
Aku tulis maraton kalian harus tinggalin jejak ya 😘 harap maklum kalau ada typo.
...***...
Fabian merasa kewalahan mengurus ibunya seorang diri. Oleh karena itu, dia menyewa jasa orang yang sudah terlatih. Dia meminta bantuan papanya untuk mencarikan orang yang bisa mengurus ibunya.
"Jadi nama kamu Melati?" tanya Fabian saat membaca CV gadis berparas teduh itu. Fabian saja tidak berani menatap Melati. Dia terlalu anggun di mata Fabian.
'Usianya masih sangat muda,' batin Fabian.
"Pak, kapan saya bisa mulai bekerja?" tanya Melati antusias. Jujur ini adalah kali pertama baginya mendapatkan pekerjaan setelah lulus dari kursus yang dia ikuti.
Fabian berdehem. "Besok kemasi barang-barang kamu dari rumah. Kamu harus tinggal di sini bersama orang tuaku selama dua puluh empat jam. Jika kamu keberatan, kamu bisa bilang pada saya dan mengundurkan diri," ucap Fabian dengan nada tegas. Dia ingin mengetahui reaksi Melati apabila diberi peraturan semacam itu.
"Tidak masalah, Pak. Lagi pula saya tidak punya tempat tinggal. Tinggal dan bekerja di rumah sebesar ini adalah impian saya," jawab Melati. Fabian merasa gadis yang berdiri di hadapannya saat ini sangat berbeda. Dia begitu bersemangat walau Fabian sedikit memberikan ancaman.
"Baiklah, saya suka cara kamu menghadapi saya. Jika kamu tidak mengerti selama kamu bekerja kamu bisa bertanya pada saya atau asisten saya." Fabian menunjuk Imam. Imam mengangguk hormat pada Melati.
"Baik, Pak. Senang bisa bekerja sama dengan Anda," ucap Melati seraya mengulurkan tangan. Fabian dan Imam saling pandang karena terkejut dengan reaksi Melati. Namun, sesaat kendur Fabian membalas uluran tangan Melati. Jantungnya berdebar ketika memegang tangan gadis itu. Lembut dan begitu menenangkan.
Imam membuyarkan lamunan atasannya. Dia berdehem sedikit keras agar Fabian melepas tangan Melati yang sudah digenggam begitu lama. "Ah, maaf," ucap Fabian merasa tidak enak pada Melati.
"Iya, tidak apa-apa, Pak," jawab Melati malu-malu. Jujur dia baru melihat lelaki setampan dan segagah Fabian. Kalau nasibnya lebih beruntung dia berharap akan mendapatkan jodoh seperti calon majikannya itu.
"Kayaknya ada yang naksir daun muda nih?" sindir Imam menggoda atasannya.
"Kapan kamu bisa lebih sopan denganku?" cibir Fabian.
__ADS_1
"Alah biasa aja. Gue juga lelaki. Naluri ketika lihat cewek cakep itu gue udah paham," ucap Imam. Fabian melempar polpen ke arah bawahannya tersebut.
"Sialan lo! Gue belum cerai sama Lidia," ucap Fabian sambil memutar kursi kebesarannya.
"Seenggaknya lo cari aja cadangan supaya ketika elo udah resmi cerai sama Lidia, elo udah dapat penggantinya."
Fabian tersenyum sinis. "Gue nggak nyangka pernikahan gue akan berakhir tragis seperti ini."
Imam menepuk bahu sahabatnya itu. "Pasti ada hikmah di balik semua kejadian yang elo alami. Mungkin bersama wanita lain, elo juga bisa dapat keturunan." Fabian menatap tajam ke arah Imam.
"Sorry, gue tahu elo sedih sejak Violet hilang, tapi sampai kapan elo akan tenggelam seperti ini? Perusahaan ini masih butuh elo. Pikirkan karyawan yang bekerja di bawah pimpinan lo. Mereka menghidupi banyak nyawa."
Fabian menghela nafas. Omongan Imam ada benarnya juga. "Makasih udah ngingetin gue. Dari dulu meski elo suka ceramah, tapi elo ngasih solusi ke gue. Thanks, Bro." Fabian merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Imam. Saat ini hanya kepada dialah Fabian bisa berbagi kesedihannya.
Di tempat lain, Lidia yang telah berhari-hari tinggal di rumah Diva mengeluh capek karena jarak rumah Diva dengan kantor tempat dia bekerja lumayan jauh. Dia harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat ke kantor.
"Udah balikan aja sama suami kamu!" usul temannya.
Lidia menghela nafas. "Aku dan Mas Fabian sepertinya akan berakhir di persidangan. Walaupun dia belum menjatuhkan talak padaku, tapi dilihat dari sikapnya dia sangat ingin menceraikan aku."
"Apa kamu ada salah sama dia? Kenapa kalian yang selama ini terlihat harmonis tiba-tiba berantem hebat? Apa masalah anak?" tanya temannya lebih lanjut. Namun, Lidia tidak mau berbagi cerita pada temannya itu.
"Maaf, aku harus menyelesaikan laporan ini sebelum Pak Pram memintanya," elak Lidia. Dia pun kembali fokus pada layar komputernya.
Usai jam kerja, Lidia terkejut ketika suami Diva tengah menunggu di parkiran mobil. "Aku sudah menunggu cukup lama di sini," kata laki-laki itu. Mereka terlihat cukup akrab, tapi Lidia merasa tidak nyaman.
Dia buru-buru masuk ke dalam mobil agar tidak seorang pun melihatnya. Suami Diva juga masuk ke dalam mobil yang sama. "Kamu gila ya? Kenapa nekad menyusul aku ke kantor? Bagaimana kalau ada yang lihat?" Lidia jadi stres memikirkannya. Dia hampir saja mati mendadak ketika melihat adik iparnya itu berdiri di depan mobil miliknya.
__ADS_1
Laki-laki bernama Andre itu terkekeh melihat sikap Lidia yang panik. "Tenang saja! Tidak ada yang mengenali aku jadi kamu jangan khawatir," ucapnya penuh percaya diri.
"Aku jadi merasa bersalah pada Diva," ucap Lidia. Dia sudah menjalin hubungan dengan suami adiknya itu setelah beberapa hari tinggal di sana. Hingga saat ini Lidia belum juga pindah dari rumah adiknya karena alasan uangnya yang belum cukup untuk membeli apartemen.
"Kenapa kamu merasa bersalah? Aku hanya memberi kamu sedikit kasih sayang. Sedangkan pada dia, aku memberinya lebih banyak. Apakah aku harus memberimu lebih banyak kasih sayang dibanding adikmu?" goda Andre pada Lidia. Wanita itu memukul lengan Andre.
"Jangan becanda melulu," ucap Lidia menanggapi tingkah Andre. Lidia belum pernah merasakan hidup sesantai ini. Ketika masih bersama Fabian, yang dia rasakan hanya menjaga perasaan pasangan. Sungguh kaku dan datar karena Fabian mencintai Lidia terlalu dalam hingga Lidia susah bernafas. Setiap gerakannya akan berujung tidak enak dan rasa bersalah.
Kemudian mereka menghentikan mobil di depan restoran. Niat hati ingin makan dan bersantai di sore hari, tapi apa daya ternyata Diva tengah berada di sana bersama teman-temannya.
"Bagaimana ini? Ada Diva, haruskah kita turun?" tanya Lidia.
"Turun saja. Aku punya alasan yang bisa membuat dia percaya pada kita," ucap Andre penuh percaya diri. Sapalah dia lebih dulu agar kita terkesan tidak menutup-nutupi hubungan." Setelah itu Andre membisikkan rencananya yang lain. Lidia mengangguk paham.
"Ingat! Lakukan sesuai rencana," ucap Andre seraya mengusap bibir Lidia dengan satu jarinya. Mereka belum berciuman. Andre hanya menggoda Lidia sedikit.
"Diva," panggil Lidia. Diva menoleh.
"Lho kalian kok bisa barengan?" tanya Diva.
"Tadi, aku tidak sengaja melihat Andre di jalan. Bannya kempes," ucap Lidia lalu disusul oleh Andre.
"Aku lupa bawa ban serep, Yang. Jadi aku membawa mobilku ke bengkel," sahut Andre. Keduanya saling bertukar pandang setelah itu.
Andre mendekat ke arah istrinya. "Karena kamu ada di sini. Nanti kita pulang bareng ya," bujuk Andre.
"Cie-cie," ledek teman-teman Diva yang iri melihat kemesraan palsu yang ditunjukkan oleh Andre. Padahal Diva sudah sangat malu dan wajahnya memerah. Sedangkan Lidia menatap tidak suka ketika melihat keduanya bahagia di depan orang lain.
__ADS_1