
Adli pulang ke rumahnya untuk memberi tahu sang ayah jika dia ingin melamar Jingga secara resmi. "Apa kamu yakin?" tanya Pak Helmi.
Pasalnya Pak Helmi tahu status Jingga saat ini adalah janda beranak satu. "Pa, aku sudah lama menantikan kesempatan ini. Bagaimana tidak yakin?"
"Kalau begitu tanyakan di mana alamat keluarga Jingga? Papa akan merestui kamu jika orang tuanya juga merestui hubungan kalian," jawab Pak Helmi.
Adli pun memberi kabar pada Jingga melalui sambungan telepon. "Hallo, sayang. Ini Mas Adli. Papa memintaku untuk menanyakan alamat orang tua kamu," ujar Adli melalui sambungan telepon.
"Orang tuaku telah berpisah, Mas." Kini Jingga pun mengubah panggilannya.
"Lalu kita harus menemui siapa? Ayah atau ibumu?" tanya Adli.
"Ibuku sudah punya keluarga baru. Ayahku entah ke mana aku tidak tahu. Terakhir kami bertemu ketika aku masih remaja," jawab Jingga.
Ucapan Jingga membuat Adli pusing. "Ya sudah nanti akan aku pikirkan solusinya. Istirahatlah!" ucap Adli sebelum menutup sambungan telepon.
Adli menyugar rambutnya ke belakang. "Hoi, Bang. Kayaknya elo lagi pikiran berat?" tanya Rizky seraya menepuk bahu Adli.
"Gue mau lamar Jingga," ucapnya memberi tahu Rizky. Rizky terkejut. Pasalnya dia salah satu orang yang juga naksir Jingga.
"Weits main lamar aja. Emangnya elo udah ketemu sama orangnya?" ledek Rizky. Dia tidak tahu kalau Adli sudah beberapa kali datang ke rumah Jingga.
"Sudah, dia yang ingin aku lamar," ucapnya sedikit angkuh.
"Yang bener lo, Bang?" tanya Rizky tak percaya pada omongan abangnya.
"Beneran. Ini gue lagi pusing soalnya orang tua Jingga nggak tahu di mana," ungkap Adli.
Dada Rizky terasa sesak. Akan tetapi dia bukan lelaki yang suka merebut wanita yang telah menjadi kekasih orang lain. Apalagi yang menjadi kekasih Jingga kali ini adalah saudara kandungnya sendiri.
"Apa yang bisa gue bantu?" Rizky menawarkan diri. Adli mendongak heran. Pasalnya beberapa saat yang lalu dia masih bersemangat untuk menjadi calon pasangan Jingga.
__ADS_1
"Elo beneran mau bantu?" tanya Adli memastikan. Rizky mengangguk.
"Bukannya elo pernah kerja bareng Jingga? Bukankah elo bisa cari tahu melalui curiculum vitae miliknya," usul Adli.
"Lo nyuruh gue curi data sekolah, Bang? Kriminal lo!" tunjuk Rizky.
"Ck, be*go. Elo minta baik-baik datanya sama TU." Adli menoyor kepala Rizky. Dia hanya manggut-manggut. "Oke, akan aku usahakan." Rizky berjanji pada Adli.
Ketika berada di sekolah, Rizky meminta data Jingga dari petugas TU, tapi dia tidak bisa memberikan data itu tanpa persetujuan April. Rizky pun melapor pada Adli. Adli tak pendek akal. Dia menghampiri Jingga. Dia menanyakan secara detail tentang keluarganya.
"Mas Adli yakin ingin mencari keberadaan keluargaku?" tanya Jingga.
"Kita tidak punya pilihan. Papa hanya akan merestui kita kalau keluargamu ditemukan," tutur Adli.
"Aku selalu menyimpan foto keluargaku. Aku masih berharap kami bisa bersatu. Sebentar aku ambilkan," kata Jingga. Adli pun mengangguk. Sambil menunggu dia mengajak Violet becanda.
Sesaat kemudian Jingga memberikan sebuah foto pada Adli. "Hanya ini yang aku punya. Aku tidak memiliki foto terbaru mereka," kata Jingga.
Adli meminta bantuan temannya untuk menemukan keberadaan ayah dan ibu Jingga.
Di tempat lain, Lidia sedang dirawat di rumah sakit karena dia mengeluh sakit perut. Sejak semalam Fabian menunggui Lidia. "Dok, kenapa istri saya masih mengeluh sakit?" tanya Fabian cemas.
"Setelah kami periksa janin yang ada di dalam kandungan Ibu Lidia tidak berkembang. Sebaiknya janinnya dikeluarkan saja karena akan sangat berbahaya bagi keselamatan ibunya."
Fabian mengusap wajahnya kasar. Keinginannya mendapatkan anak dari rahim Lidia nyatanya tak semulus ketika dia mendapatkan anak dari Jingga. Bahkan kini dokter menyarankan agar istrinya itu menggugurkan kandungannya.
Lidia juga syok. Setelah sekian lama dia menantikan anak, harapannya kembali pupus karena janinnya harus dikeluarkan. "Aku tidak mau menggugurkan kandungan ini," teriak Lidia histeris.
Fabian memeluk istrinya agar lebih tenang. "Kami beri waktu pada kalian. Secepatnya janin harus dikeluarkan sebelum janinnya membusuk di dalam perut."
"Baik, Dok," jawab Fabian pasrah. Dia akan membujuk Lidia agar mau menjalani operasi sesar untuk mengeluarkan janinnya.
__ADS_1
"Sayang, kita bisa punya anak lagi nanti. Kamu sudah berusaha menjaga anak kita. Jadi sebaiknya kamu relakan dia," tutur Fabian dengan lembut.
Lidia masih menangis di pelukan suaminya. 'Apa ini karma karena telah membuang Jingga?' gumam Lidia di dalam hati.
"Kita bersalah pada Jingga, Mas. Kita mendapatkan hukuman karena telah menyia-nyiakan dia," ucap Lidia di sela-sela tangisannya.
"Hei, itu tidak ada hubungannya. Kondisi tubuh kamu hanya kirang sehat itu saja," elak Fabian. Dia tidak mau membicarakan Jingga lagi.
"Sayang, kamu beristirahatlah. Aku akan keluar sebentar. Pikirkan tawaran dokter. Nyawa kamu lebih penting." Fabian keluar dari kamar Lidia.
Dia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Fabian pun pergi ke klub malam. Sudah lama dia tidak mabuk semenjak kejadian yang membuatnya harus menikahi Jingga.
Di sana dia bertemu Axel. "Long time no see, Bro," sapa Axel.
"Gue kira lo udah mam*pus," cibir Fabian. Jujur ada rasa tidak suka melihat wajah Axel di hadapannya.
Axel tertawa. "Mau gue traktir minum? Ini sebagai permintaan maaf gue karena pernah buat elo celaka," ujar laki-laki yang merupakan sahabat Fabian itu.
Fabian tak menolak. Dia memang butuh pelampiasan. "Lo ada masalah apa?" tanya Axel. Dia sebenarnya takut bertemu dengan Fabian tapi dilihat dari kondisinya saat ini laki-laki itu pasti tidak tertarik untuk meladeninya.
"Bukan urusan lo," jawab Fabian ketus. Axel mengulas senyum dia memiliki ide untuk membuat Fabian mabuk berat malam ini. Axel pun menyuruh bartender untuk memberi minuman dengan kadar alkohol yang tinggi.
"Sekarang lo mau cerita sama gue?" Axel kembali bertanya.
"Gue bakal kehilangan anak gue," jawab Fabian dalam keadaan mabuk.
"Bukannya Jingga udah melahirkan." Axel hanya menduga. Fabian menggeleng.
"Anak gue sama Lidia. Dokter minta dia gugurin kandungnya," racau Fabian. Dia berkata setengah tertawa setengah menangis. Rasanya berat kehilangan anak yang telah lama dinantikannya.
Axel pun memiliki ide untuk mengerjai Fabian.
__ADS_1
Kira-kira apa idenya Axel ya?