli masih berharap bisa mendekati Jingga meski dia tahu status Jingga adalah istri Fabian. Begitupun Rizky, dia masih menunggu jandanya Jingga karena dia dengar rumor kalau Jingga menikah karena diperko*sa oleh Fabian. Dan dia telah mencari tahu kalau Fabian lebih mencintai istri pertamanya dibandingkan Jingga.


"Jingga," panggil Adli dan Rizky secara bersamaan. Saat ini mereka berada di sekolah. Rizky ingin mengantarkan Jingga pulang ke rumah. Begitu pun Adli. Dia sengaja datang di saat jam makan siang untuk mengantarkan Jingga.


"Bang, ngapain sih lo ke sini segala?" protes Rizky.


"Kenapa? Nggak boleh?" tantang Adli.


"Ck, kurang kerjaan aja," cibir Rizky pada kakaknya.


"Ini mau cari kerjaan. Nganterin Jingga pulang," bisiknya. Setelah itu Adli berjalan mendekati Jingga.


"Mau makan siang bareng nggak? Aku tahu tempat makan yang enak untuk kita berdua." Jingga mengerutkan keningnya.


"Next time aja, Kak," tolak Jingga.


"Bu Jingga, mau saya antar tidak? Kebetulan saya mau ke rumah teman saya yang tidak jauh dari rumah ibu," ajak Rizky dengan sopan selaku teman satu profesinya.


Jingga tersenyum. "Saya naik taksi saja, Pak. Takut ngerepotin," ucapnya.


"Nggak, nggak ngerepotin sama sekali," balas Rizky.


"Jingga," sebuah panggilan membuat Jingga menoleh. April datang mendekat. Dia ingin menyelematkan Jingga dari perebutan dua laki-laki itu.


"Kak Fabian memintaku mengantarmu pulang," ucap April.


"Ya, Mbak." Jingga pun berpamitan pada kedua laki-laki itu. "Saya bareng Mbak April saja." Adli dan Rizky sama-sama kecewa.


April mengantar Jingga sampai ke rumahnya. "Makasih banyak mbak sudah mengantar saya," ucap Jingga.


"Iya, santai saja. Kalau begitu aku pulang dulu," pamit April dengan sopan. Jingga mengangguk.


Setelah kepergian April, jingga merasakan pinggangnya sakit. Dia pun mengambil air putih lalu duduk di kursi. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu rumahnya. Dia kira Fabian pulang cepat tapi ternyata Lidia yang datang.


"Jingga." Lidia datang dengan wajah yang sumringah. Dia membawa banyak barang ke rumah Jingga.

__ADS_1


"Aku belanja banyak buat kebutuhan bayi kamu." Lidia antusias menunjukkan barang-barang yang kebanyakan baju bayi itu.


Jingga tersenyum sinis. Bukan dia tidak suka tapi dia tahu Lidia hanya menginginkan anaknya. Bukan memberi secara tulus. "Kak Lidia seharusnya tidak perlu repot-repot membeli banyak barang. Aku jadi tidak enak," ucap Jingga.


"Nggak kok. Mas Fabian yang nyuruh aku buat belanjakan barang-barang keperluan melahirkan kamu."


Deg


Rasanya sakit ketika mendengar istri pertama yang lebih dipercaya oleh suaminya dari pada Fabian memberikan uang pada Jingga untuk membeli kebutuhannya sendiri. 'Segitu cintakah kamu pada Kak Lidia tanpa mempedulikan aku, Mas?'


"Terima kasih, Kak. Kak Lidia mau minum apa? Biar aku buatkan," ucap Jingga basa-basi.


Lidia melihat jam yang melingkar di tangannya. "Tidak usah sebentar lagi aku sama Mas Fabian mau ke kondangan jadi aku langsung pulang saja," jawab Lidia.


Jingga senyum dengan terpaksa saat menanggapi ucapan Lidia. Setelah dia pergi Jingga mengeluarkan semua yang menyebabkan hatinya sesak. "Apakah aku ini hanya sebatas istri yang menghasilkan anak untukmu, Mas? Kenapa tak pernah kamu sedikitpun memperlakukan aku selayaknya istri di luar sana," gumam Jingga di sela-sela tangisannya.


Di tempat lain, Lidia menghampiri suaminya. "Mas, apa kita jadi ke acara nikahan kolega kamu?" tanya Lidia ketika Fabian dan Imam sedang berdiskusi.


"Tunggu di sana sebentar aku akan pergi setelah menyelesaikan pekerjaanku," jawab Fabian.


"Iya," jawab Fabian singkat.


Entah kenapa Imam tidak menyukai Lidia sejak dia tahu Lidia hanya menginginkan anak yang dikandung Jingga. Imam pun penasaran dengan kejadian yang membuat Fabian akhirnya menikahi Jingga. Dia menduga ini semua rekayasa Lidia.


Usai berdiskusi dengan atasannya, Imam keluar. Dia mengangguk pada Lidia, tapi sebenarnya dia muak melihat wanita itu. Jujur saja sebagai seorang sahabat dia lebih suka jika Fabian bersama Jingga. Wanita itu lebih kalem dan tenang pembawaannya. Selain itu Jingga tak pernah menuntut apa-apa pada Fabian.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Fabian. Lidia menyambut suaminya dengan merangkul lengan kekar itu.


Tiba-tiba Lidia merasa mual mencium bau parfum Fabian. "Mas, kamu bau sekali," ucap Lidia seraya menutup hidung.


Fabian mencium bau badannya sendiri. "Ah, masa sih?" tanya Fabian.


"Iya, Mas. Aku nggak suka bau parfummu."


Brug

__ADS_1


Lidia tiba-tiba pingsan. Fabian pun menggendong Lidia. Lalu dia merebahkan Lidia ke sofa panjang yang ada di ruangannya. "Mam, tolong panggil dokter. Lidia pingsan!" seru Fabian pada bawahannya melalui telepon antar ruangan.


"Hah? Pingsan? Tadi gue lihat dia seger buger," gumam Imam menggerutu.


Tak butuh waktu lama dokter yang dipanggil Imam datang ke kantor. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Fabian cemas.


"Tidak ada masalah. Tapi setelah saya telaah Anda bilang tadi istri Anda pingsan ketika mencium bau parfum Anda bukan?" Fabian mengangguk.


"Sepertinya istri Anda hamil. Karena sebagian wanita hamil tidak tahan bau yang menyengat. Namun, untuk lebih jelasnya Bapak bisa periksakan ke dokter spesialis kandungan ya," saran dokter wanita itu.


Fabian terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa setelah penantian panjang hingga Lidia frustasi dan mendesak dirinya menikahi Jingga kini dia malah hamil? Perasaan Fabian campur aduk antara senang dan terharu.


"Baik, Dok."


"Saya hanya memberi resep vitamin saja. Saya tinggal dulu," pamit dokter tersebut.


"Mam, lo denger kan? Lidia hamil," ucap Fabian pada Imam dengan antusias. Imam tak menunjukkan ekspresi yang sama dengan Fabian. Dia malah cenderung sedih.


"Fab, gue tahu elo sedang bahagia mendengar istri pertama lo hamil. Tapi elo harus ingat elo punya dua istri dan istri kedua lo mau melahirkan. Elo harus bisa adil." Imam mencoba menasehati sahabatnya.


Seketika senyum di wajah Fabian surut. "Aku sudah menyuruh Lidia membeli semua kebutuhan Jingga menjelang persalinan," jawab Fabian ketus.


"Ck, elo nggak peduli perasaan Jingga. Kenapa lo nggak kasih dia uang sendiri supaya dia bisa membeli sendiri apa yang dia butuhkan? Hatinya pasti sakit, Fab. Elo selalu percaya pada Lidia tapi elo nggak pernah menaruh kepercayaan pada Jingga. Elo sadar nggak sih Fab kalau elo nggak adil?"


Imam yang merasa muak akhirnya membanting pintu ketika keluar. Fabian terduduk dan merenungi ucapan Imam. "Apa benar selama ini aku kurang adil pada istri-istriku?" gumam Fabian seraya menatap Lidia.


Sesaat kemudian Lidia sadar. "Mas, apa yang terjadi? Kepalaku pusing, Mas," keluh Lidia.


Fabian memeluk istrinya. "Lidia ayo kita periksa ke dokter."


Lidia masih bingung dengan ucapan suaminya. "Aku tidak apa-apa Mas. Mungkin hanya kurang darah," tolak Lidia.


Fabian menggenggam tangan istri tercintanya. "Aku ingin pastikan kalau di sini ada anak kita." Fabian meraba perut Lidia. Lidia terkejut tapi sesaat kemudian dia menangis haru.


Bagaimana nasib Jingga?

__ADS_1


__ADS_2