
Ketika kebahagiaan yang kuharapkan semakin menjauh aku bagai bangkai yang berjalan. Jiwaku lenyap terbawa harapanku yang hilang. Violet
****
Plak
Suara tamparan yang keras menggema di seluruh ruangan yang berukuran dua kali tiga meter itu. Seorang wanita menampar pipi gadis yang sedang terikat di kursi.
"Dasar gadis tidak tahu diuntung!" umpat Mami Karla. Dia adalah ger*mo yang selama ini mencari keberadaan Violet.
Setelah sekian purnama mencari gadis itu, kini dia menemukannya. Mami Karla sudah menebus Violet dengan bayaran yang mahal. Uang itu dia serahkan pada ayah angkat Violet. Namun, saat Violet diminta melayani salah seorang pelanggan di sebuah bar milik Mami Karla, gadis itu kabur.
Sudah beberapa kali Mami Karla mencarinya, tapi setiap kali anak buah mereka ingin menangkap Violet, gadis itu berhasil kabur dan kembali menghilang. Violet memang gadis yang cerdik. Namun, rupanya hari ini dia sedang sial.
Ayah angkat Violet sendirilah yang menangkapnya di depan rumah kontrakan. Samsul, nama ayah angkat Violet itu diancam oleh Mami Karla untuk mengembalikan uang yang telah dia berikan. Samsul keberatan karena dia telah menggunakan uang itu untuk menebus sawah yang dia gadaikan.
Tidak pendek akal, Mami Karla mengancam akan menjual istri Samsul jika dia sampai tidak bisa menemukan Violet. Mau tak mau, Samsul mencari keberadaan Violet hingga ketemu.
Violet hanya pasrah pada nasibnya. Sudut bibirnya berdarah akibat tamparan yang begitu keras di pipi sebelah kirinya. Violet memejamkan mata dan mendesis ketika dia merasakan sakit.
Mami Karla mencengkeram dagu Violet. "Kamu tidak bisa kabur lagi," ucapnya penuh penekanan lalu dia membuang wajah Violet.
'Baru saja aku menemukan secercah harapan untuk menemukan keluargaku kembali. Namun, dalam satu kedipan mata harapan itu lenyap seketika.'
Violet meneteskan air mata. "Tidak usah menangis! Aku tidak akan iba pada air mata buayamu itu," bentak Mami Karla. Dia mengibaskan kipas yang selalu ada di tangannya.
__ADS_1
Violet tak menjawab. Tenggorokannya kering hingga bibirnya mengerut tapi orang-orang itu tak memberinya minum. Tubuhnya lemas karena kurang cairan. Sudah dua hari mereka menyekapnya tapi tidak satu suap nasi pun mereka berikan.
Mata Violet mulai sayu dan hampir saja terpejam. Namun, seseorang menyiram air dalam jumlah banyak ke tubuhnya. Violet hampir saja tidak bisa bernafas karena hidungnya kemasukan air. Dia pun terbatuk dan matanya tidak dapat terpejam. Sungguh Mami Karla sangat kejam dalam menyiksanya.
Lama kelamaan tubuh Violet menggigil. Bibirnya berubah biru. Violet semakin lemas hingga kesadarannya hilang. Namun, sayup-sayup dia mendengar suara seseorang memanggilnya sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
"Violet, Violet." Justin memanggil calon istrinya itu. Tak pikir panjang Justin pun melepas ikatan Violet dan segera menggendongnya.
Dia berhasil menemukan Violet di sebuah gudang yang ada di belakang bar milik Mami Karla. Justin menyuruh Rian dan anak buahnya untuk mencari keberadaan Violet dengan bantuan anak buahnya.
Rian merupakan mantan narapidana yang diangkat oleh Justin sebagai sopir pribadi sekaligus bodyguardnya. Di dalam dunia bisnis yang kejam tak jarang lawan bisnis Justin menggunakan cara yang licik untuk melenyapkan musuh-musuhnya. Justin sendiri pernah mengalami hal buruk sehingga dia memutuskan untuk mempekerjakan seorang yang pandai beladiri. Kemudian salah seorang temannya mengenalkan dia pada Rian.
"Rian, hubungi polisi! Jebloskan mereka semua ke dalam penjara karena mereka telah menyiksa calon istriku!" perintah Justin dengan nada dingin.
Sehari sebelumnya, Justin masih menanti kabar dari anak buah Rian. Namun, belum membuahkan hasil.
Justin tetap menghadiri undangan makan siang itu walau tanpa Violet. Adli datang bersama Jingga. "Lho Pak Justin tidak mengajak pasangannya?" tanya Adli.
Justin menggeleng. "Maaf, dia sedang berhalangan," jawab Justin dengan senyum yang dipaksakan.
"Kenalkan ini istri saya, Jingga," ucap Adli. Seketika Justin mengingat nama orang tua Violet. Karena tidak banyak orang yang menggunakan nama yang unik seperti itu.
"Nama pasangan saya Violet. Violet Putri Prameswari. Apa Anda mengenalnya?" tanya Justin dengan ragu.
Jingga dan Adli sama-sama terkejut. Bagaimana bisa Justin menemukan putri mereka yang telah hilang selama belasan tahun itu, pikir pasangan suami istri tersebut.
__ADS_1
Jingga meneteskan air mata. "Benarkah yang kamu katakan itu? Bagaimana mungkin dia bisa bersama Anda? Kami sudah mencarinya sampai putus asa tapi tidak ada satu petunjuk yang kami temukan," ucap Jingga dengan nada bergetar.
Justin merasa bersyukur. Dia merasa Tuhan selalu melancarkan usahanya. Tanpa diminta, orang tua Violet datang dengan sendirinya. "Ceritanya panjang. Akan tetapi, sehari yang lalu sekelompok orang menculik dia. Saya belum mendapatkan kabar dari anak buah saya," ungkap Justin. Jingga dan Adli sedih ketika mendengarnya.
Sesaat kemudian Rian datang untuk melapor. Dia berbisik ke telinga Justin ketika menyampaikan kabar yang dia terima. Justin berdiri setelah mendengar informasi dari Rian. "Pak Adli, Bu Jingga, saya pergi dulu. Anak buah saya baru saja menemukan lokasi Violet berada," pamit Justin.
Adli berdiri. "Nak, tolong selamatkan anak kami!" pinta Adli penuh harap. Justin mengangguk paham. Dia keluar dari restoran itu diikuti oleh Rian yang selalu di belakangnya.
Justin, Rian dan beberapa anak buahnya menghentikan mobil di sebuah bar yang jauh dari pusat kota. Rian dan anak buahnya mengobrak-abrik isi bar itu untuk mencari keberadaan Violet.
Setelah berhasil mendapatkan informasi, Justin masuk ke sebuah gudang yang berada di bagian belakang gedung tersebut. Gelap, saat ruangan itu dibuka. Rian pun mencari saklar lampu di ruangan itu.
Justin terkejut ketika melihat seorang wanita yang duduk dalam posisi terikat. Badannya basah kuyup dan tubuhnya menggigil.
"Violet, Violet." Justin memanggil Violet tapi dia sedang pingsan. Justin pun membawanya ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit terdekat, Violet dirawat di ruang UGD sementara waktu. Dokter yang memeriksa Violet keluar dari ruangan setelah memeriksanya.
"Bagaimana kondisi calon istri saya?" tanya Justin.
"Tubuhnya mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi. Kami harus merawatnya beberapa hari di sini agar kondisinya lebih stabil."
"Bisakah dia dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar? Kebetulan rumah sakit ini sangat jauh dengan rumah kami," ungkap Justin dengan jujur.
"Bisa saja, Pak. Silakan urus di bagian administrasi untuk proses kepindahan pasien." Justin mengangguk paham.
__ADS_1
Violet pun dipindahkan ke rumah sakit yang jaraknya lebih dekat dengan rumah Justin. Hal itu dia lakukan agar orang tua Violet bisa menengok anaknya. Begitu juga dengan Sabrina, anak kecil itu pasti akan senang jika bisa melihat wanita yang sudah dianggap ibunya itu.