Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Pengganggu


__ADS_3

Sebulan kemudian Erika melakukan tes kehamilan. "Sial! Kenapa hasilnya negatif? Padahal waktu itu dia tidak pakai pengaman," umpatnya kesal. Padahal Erika berharap kalau dirinya bisa hamil anak Fabian. Dengan begitu dia bisa menguras harta Fabian.


Sesaat kemudian handphone Erika berbunyi. "Bagaimana hasilnya?" tanya Axel. Dia sudah menanti kehancuran Fabian.


"Negatif," jawab Erika.


"Be*go. Kenapa bisa negatif?" bentak Axel melalui sambungan telepon.


"Mana aku tahu? Dia yang tidak subur kal." Erika berbalik menyalahkan Fabian.


"Dia sudah dua kali punya anak mana mungkin dia tidak subur. Kamu saja yang tidak becus hamil. Aku tidak mau tahu kamu harus datang ke rumah Fabian. Buat seolah-olah kamu hamil. Ingat jangan sampai rencana kita gagal!" Axel memberikan peringatan keras.


"Iya." Setelah itu Erika menutup teleponnya. Dia bergidik ngeri mendengar amukan Axel.


"Laki-laki itu menyeramkan. Aku telah salah berhubungan dengan dia." Ada perasaan menyesal di hati Erika. Saat itu dia terpengaruh bujuk rayu Axel yang menjanjikan kebebasan. Erika tak berpikir panjang. Apalagi dia telah mendapatkan uang dari Axel.


Erika pun membayar seseorang untuk mendapatkan foto hasil USG. Setelah itu, dia datang ke tempat Fabian. Axel telah memberi tahu alamat Fabian melalui pesan singkat yang dikirim ke handphonenya.


"Rumahnya besar juga," gumam Erika ketika sampai di depan rumah Fabian. Kemudian dia menekan bel yang terdapat di dekat pintu rumahnya.


Saat itu Lidia sendiri yang membukakan pintu. "Cari siapa?" tanya Lidia.


'Ini pasti istrinya Fabian,' batin Erika menatap Lidia.


"Aku Erika." Wanita itu mengulurkan tangannya. Lidia membalas uluran tangan Erika dengan ragu.


"Aku ke sini cari Mas Fabian," kata Erika.


"Maaf, kalau boleh saya tahu ada urusan apa ya?" tanya Lidia curiga.


"Aku ke sini ingin meminta pertanggung jawaban suamimu. Aku hamil," tutur Erika. Dia memperlihatkan hasil USG palsu miliknya.


Lidia syok melihat hasil USG itu. Dia tidak tahu kalau Erika berbohong. "Jangan mengada-ada!" bentak Lidia tak percaya.


Erika tersenyum miring. Sepertinya Lidia sudah terpengaruh. "Silakan tanya pada suamimu. Aku juga punya video saat aku menghabiskan malam bersamanya."


Lidia menutup pintu itu dengan keras. Erika pun pergi. Dia berhasil membuat Lidia panas. Sekarang giliran dia datang pada Fabian. Erika menghubungi Axel.

__ADS_1


"Fabian tidak ada di rumahnya," lapor Erika.


"Susul di ke kantornya. Aku akan kirim alamat melalui pesan singkat," jawab Axel. Dia tidak akan berhenti mengganggu Fabian sampai dia puas.


Erika terpaksa mengikuti rencana Axel. Dia sudah terikat dengan uang yang dijanjikan Axel. Erika menaiki taksi menuju ke kantor Fabian. Di sana dia tak sengaja bertemu dengan Imam, asisten Fabian.


"Anda siapa?" tanya Imam. Erika melihat penampilan Imam dari atas hingga bawah.


"Saya calon istrinya Mas Fabian," kata Erika mengaku-ngaku.


Imam menatap aneh pada perempuan yang berpenampilan sek*si itu. "Yang saya tahu istri Pak Fabian hanya Bu Lidia," sanggah Imam.


"Sebentar lagi kamu juga akan memanggil saya dengan sebutan Ibu karena kamu harus menghormati saya," ucap Erika dengan angkuh. Imam tak mau menanggapi. Dia berlalu masuk ke dalam lift.


"Dasar tidak sopan!" umpat Lidia.


Erika mengikuti Imam dari belakang. Dia menerobos masuk ke dalam lift. Imam tak mau ambil pusing. Dia membiarkan Erika.


Ketika lift berhenti Erika mendahului langkah Imam. "Bos kebanyakan berurusan sama cewek." Imam menggelengkan kepalanya.


"Long time no see," ucap Erika. Fabian terkejut karena wanita yang sebulan lalu menghabiskan malam berdua tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Aku membawa kabar gembira untukmu." Erika mencolek dagu Fabian. Tapi Fabian memalingkan wajahnya.


"Aku hamil," bisik Erika di telinga Fabian.


Fabian menatap tajam pada Erika. "Bohong!"


"Lihatlah ini!" Erika memberi hasil USG palsunya.


"Aku tidak akan percaya pada foto seperti ini. Kamu bisa saja memalsukan foto ini."


"Aku juga ingin mengembalikan handphonemu. Sekarang kembalikan handphoneku!" Erika menengadahkan tangannya.


"Sudah aku buang," jawab Fabian dengan santainya.


Erika mengepalkan tangan. Kemudian dia membanting handphone Fabian di depannya. Fabian berdiri karena tidak terima. Di dalam handphone itu ada kenangannya bersama Jingga.

__ADS_1


Dulu dia sempat mengambil foto Jingga secara diam-diam. Fabian berjongkok untuk melihat keadaan handphonenya. "Wanita sialan!" Fabian menampar Erika.


Erika tidak menyangka kalau Fabian begitu kasar. Dia memegang pipi bekas tamparan tangan Fabian. "Pergi kamu dari sini!" usir Fabian.


"Kamu tidak bisa mengabaikan aku. Ingat di dalam perutku ada anak yang harus kamu akui. Nikahi aku!" desak Erika.


Fabian mencengkeram dagu Erika. "Katakan siapa yang menyuruhmu untuk menjebakku?" Fabian curiga ada seseorang yang sengaja mengganggunya.


Erika gelagapan. "Apa yang kamu bicarakan?" Erika pura-pura tidak mengerti maksud Fabian.


Fabian membuang dagu Erika lalu dia menarik tangan wanita itu. Imam yang hendak masuk ruangan Fabian jadi terkejut ketika atasannya menyeret wanita yang menerobos masuk ke ruangannya tadi.


"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Erika. Fabian tidak menjawab.


Mereka berjalan hingga ke samping mobil Fabian. Lalu dia mendorong Erika agar masuk ke dalam mobil. Erika sangat ketakutan. Niatnya mengganggu Fabian malah berujung dirinya yang terganggu.


'Axel sialan! Ternyata Fabian bukan orang yang mudah diperdaya,' umpat Erika merutuki kebodohannya menuruti perintah Axel.


Fabian baru berhenti ketiak dia sampai di depan rumah sakit. Bukannya Erika tidak mengerti maksud Fabian tapi dia tidak bisa menghindar. "Kamu mau apa bawa aku ke sini?" tanya Erika.


"Buktikan kalau beneran hamil! Aku mau tahu kalau kamu tidak berbohong. Jika kamu berbohong bersiaplah mendekam dipenjara!" ancam Fabian.


Erika melihat ke sekitar. Dia bukan gadis yang bodoh. "Cukup!" Erika menampar Fabian di depan orang banyak. Semua orang melihat ke arahnya.


"Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab jangan permalukan aku seperti ini!" Erika berusaha melarikan diri. Tapi Fabian tidak pendek akal. Dia menggendong Erika kemudian memaksa masuk ke dalam ruang praktek dokter kandungan.


"Pak, Anda tidak bisa menerobos!" seorang perawat memberi peringatan.


"Periksa dia! Aku akan bayar lebih," desak Fabian. Dokter yang memeriksa pun merasa kesal karena Fabian sangat tidak sopan.


"Sebaiknya Anda pergi ke rumah sakit lain!" usir dokter itu. Erika merasa beruntung.


"Tolong maafkan calon suami saya! Kami akan pergi." Erika turun dari ranjang kemudian dia menarik tangan Fabian agar keluar.


Fabian menepis tangan Erika kemudian dia pergi meninggalkannya. "Awas ya kamu Fabian! Aku akan buat kamu menyesal!" janji Erika pada dirinya sendiri.


...♥️♥️♥️...

__ADS_1


Yuk mampir baca ke novel berikut



__ADS_2