Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Danzel


__ADS_3

Violet terkejut ketika seorang lelaki tampan menolongnya. Tapi tunggu! Wajahnya sangat mirip dengan Justin. "Kenapa kamu melihat aku seperti itu?" tanya Danzel.


"Apa kamu tinggal di rumah ini?" tanya Violet.


"Aku Danzel. Dia adalah keponakanku." Danzel menunjuk Sabrina.


"Lalu mengapa kamu hanya diam saja?" Violet memberikan Sabrina pada Danzel. Akhirnya dia bisa bernafas lega.


"Tolong baringkan dia di kamar tidurnya!" perintah Violet pada laki-laki yang baru dia kenal itu.


"Who are you?" tanya Danzel.


"Kamu akan tahu sebentar lagi," jawab Violet kemudian dia pergi. Hari ini moodnya agak jelek karena Justin mengacuhkannya.


Violet sedang menunggu taksi di depan rumah Justin. Namun, hingga begitu lama tidak ada satupun taksi yang lewat. Violet melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Masih jam segini kenapa tidak ada taksi?" gumam Violet.


Tiba-tiba hujan turun dengan lebat disertai petir. Violet berjongkok sambil menutup telinganya ketika dia terkejut. Badannya basah kuyup karena hujan disertai angin. Tidak ada tempat berteduh untuknya. Dia masih berdiri di depan pagar rumah Justin. Violet kedinginan. Dia ingin menghubungi seseorang tapi ponselnya mati.


"Kenapa harus di saat seperti ini sih?" Violet menangis sambil menenggelamkan kepalanya di antara lutut yang dia tekuk.


Mendadak hujan berhenti. Bukan, ada seseorang yang sedang memayungi dirinya. Violet mendongak. Ternyata Danzel sedang berdiri di sampingnya sambil memegang payung. "Kenapa kamu sendirian di sini?" tanya Danzel sambil menarik tangan Violet pelan agar gadis itu berdiri.


"Aku tidak menemukan taksi," jawab Violet. Danzel menyusuri wajah gadis yang berdiri di hadapannya itu. Hidung dan matanya merah dia bisa menyimpulkan kalau gadis itu habis menangis.


"Ayo aku antar pulang!" Danzel mengajak Violet ke mobilnya. Violet tidak menolak karena laki-laki itu mengaku sebagai saudara dari Justin. Dia percaya kalau laki-laki yang baru saja dia kenal itu tidak akan macam-macam.


"Apa tidak apa-apa? Badanku basah mobil kamu akan kotor jika aku naik," ucap Violet sebelum masuk. Dia merasa sungkan.


"Jangan pikirkan hal itu. Aku bisa membersihkannya nanti." Danzel mendorong pelan agar Violet segera masuk ke dalam mobil.


Setelah itu Danzel masuk ke bagian kursi kendali. "Siapa namamu?" tanya Danzel.

__ADS_1


"Violet," jawab gadis itu.


"Baiklah, Violet. Beri tahu di mana alamat rumahmu!"


"Baik," jawab Violet.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Vio, dia merasa kedinginan. Vio terus memeluk kedua lengannya. Danzel yang menyadari hal itu langsung menepikan mobil. "Ini belum sampai kenapa berhenti?" tanya Violet bingung.


Danzel melepas jas yang dia kenakan. "Pakai ini agar kamu tidak kedinginan!" Violet menerima jas pemberian pemuda itu.


"Akan aku kembalikan nanti," ucap Violet lirih. Danzel mengangguk. Violet pun menyelimuti tubuhnya dengan jas pemberian laki-laki itu.


Selama perjalanan Violet malah tertidur. Danzel baru menyadari ketika mereka tengah sampai di depan rumah Violet. "Apa ini rumahnya?" tanya Danzel pada Vio. Namun, gadis itu tidak menjawab. Saat Danzel melirik ke arahnya dia melihat Violet tertidur lelap.


"Siapa sebenarnya gadis ini? Apa dia pengasuh Sabrina?" gumam Danzel mengamati wajah cantik Vio.


"Terlalu cantik untuk seorang pengasuh. Apa dia pacar Justin?" tebak Danzel. Ada rasa kecewa di dalam diri Danzel.


Setelah itu, Danzel turun dan bertanya pada pemilik rumah. "Apa betul ada anggota keluarga di sini yang bernama Violet?" tanya Danzel.


"Dia sekarang ada di mobil saya. Tolong bawa dia masuk!" perintah Danzel pada petugas Satpam tersebut.


"Oh, biar saya panggilkan Tuan terlebih dulu." Danzel menunggu keluarga Violet keluar.


Rupanya, Cyan yang keluar. Saat itu Satpam bertemu Cyan di dalam rumah. "Anda siapa?" tanya Cyan pada Danzel.


"Aku bertemu dengan Violet di rumah Justin. Dia sedang mengantarkan keponakanku. Namun, aku kira dia kesulitan mencari taksi hingga dia kehujanan," ungkap Danzel.


"Terima kasih telah mengantar kakakku." Cyan membangunkan Vio akan tetapi gadis itu tidak bereaksi. Cyan melihat wajah Violet memerah. Dia pun menempelkan telapak tangannya di kening Violet. "Kak Vio demam," gumam Cyan.


"Tunggu sebentar aku panggil saudaraku dulu. Aku tidak kuat menggendong dia," ucap Cyan sambil berlari ke dalam rumah. Danzel menghela nafas kasar. Dia pun menggendong Violet hingga ke dalam rumah.

__ADS_1


Cyan dan Albiru terkejut ketika laki-laki asing menggendong kakak mereka. "Aku taruh di mana dia?" tanya Danzel.


"Letakkan dia di sini dulu!" perintah Albiru.


"Kamu gila. Kakak sedang sakit. Antarkan dia ke dalam kamar!" pinta Cyan. Danzel memutar bola matanya jengah melihat kedua kakak beradik itu bertengkar.


"Ada apa ini?" tanya Adli yang keluar dari kamarnya. Jingga juga ada di belakangnya . Mereka terkejut ketika melihat Violet digendong oleh seorang laki-laki asing.


"Kenapa dengan Vio?" tanya Adli.


"Aku sudah keberatan. Di mana kamarnya?" tanya Danzel. Adli menunjukkan kamar Violet. Kemudian dia menghadang langkah Danzel agar menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Maaf, karena telah mencurigaimu. Lantas di mana Justin? Seharusnya dia yang mengantar calon istrinya," geram Adli. Danzel benar-benar kecewa ketika Adli mengungkap bahwa Violet adalah calon istri kakak kandungnya.


"Maaf sudah larut saya ingin pulang dan beristirahat," pamit Danzel. Adli dan Jingga mengangguk. Danzel pun kembali ke rumah Justin.


"Hei, kapan balik dari LA?" tanya Justin terkejut ketika Danzel sudah kembali dari luar negeri.


Sudah sejak lama Danzel memilih bekerja di luar negeri. Entah apa yang membuat pemuda itu pulang, tapi sepertinya dia akan tinggal dalam waktu lama di tanah kelahirannya.


"Aku baru sampai hari ini," jawab Danzel. Justin mengamati kemeja adiknya yang sedikit basah.


"Ada apa denganmu? Kamu berkeringat?" tanya Justin.


Danzel menggeleng. "Aku habis mengantar pulang calon istrimu," goda Danzel lalu berjalan melewati kakaknya. Justin mengepalkan tangan.


Justin pun mengikuti adiknya. "Danzel jelaskan kepadaku tentang ucapanmu barusan!" Justin penasaran. Dia menduga Danzel bertemu dengan Violet ketika gadis itu sedang mengantar pulang Sabrina.


Ketika dia ingat anaknya, Justin pun menunda untuk mendengar jawaban Danzel. "Dasar laki-laki tidak perhatian," umpat Danzel pada kakaknya.


Danzel mengganti bajunya sambil memikirkan wajah Violet. "Gadis itu memiliki pesona yang luar biasa. Justin yang selama ini tidak peduli pada wanita mendadak menyukai seorang gadis. Hebat!" gumam Danzel sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku jadi penasaran pada wanita itu."


Kalian pilih siapa? Danzel atau Justin?


__ADS_2