
Ini udah up yang ketiga ya, kencengin dong vote dan hadiahnya, buat yang belum subscribe di subscribe ya. 😘
***
Sudah tujuh belas tahun lamanya sejak Violet menghilang, Jingga tidak pernah lupa untuk mendoakan anaknya. "Ya Allah, hingga saat ini aku berharap Violet anakku masih hidup. Semoga suatu saat nanti sebelum ajal menjemputku, Engkau perkenankan aku untuk bertemu dengannya walau hanya sekali," ucap Jingga usai menunaikan ibadah sholat asar hari ini.
"Assalamualaikum, Ma," teriak Biru dari luar kamar Jingga. Jingga pun melepas mukena yang dia kenakan sebelum menemui Biru.
"Waalaikumsalam, ada apa Biru? Tumben kamu pulang cepat."
"Biru mau izin menginap di sekolahan hari ini, Ma. Ada kegiatan kemah tapi kemahnya di laksanakan di lapangan sekolah," kata Biru.
"Iya, boleh. Cyan ikut tidak?" tanya Jingga. Biru menggeleng.
"Dia sedang sibuk di kamar, Ma," jawab Biru.
Sepulang sekolah, Cyan lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar. Dia menjadi selebgram yang memiliki penggemar yang lumayan banyak. Selain membagikan kegiatannya sehari-hari, Cyan juga mempromosikan produk dari brand tertentu.
Tok tok tok
Cyan menoleh ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia sengaja mengunci kamar agar tidak ada yang ganggu saat live. "Oke, sampai di sini dulu perjumpaan kita. See you next time," ucap Cyan saat mengakhiri sesi livenya di media sosial.
Setela mematikan handphone dia membukakan pintu untuk ibunya. "Ada apa, Ma?" tanya Cyan.
"Kamu ikut kemah sama kakakmu nggak?" tanya Jingga.
"Nggak ikut, Ma," jawab Cyan.
"Kalau begitu bisa antarkan makanan ke rumah om Rizky? Tante Sasa pengen ngidam asinan. Mama udah buatin untuk dia."
"Boleh, Ma." Cyan mengikuti ibunya hingga ke dapur. Dia menyiapkan asinan yang ditaruh di dalam wadah plastik.
"Ini juga ada masakan untuk kakek. Jangan sampai ketukar ya!" pesan Jingga pada anak bungsunya. Cyan mengangguk paham.
Setelah itu Cyan berangkat menuju ke rumah kakeknya. Dia mengendarai motor matic hingga ke sana. Ketika di perjalanan dia melihat seorang gadis yang mirip ibunya hendak menyeberang jalan. Siapa lagi kalau bukan Violet. Namun, Cyan tidak mengetahui kalau dia adalah kakaknya yang hilang.
__ADS_1
Violet sendiri sedang mencari keberadaan orang tuanya. Saat dia hanyut terbawa arus sungai, dia ditemukan oleh seorang laki-laki yang tidak memiliki anak. Namun, setelah dewasa Violet dijual pada pria hidung belang. Untung saja dia bisa kabur.
Vio yang hilang pada usia empat tahun hanya ingat dengan wajah ibunya. Karena saat itu dia sangat dekat dengan Jingga. Tidak ada hal lain yang bisa dia ingat. Bahkan alamat rumahnya pun dia tidak tahu.
Sebenarnya dia agak kesulitan untuk mencari keluarganya, tapi dia bukan gadis yang mudah putus asa. Sudah bertahun-tahun dia hidup sebatang kara. Violet hidup berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Hal itu dia lakukan hanya untuk mencari keluarganya.
Hidupnya memang menderita, tapi setidaknya dia masih bisa makan walau uang yang dia dapat tidak seberapa. Violet bekerja menjadi pelayan di satu rumah makan ke rumah makan lainnya. Kesempatan itu juga dia lakukan untuk memperoleh pelajaran memasak secara gratis.
Kini usianya menginjak dua puluh satu tahun dia pikir dia harus punya rumah tetap. Maka Vio membuka warung kecil-kecilan di depan rumah kontrakannya saat ini.
"Silakan, Pak, Bu. Mampir makan di sini." Violet menawarkan jualannya karena tidak seorang pun yang mampir.
"Bu, ayo mampir!" ajak seorang bapak-bapak yang tertarik pada Violet.
"Nggak usah biasanya kalau yang jual cantik makanannya belum tentu enak," cibir sang istri. Violet hanya menggelengkan kepalanya.
"Silakan, Bu. Dicicipi dulu. Saya baru buka hari ini. Ada diskon kalau ibu beli tiga piring saya kasih bonus satu porsi makanan yang dibawa pulang," bujuk Violet.
"Wah, boleh juga." Ibu itu langsung tertarik.
"Mau nambah, Pak?" tanya Violet menawarkan jualannya.
"Boleh." Pria itu menyodorkan piringnya.
"Eh, tunggu dulu. Ini seporsi berapa?" tanya wanita yang menjadi pembeli pertama di warung makan Violet.
"Murah, Bu. Lima belas ribu saja," jawab Violet.
"Bu, kita beli satu lagi biar dapat bonus," bujuk pria itu pada istrinya.
"Ya, boleh buat makan anak-anak di rumah." Violet merasa senang karena masakannya disukai.
Hari semakin siang, pelanggan Violet semakin banyak. "Maaf, Pak, Bu. Satu-satu ya! Tangan saya cuma dua," kata Violet.
"Cari asisten, Mbak," usul salah seorang pelanggan.
__ADS_1
"Saya baru buka hari ini, Bu. Saya nggak tahu kalau akan seramai ini," jawab Violet.
Hingga makanan habis, masih banyak pelanggan yang mengantri. "Maaf ya semuanya, lauknya sudah habis. Kembali lagi besok ya!" Semua orang pulang dalam keadaan kecewa.
Violet akhirnya bisa bernafas lega. Dia duduk di dalam warung seorang diri. "Ampun dagh pinggangku," keluh Violet yang merasa pinggangnya sakit karena kelamaan berdiri.
"Lauknya masih ada nggak, Mbak?" tanya seorang laki-laki yang berdiri di depan warung Violet.
Violet mendongak. Dia merasa ketakutan ketika melihat pria berjas hitam itu. 'Hah, jangan-jangan dia orang suruhan mami,' batin Violet dengan sikap waspada. Dia mengira laki-laki itu dibayar untuk menyeretnya kembali ke rumah bordil di mana orang tua angkatnya menitipkan dia untuk dijual.
Violet mengambil sapu lidi lalu memukul laki-laki itu. "Pergi! Pergi kamu!"
"Mbak, apa-apaan ini?" Pria yang berprofesi sebagai supir pribadi itu pun mengerang kesakitan.
"Tidak usah berpura-pura. Kamu orang suruhan mami kan?" tuduh Violet.
"Mami siapa?" tanya pria itu. Lagi-lagi Violet memukul pria itu hingga laki-laki yang berada di dalam mobil turun dan menghentikan Violet.
"Berhenti gadis bodoh!" umpat pria yang bertubuh tinggi besar itu. Dia menangkap gagang sapu yang dipegang oleh Violet.
Laki-laki itu dan Violet saling menatap tajam seolah ada kilatan cahaya di antara keduanya. Namun, semakin dalam laki-laki itu menatap mata Violet, dia malah merasa ada yang aneh. Dia mengalihkan pandangannya lalu melepas sapu itu.
Violet yang tidak siap jadi terjatuh. Untung saja, pria berparas tampan itu menangkapnya. Jantung Violet berdebar kencang. Dia buru-buru melepas pegangan tangan pria itu.
"Rupanya orang-orang yang tidak penting," gumam Violet.
"Tunggu!" Violet menghentikan langkahnya.
"Apa Anda ingin saya meminta maaf? Baiklah, saya salah telah mengira kalian orang jahat. Saya minta maa," ucap Violet.
"Bukan, aku ingin kamu menikah denganku," ucap laki-laki itu.
"Menikah? Dasar sinting!" umpat Violet. Sangat tidak masuk akal ada laki-laki yang baru pertama kali bertemu langsung minta dinikahi.
"Aku serius. Jadilah ibu dari anak-anakku," imbuhnya.
__ADS_1
"Orang gila!" Violet membanting pintu rumahnya dengan keras.